Buku
November 12, 2009 – 16:13
GERAKAN KEBEBASAN SIPIL
Studi dan Advokasi Kritis atas Perda Syari’ah
Editor: Ihsan Ali-Fauzi & Saiful Mujani
Buku ini mencoba memotret sebuah proses pendalaman demokrasi dan penghormatan terhadap hak-hak asasi yang terjadi di tanah air kita. Terekam disini suatu dinamika dimana perda-perda bernuansa syari’ah yang dianggap mengancam kebebasan sipil dipelajari secara seksama, didiskusikan secara bersama berbagai kelompok masyarakat sipil dari berbagai latar belakang, dan yang kesepaktan apapun yang mengenainya dari sini disampaikan kepada pejabat publik yang bertanggungjawab atas keluar dan dilaksanakanya perda-perda itu – suatu proses yang bernilai pada dirinya sendiri. Tersaji juga disini liputan media massa mengenainya dan polemik yang berkembang karenanya. Buku ini merekam sebuah model partisipasi politik warga negara yang mungkin bias dijadikan contoh bagaimana kita bisa menyelesaikan perbedan pendapat, bahkan konflik kepentingan, secara berdamai, bermartabat, dan beradab.
Artikel
November 11, 2009 – 13:02
Ihsan Ali-Fauzi,
SALAH SEORANG PENGURUS PARAMADINA
Di prospektus Yayasan Paramadina, ada foto Nurcholish Madjid (Cak Nur/almarhum) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdampingan. Foto itu diambil pada 2004 ketika mereka meluncurkan Indonesia Kita, buku Cak Nur terakhir, terbitan Gramedia. Waktu itu Presiden SBY berjanji akan menjalankan 10 agenda reformasi yang dikemukakan Cak Nur dalam buku itu.
Mungkin kini kami di Yayasan Paramadina harus menulis prospektus baru. Atau setidaknya mencopot dan mengganti foto di atas. Itu karena komitmen SBY memberantas korupsi makin perlu kita pertanyakan belakangan ini. Episode terbarunya melibatkan nama Cak Nur, yang bisa merusak reputasinya, dan kampanye anti-korupsi, kolusi, dan nepotisme di Tanah Air.
Baca selengkapnya »
Agenda
October 20, 2009 – 07:47
Yayasan Paramadina menyelenggarakan Nurcholish Madjid Memorial Lecutre III. Acara ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal:
Rabu, 21 Oktober 2009
Waktu:
Pukul 18.00—22.00 WIB (diawali makan malam)
Tempat:
Aula Nurcholish Madjid, Univeritas Paramadina, Jakarta
Pembicara:
Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif
Tema:
"Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia"
Peluncuran buku:
"Sekularisasi Ditinjau Kembali: Agama dan Politik di Dunia Dewasa ini" karya Pippa Norris dan Ronald Inglehart.
Dapatkan discount 40% untuk pembelian buku di tempat acara. Silahkan baca sinopsisnya… Informasi ini juga ditampilkan di situs Forum Muda Paramadina.
Artikel
October 20, 2009 – 07:42
SINOPSIS
Para pemikir sosial abad ke-19, semisal Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, dan Sigmund Freud, memprediksi agama akan memudar dan mengalami disfungsi dalam masyarakat industri. Sepanjang abad ke-20, keyakinan agama lenyap dan digantikan kearifan konvensional dalam ilmu pengetahuan. Inilah inti teori sekularisasi yang sangat dominan di dunia modern.
Namun, beberapa dekade terakhir, tesis redupnya pesona agama ini kian mendapati kritik. Kenyataannya, agama saat ini tidak benar-benar mati dan tidak pula kehilangan sisi pentingnya. Hal ini tampak dari kian menguatnya religiusitas di Amerika Serikat, munculnya spiritualitas New Age di Eropa Barat, maraknya gerakan fundamentalis dan partai keagamaan di dunia Muslim, serta menyeruaknya konflik etno-religius di kancah internasional.
