Lebih dari 1000 Hari Setelah Cak Nur Pergi

ade armando

Oleh Ade Armando

Sebuah Umat Yang Seharusnya Membawa Kedamaian

Pada 15 Maret 2008 lalu, diadakan peringatan ‘1000 hari wafatnya Cak Nur’. Mungkin Nurcholish Madjid sendiri tak akan terlalu suka kalau dirinya terus diperingati bak seorang santo. Tapi, dengan melihat Indonesia saat ini, tidak berlebihan bila para pengagumnya merasa perlu untuk mengenang terus pikiran-pikiran sang pembaharu penafsiran Islam ini.

Salah satu peringatan Cak Nur yang sangat relevan dengan kondisi saat ini adalah perlunya umat beragama untuk menemukan titik temu atau, dengan menggunakan istilah Al-Quran, kalimat-un sawa. Peringatan ini dilontarkan Cak Nur secara sangat jelas pada ceramah budayanya di Taman Ismail Marzuki, 21 Oktober 1992.

Ceramah ini, seperti biasa, dihujat oleh kelompok-kelompok konservatif, sampai saat ini. Akibat pernyataan-pernyataannya di situ, ia semakin dipercaya sebagai agen penyesat kaum Islam. Ia dianggap menyebarkan ajaran bahwa semua agama sama, bahwa perbedaan penafsiran dengan para ulama adalah hal biasa, bahwa kaum fundamentalis yang eksklusif adalah penyebab konflik dunia. Kaum pembencinya menunjuk ceramah di TIM itu sebagai bukti nyata bahwa Cak Nur adalah promotor utama wacana pluralisme ? yang dinyatakan sesat oleh MUI tahun lalu.

Bagaimanapun, tatkala sekarang di Indonesia ? sebagaimana di berbagai belahan dunia lain ? kaum muslim semakin banyak disudutkan sebagai ancaman bagi demokrasi dan perdamaian dunia, semakin nampak nyata elemen-elemen kebenaran peringatan Cak Nur itu. Kalau saja ia masih ada, hampir pasti ia akan berbicara dengan lantang dan jernih tentang berbagai kekerasan atas nama agama yang kini semakin kerap terdengar. Untungnya, warisan pemikirannya tetap terekam rapih untuk senantiasa bisa dijadikan rujukan untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Titik Temu

Terlepas dari segala macam fitnah yang dilontarkan para pembencinya, Cak Nur tidak anti Islam. Hanya saja ia sangat risau dengan kenyataan bahwa agama perlahan-lahan menjelma menjadi sesuatu yang justru membawa perpecahan dan konflik. Akibatnya tatkala di dunia terlihat adanya kebangkitan kembali antusiasme masyarakat modern terhadap agama, pada saat yang sama itu dibarengi dengan bukti-bukti tentang bagaimana agama dijadikan alasan untuk menghabisi pihak lain.

Bagi Cak Nur, yang menjadi sumber masalah tentu bukanlah ajaran agama itu sendiri, melainkan cara penafsiran keagamaan yang semakin sempit dan mengabaikan ajaran-ajaran dasar agama mengenai perdamaian, keberagaman, kasih sayang.

Ia melihat bahwa di dalam masyarakat beragama di seluruh dunia, tumbuh kelompok-kelompok eksklusif yang lazimnya merupakan gerakan dengan sistem pengorganisasian yang ketat, penuh disiplin, absolutistik dan kurang toleran kepada kelompok yang lain. Bila ini yang terus berkembang, jurang perpecahan akan terus menganga dan tak akan terjembatani untuk waktu yang lama.

Karena itu, Cak Nur mengkampanyekan perlunya usaha bersama lintas umat beragama untuk mencapai titik temu antar agama, yakni kalimat-un sawa (kalimat atau ajaran yang sama) antara semua kitab suci. Menurutnya, titik temu itu adalah ajaran Ketuhanan Yang maha Esa dan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan tiranik.

