Maraknya kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia ini, baik atas nama suku-bangsa, agama, maupun ideologi, merupakan salah satu akibat dari menggerasnya politik identitas. Benturan antar-identitas ini hanya salah satu penyebab konflik, kekerasan, dan bahkan pertumpahan darah.

Politik Identitas dan Problem Kekerasan

[print_link]

Maraknya kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia ini, baik atas nama suku-bangsa, agama, maupun ideologi, merupakan salah satu akibat dari menggerasnya politik identitas. Benturan antar-identitas ini hanya salah satu penyebab konflik, kekerasan, dan bahkan pertumpahan darah.

Demikian inti dari diskusi buku Identity and Violence: The Illusion of Destiny karya Amartya Sen, yang diselenggarakan Forum Muda Paramadina, Jumat (23/03/2007) lalu, di Aula Yayasan Paramadina, Jakarta. Diskusi yang menghadirkan dua peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, yaitu Airlangga Pribadi dan Edwin Arifin ini, dihadiri oleh sekitar 25 mahasiswa dari berbagai kampus.

Dalam paparannya, Airlangga mengatakan bahwa buku Identity and Violence ini lahir dari refleksi Sen terhadap konflik yang berkepanjangan di India, antara Islam dan Hindu, yang banyak menumpahkan darah. Sen sepertinya ingin menegaskan bahwa kekerasan tak lain merupakan mistifikasi dari apa yang dinamakan dengan mono-identitas. Yang lain (the others) tidak dilihat sebagai bagian, melainkan musuh.

“Dualisme identitas ini memunculkan apa yang dinamakan politik kawan dan lawan. Padahal identitas itu tidak pernah tunggal, melainkan terdiri dari berbagai identitas, yang oleh Sen disebut multiple identity,” tuturnya.

Menutup pembicaraannya, Airlangga menanggapi isi buku Sen. Baginya, Sen kurang jeli dalam melihat persoalan kekerasan. Kekerasan, lanjutnya, tidak melulu disebabkan oleh masalah identitas, ia merupakan problem yang rumit dan kompleks. Sen juga abai dalam melihat relasi kuasa dan kontruksi dominasi politik yang terhubung dalam proses politik globalisasi.

“Kita memerlukan pemahaman yang luas dan mendasar terhadap berbagai relasi kuasa yang kemudian melahirkan kekerasan,” ujarnya.

Pada kesempatan selanjutnya, Edwin memaparkan lebih jauh konsep multiple identity. Baginya, dalam setiap diri seseorang itu terdapat berbagai macam identitas. Terkadang identitas-identitas itu berkompetisi satu sama lain.

Persoalannya, bagi Erwin, adalah manakah di antara identitas itu yang akan menjadi pilihan kita dan akan kita pakai. Pilihan identitas itulah yang akhirnya melahirkan inklusi dan ekslusi. Inklusi terhadap identitas yang sama, dan ekslusi terhadap yang berbeda.

“Dari sinilah kekerasan itu bisa muncul. Inklusi dan ekslusi ini, misalnya, adalah perdebatan antara mana yang pribumi dan yang non-pribumi,” ulasnya.

Untuk itu, lanjut Edwin, diperlukan dua hal, yaitu rasionalitas dan multikulturalisme. Dalam memilih identitas, kita mesti memakai rasionalitas, bukan berdasarkan perasaan dan sekehendak hati kita, yang kemudian diteguhkan oleh multikulturalisme atau apa yang disebut oleh Sen dengan cultural freedom. Sebuah kebebasan berpikir yang rasional dalam pemilihan identitas.

Di akhir paparannya, Edwin menegaskan bahwa identitas yang dibicarakan Sen lebih merupakan identitas politis dan kultural, identitas yang menjadi kepercayaan dan keyakinan bersama, bukan sesuatu yang terberi (taken for granted). Identitas-identitas itu sebetulnya lebih merupakan sesuatu yang dibayangkan, diproyeksikan, dan diperjuangkan oleh penganutnya daripada sesuatu yang terberi begitu saja. Sen sepertinya tidak berusaha menjelaskan sebab-musabab identitas dan kekerasan ini secara kronologis, tapi melihatnya sebagai post factum. Kekerasan langsung dianalisa Sen dan dihubungkan sebagai efek dari benturan identitas.

“Inilah juga yang menjadi salah satu persoalan pandangan Sen mengenai identitas,” pungkasnya. ***[Rifq]

Comments

comments