Apakah sekularisasi sudah tamat? Jawabnya, tidak! Namun demikian, teori lama tentang sekularisasi mesti diuji kembali dan diperbarui. Dan, buku ini menyajikan kontroversi teori baru ihwal sekularisasi. Didukung fakta-fakta hasil survei World Values Survey terhadap hampir 80 masyarakat di seluruh dunia, karya ini penting bagi siapa pun yang tertarik pada isu-isu agama, sosial, opini publik, perilaku politik, psikologi sosial, hubungan internasional, dan perubahan budaya.
Baca selengkapnya »
Resensi
July 21, 2009 – 17:17
Demokrasi Indonesia di mata sejumlah pakar. Buku ini berisi perdebatan intelektual di ranah politik yang selama sepuluh tahun terakhir jarang kita dapati.
KETIKA politik jatuh menjadi semata-mata persaingan rutin mengejar kuasa dengan berbagai cara, demokrasi jadi nasib buruk yang tak dapat ditampik. Ulah para anggota DPR yang korup, politikus yang hanya berkhidmat kursi, dan partai-partai yang terlampau egoistis mengejar kepentingannya membuat harapan pada demokrasi jadi retak.
Baca selengkapnya »
Resensi
July 21, 2009 – 16:51
Moh. Shofan
Resensi buku GM ‘Demokrasi dan Kekecewaan’ yang dimuat di harian INDO POS, Minggu, 26 April 2009
Dalam prakteknya, demokrasi lebih sering berhenti dalam ‘pelembagaan formal’ dan belum hadir dalam realitas nyata. Dengan kata lain demokrasi hanya tumbuh dan berkembang dalam tataran ideal (das sollen) belum mewujud dalam tataran realitas. Melihat betapa korupnya para anggota DPR, tak jelasnya lagi alasan hidup partai-partai, kecuali untuk mendapatkan kursi, membuat Goenawan Mohamad (GM) sempat berpikir bahwa demokrasi mengandung disilusi dalam dirinya. Pernyataan Albert Camus, yang amat terkenal, “All that was is no more, all that will be is not yet, and all that is is not sufficient”, kiranya sangat relevan untuk menggambarkan kondisi bangsa saat ini.
Baca selengkapnya »
Artikel
July 21, 2009 – 16:41
Moh. Shofan
Peneliti Yayasan Paramadina Jakarta
Hampir pasti tiga pasangan segera mendeklarasikan diri untuk bertarung di Pilpres 8 Juli 2009. Majunya tiga pasangan capres-cawapres dalam Pemilu Presiden 2009 diyakini semakin menambah pilihan publik terhadap alternatif calon pemimpin bangsa. Dengan demikian, publik juga dapat membedakan satu kandidat dengan kandidat lainnya. Baik dari kualitas, kapabilitas, dan integritas masing-masing pasangan. Ada duet Jusuf Kalla-Wiranto, SBY-Boediono, dan Megawati-Prabowo. Ketiga pasangan capres maupun cawapres tersebut sama-sama dari latar belakang nasionalis-sekuler, meski sipil-militer masih berlaku di tiga kandidat tersebut.
Baca selengkapnya »
Riset
July 17, 2009 – 16:17
Sejak tahun 2008, salah satu program utama Yayasan Wakaf Paramadina (YWP) adalah “Pengarusutamaan Kebebasan Beragama” (religious freedom mainstreaming). Melalui program ini, kami hendak melanjutkan dan memperkuat apa yang sudah lama menjadi missi utama YWP, yakni memantapkan landasan dan mengembangkan lebih jauh wacana pluralisme di tanah air tercinta Indonesia. Seperti umum diketahui, sejak dibentuk antara lain oleh almarhum Nurcholish Madjid lebih dari dua dekade lalu (1986), YWP aktif mengadakan studi, diskusi, seminar dan penerbitan mengenai masalah ini.
Baca selengkapnya »