Kendala terbesar untuk melakukan kerjasama antara polisi dan tokoh agama terletak pada kepercayaan. Polisi seringkali mengabaikan peran masyarakat sipil dalam melaksanakan tugas, begitu juga masyarakat kurang mempercayai polisi saat bekerja. Demikian salah satu temuan dalam Workshop dan Fasilitasi bertema:?Peran Polisi dan Masyarakat dalam Mengatasi Kekerasan Keagamaan di Indonesia. Acara ini dilaksanakan pada hari Kamis-Jumat, 29-30 September 2011, di Hotel Santika, Surabaya.

Saling Percaya: Kunci Kerjasama Polisi-Masyarakat Sipil

[print_link]

Kendala terbesar untuk melakukan kerjasama antara polisi dan tokoh agama terletak pada kepercayaan. Polisi seringkali mengabaikan peran masyarakat sipil dalam melaksanakan tugas, begitu juga masyarakat kurang mempercayai polisi saat bekerja. Demikian salah satu temuan dalam Workshop dan Fasilitasi bertema:?Peran Polisi dan Masyarakat dalam Mengatasi Kekerasan Keagamaan di Indonesia. Acara ini dilaksanakan pada hari Kamis-Jumat, 29-30 September 2011, di Hotel Santika, Surabaya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Paramadina dan Megister Perdamaian dan Resolusi Konflik ini mengundang 30 orang dari berbagai unsur di Surabaya. Mereka mewakili lembaga kepolisian, lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemuda dan mahasiswa. Kegiatan ini didukung oleh The Asia Foundation. Sementara itu, Pusham (Pusat Studi HAM) Unair Surabaya membantu pelaksanaannya.

Muhammad Zainul Hamdi, salah satu peserta dari IAIN Sunan Ampel mengatakan bahwa kendala lainnya adalah manakala polisi lebih dekat terhadap kelompok radikal yang merusak daripada kelompok pro-Panacasila. Bila tujuannya adalah perdamaian dan keadilan sebagaimana tertera dalam Panacasila dan UUD 1945, maka sudah saatnya polisi mendefinisikan ulang siapa kawan dan siapa lawan. “Kegagalan merumuskan lawan, gagal pula kita menjaga dan memelihata kebhinnekaan sebagaimana semangat Pancasila,” ujarnya.

Hamdi juga menyatakan bahwa pertemuan tersebut baru kali pertama diadakan di Surabaya. Belum pernah LSM, tokoh agama dengan polisi bertemu kecuali dalam aksi demonstrasi. Kalaupun ada, pertemuan lebih banyak bersifat personal berupa kunjungan polisi ke masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, pertemuan ini amat penting untuk berbicara dari hati ke hati tanpa ada embel embel jabatan dan lembaga.

AKBP Timbul Suroso, atas nama Polda Jawa Timur, dalam sambutannya, mengatakan bahwa di wilayah Jawa Timur, polisi wajib mengunjungi masyarakat. Kapolres wajib bertemu dengan tokoh masyarakat atau agama minimal empat kali dalam satu bulan. Adapun Kapolsek wajib mengunjungi mereka tiga kali dalam satu minggu. Sehingga catatan mereka akan menjadi referensi untuk peran dan kerja kepolisian.

Hanya saja, Timbul mengakui, pertemuan formal semacam workshop ini memang belum pernah dilakukan. Ia berharap pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun kerjasama lebih baik ke depan. Dan, pertemuan tersebut menemukan formula bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik.

Selain kendala, para peserta juga mengidentifikasi prasyarat untuk membangun kerjasama. Pertama, komitmen terhadap penegakkan hukum. Kedua, dalam menangani kasus, polisi harus berperspektif korban. Ketiga, ada kehendak baik dari pemerintah kota untuk mendukung kerjasama polisi dan masyarakat dalam mengelola konflik agama di Surabaya. Dengan ketiga hal tersebut, masa depan Surabaya yang akan dan terkendali bisa dilakukan.

Agenda lain yang penting untuk meweujudkan keamanan di masyarakat adalah membuat peta kerawanan. Peta ini akan menjadi refensi untuk polisi dan masyarakat sebagai antisipasi dini. Upaya antisipasi tersebut melalui beberapa cara, di antaranya adalah silaturahmi dan mediasi jika konflik sudah mulai mengemuka.

Di akhir sesi, peserta menyepakati untuk membuat program bersama, khususnya melakukan pertemuan rutin untuk membahas dan membagi informasi seputar potensi dan gejala konflik agama di masyarakat. Pertemuan ini akan menjadi ajang silaturahmi polisi dan masyuarakat untuk masa depan Surabaya yang aman dan terkendali. Mereka menyepakati Pusham Unair yang akan mengelola forum di kemudian hari. (HM)

Comments

comments