Ia mengutip Surat Al-Imran (3:64) yang menyatakan: “Wahai para pengikut kitab suci, marilah kita menuju pada kalimat-un sawa antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya kepada sesuatu apapun juga, dan sebagian kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai tuan-tuan selain dari Allah”.

Berdasarkan itu, Cak Nur mengecam mereka yang senantiasa membesar-besarkan perbedaan dan bukannya mengutamakan persamaan. Menurutnya, ada begitu banyak kesamaan antara ajaran Al-Quran dan Injil. Titik temu antar kedua agama besar itu tentu sangat luas karena keduanya berasal dari sumber yang sama. Celakanya, banyak pihak yang justru menonjolkan perbedaan yang memisahkan kedua agama besar itu.

Cak Nur berulang-ulang pengingatkan cara berkomunikasi yang sehat dan persuasif antar umat beragama. Kaum muslim dan pengeluk agama lain dianjurkan untuk saling belajar dan menarik hikmah. Ia senang sekali mengutip ayat Al-Quran yang menegaskan: “Janganlah kamu berbantah dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap yang zalim dari kalangan mereka.”

Bagi Cak Nur, pencarian titik temu itu tidak hanya dilakukan kepada umat Nasrani, melainkan semua penganut agama di dunia. Ia berulangkali mengingatkan bahwa Al-Quran dengan tegas melarang pemaksaan suatu agama kepada orang atau komunitas lain, karena akhirnya hanya Allah yang bakal mampu memberikan hidayah kepada seseorang, secara pribadi. Umat Islam hanya berkewajiban menyampaikan ? dan bukan memaksakan — kebenaran.

Spanyol Tiga Agama

Tentu saja sang profesor ini, tidak pernah asal bicara soal Islam. Ia bahkan lazim dianggap sebagai tokoh yang paling mendalam pengetahuannya tentang sejarah Islam. Dari situ, ia menunjukkan bahwa sikap keterbukaan dan inklusivisme adalah ciri khas masa kejayaan peradaban Islam. Para khalifah di negeri-negeri Muslim terdahulu tidak pernah memaksakan agama mereka, kecuali kepada kaum musyrik yang menyembah banyak tuhan dan dewa. Karena itu negeri-negeri Muslim adalah masyarakat majemuk. Contoh terbaiknya adalah masa kejayaan Islam di Spanyol yang disebut-sebut oleh sejarawan Max I. Dimont sebagai “Spanyol dari tiga agama”.

Di bawah kekuasaan Islam selama lima abad sejak 711, kaum Muslim, Yahudi dan Kristen hidup secara terbuka dan bahagia. Berbasiskan kerjasama itu, Spanyol di masa kemepimpinan Islam mencapai kemajuan peradaban yang gemilang. “Yang berkuasa memang Islam, yang mengambil inisiatif memang Islam, tapi yang mendukung kejayaan dan pola-pola budaya Islam itu adalah orang-orang Kristen, Yahudi dengan hak yang sama,” ujar Cak Nur dalam satu wawancara.

Salah satu bukti keterbukaan penguasa Muslim adalah bahwa setelah Muslim berkuasa berabad, mayoritas penduduk Spanyol tetap beragama Kristen. Para penguasa Muslim menunjukkan komitmen mereka pada keberagaman, pada pluralisme, yang sayangnya kemudian justru tak dilanjutkan oleh penguasa Katolik.

Contoh lain adalah ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah untuk menjadi pemimpin yang diharapkan dapat mengatasi konflik berkepanjangan antara kelompok-kelompok yang ada. Di sana, Nabi Muhammad memprakarsai Piagam Madinah yang memberikan landasan bagi terbentuknya sebuah federasi antara sembilan kelompok yang berbeda — delapan dari Madinah dan satu kelompok Muhajirrin (imigran) dari Quraisy.

Di dalam piagam itu diakui hak masing-masing anggota kelompok untuk hidup bersama secara damai sebagai satu umat, dan memberikan landasan umum yang disepakati semua pihak. Kelompok Yahudi misalnya diizinkan untuk mempertahankan tradisi keagamaan mereka sendiri tanpa campur tangan pihak lain..

Dengan catatan sejarah itu, Cak Nur mengajak umat Islam percaya pada sikap inklusif, sikap untuk membuka diri pada perbedaan di dalam tubuh Islam dan dengan mereka yang berada di luar Islam. “Ini tidak berarti bahwa semua agama benar,” katanya dalam sebuah wawancara. “Tetapi harus ada pengakuan akan hak bagi setiap agama untuk eksis dalam suatu hubungan sosial yang saling toleran, saling menghargai, saling membantu, dan menghormati.”

Tidak Ada Kebenaran Mutlak

Akibat gagasan-gagasannya, Cak Nur jadinya sering disalahpahami dan dianggap menyebarkan ajaran bahwa semua agama sama. Sebagai seorang muslim taat, ia tentu saja meyakini kebenaran Islam. Namun pada saat yang sama, tokoh yang dijuluki lokomotif pemikiran Islam ini menganggap tidaklah layak umat Islam merendahkan agama lain atau mereka yang memiliki keyakinan dan penafsiran berbeda.

Untuk itu, Cak Nur lazim mengutip ayat Al-Quran (2: 62) bahwa “semua penganut agama apapun, akan mendapat keselamatan, sejauh ia beriman pada Tuhan, adanya hari akhir, dan selalu berusaha untuk berbuat baik.”

Bagi Cak Nur, keberagaman harus dihargai karena itu adalah sunatullah. Ia merujuk pada ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa “manusia sengaja diciptakan dalam beragam kelompok etnis yang berbeda-beda dengan tujuan agar mereka saling mengenal satu sama lain serta saling menghormati” (49:13).

Masalahnya, hubungan harmonis ini kerap terhambat oleh sikap yang memutlakkan kebenaran sendiri. Orang-orang ini menganggap mereka telah mencapai kebenaran sejati dan karena itu tak dapat menerima kemungkinan bahwa ada banyak orang lain yang bisa tiba pada penafsiran yan berbeda. Bagi Cak Nur, para penganut paham absolutisme ini sebenarnya adalah orang-orang yang menuhankan dirinya. “Orang semacam itu tidak mungkin melihat adanya titik kesamaan, bahkan antar sesama penganut agamanya sendiri,” keluhnya.

Bagi Cak Nur, sikap pemutlakan semacam itu harus ditolak mengingat itu bertentangan dengan watak dasar Islam, yang secara umum memiliki ciri sebagai “jalan”. Tidak ada satu solusi yang bersifat final, “sekali dan untuk semua” bagi masalah yang dihadapi dalam kehidupan yang sellau bergerak dan berubah.

Jawaban islam tidak tunggal, melainkan senantiasa dinamis sesuai dengan
perkembangan sosial dan budaya yang dihadapi umat Islam. Bagi setiap masalah terdapat pemecahan yang khusus dan unik, tanpa menafikan adanya benang merah universal antara seluruh umat Islam di muka bumi.

Contoh ideal: Masyumi

Dalam hidupnya, Cak Nur tidak hanya berkiprah sebagai pemikir, namun juga sebagai aktivis politik. Dalam kaitan itu, Cak Nur senantiasa memuji para pemimpin Islam di Indonesia di masa awal-awal kemerdekaan yang menunjukkan sikap demokratis dan keterbukaan yang tinggi. “Orang Islam dulu lancar saja bergaul dengan orang-orang Kristen, Sosislis, Katolik dan sebagainya,” ujarnya suatu ketika. “Pergaulan politik tokoh Islam itu tidak hanya dengan NU, PSSI atau Perti. Mereka bahkan berinisiatif membentuk Liga Demokrasi bersama.”

Ia sangat mengagumi Masyumi yang menurutnya memberi contoh tentang suatu kemungkinan yang positif, bahwa pergaulan yang lebih produktif antar berbagai kelompok agama bisa diwujudkan. Lebih dari itu, sosok Masyumi yang ideal itu, menurut pandangan Cak Nur, merupakan perujudan pemahaman akan Islam yang memang sejak awal toleran.

Dalam sebuah wawancara, ia membantah anggapan bahwa sikap toleran umat Islam di Indonesia lebih diakibatkan oleh budaya asli masyarakat atau karena pengaruh Pancasila.
“Secara retorika politik, boleh saja orang mengatakan di Indonesia ada toleransi agama karena Pancasila,” ujarnya. “Tapi kalau kita pergi ke Timur Tengah, ke Mesir, Siria, Irak, mereka jauh terlatih untuk hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Di Siria itu sampai sekarang Islamnya hanya 80 persen. Artinya yang 20 persen itu bukan muslim, dan itu tidak pernah menjadi halangan.”

Karena itulah Cak Nur prihatin dengan menguatnya kecenderungan eksklusivisme dalam masyarakat muslim di Indonesia yang mulai mengemuka pada periode 1990an. “Sikap kelompok-kelompok yang mengklaim bahwa merekalah penganut paham Islam sebenarnya, dan kemudian bersikap keras terhadap kelompok lain yang melakukan penafsiran berbeda atau kepada kaum non-muslim, sebenarnya mencerminkan rendahnya percaya diri,” katanya .

Menurut Cak Nur, kecenderungan untuk bersikap eksklusif ini lahir antara lain akibat kegamangan sebagian masyarakat menghadapi perubahan yang begitu cepat. Perubahan ini membawa keucrigaan, kecemburuan, dan ketakutan. Pada dasarnya, banyak pihak yang mengalami disorientasi, yaitu tidak tahu lagi pandangan hidup yang benar. Mereka seperti terserat, merasa ditinggalkan, kehilangan haknya.

Suara-suara kecewa ini kalau bergabung akan menghasilkan retorika-retorika yang keras. “Kalau berkumpul akan menjadi sebuah kekuatan yang memandang orang lain sebagai musuh,” ujarnya. “Lahirlah gaya merasa paling suci, merasa paling benar, sebagai upaya menjaga keseimbangan psikologis.”

Hanif

Cak Nur menyadari sepenuhnya bahwa kondisi umat Islam memang masih jauh dari ideal. Ia juga mengakui bahwa umat Islam untuk waktu yang lama diperlakukan tidak adil. Namun ia juga kuatir bahwa obsesi sebagian umat Islam pada isu-isu konsolidasi ke dalam menghadapi dunia yang mengancam akan justru menjauhkan umat Islam dari jalan Allah.

Menurut Cak Nur, penyembahan kepada Tuhan haruslah berarti pencarian Kebenaran secara tulus dan murni, tanpa belenggu dan pembatasan yang kita ciptakan sendiri. “Pencarian Kebenaran yang tulus dan murni ini akan mustahil dilakukan dalam semangat komunal dan sektarian,” katanya. “Ia harus bebas dari setiap kemungkinan pengukungan ruhani.”

Menurut Cak Nur pula, pencarian akan Kebenaran dengan tulus dan murni ini yang dimaksudkan Al-Quran sebagai hanif, sikap alami manusia yang memihak kepada yang Benar dan Baik, sebagai kelanjutan dari fitrahnya yang bersih. Pencarian secara tulus ini dengan sendirinya menghasilkan sikap pasrah kepada Kebenaran.

“Nabi menegaskan bahwa sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah, yaitu semangat mencari Kebenaran yang lapang, tidak sempit, toleran, tanpa kefanatikan dan tidak membelenggu jiwa,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Hampir tiga tahun, Nurcholish Madjid meninggalkan dunia. Namun pikirannya-pikirannya yang cemerlang akan terus dibaca ulang oleh kaum muslim Indonesia, generasi demi generasi. Ia memang terus dihujat oleh mereka yang membencinya. Namun, sebagaimana yang selalu diyakini Cak Nur, orang-orang Indonesia bukanlah kumpulan orang-orang bodoh, melainkan orang-orang yang akan memihak kepada yang Benar dan Baik.

Kebenaran akan menempuh jalannya sendiri.

Sumber: Majalah Madina, Edisi 5, 2008