Paramadina Harus Tetap Tawarkan Solusi untuk Krisis Kebangsaan

[print_link]

Paramadina Harus Tetap Tawarkan Solusi untuk Krisis Kebangsaan

Paramadina harus tetap memegang tegus visi serta misinya. Penggunaan nama “Paramadina” untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang bersifat politis-pragmatis dan transaksional adalah bentuk pengkhianatan yang paling besar. Dalam usianya yang ke-26 tahun ini, Paramadina dituntut untuk tetap bisa menawarkan solusi terhadap masalah-masalah kebangsaan dan kemanusiaan.

Hari ini Rabu (31/10), Yayasan Paramadina tepat berusia 26 tahun. Yayasan Paramadina menggelar syukuran Ulang Tahun ke-26 di Pondok Indah Plaza 1, Jakarta Selatan. Dalam kesempatan ini, Ketua Umum Yayasan Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini mengatakan bahwa Paramadina yang secara resmi lahir 31 Oktober 1986 di Jakarta telah benyak memberikan kontribusi positif bagi perjalanan bangsa. Meskipun demikian, usia 26 tahun masih termasuk belia untuk ukuran Paramadina yang mengusung cita-cita besar.

“Di tengah kondisi yang masih banyak tantangan dan masih banyak tugas yang harus ditunaikan untuk mencapai cita-cita Paramadina, keluarga besar Paramadina tetap bersyukur bahwa hingga perjalanan lebih dari seperempat abad ini, Paramadina masih berdiri tegak, konsisten dengan visi dan misi yang diusungnya,” papar Didik Rachbini yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN).

Visi Paramadina adalah “menjadi institusi unggulan berbasiskan etika-relijius untuk mewujudkan peradaban yang luhur”. Sedangkan misinya adalah “berperan aktif dalam pembangunan peradaban dengan azas toleransi terhadap pluralisme dan inklusivisme untuk kemajuan bangsa dalam kancah internasional”

Dalam mengemban visi dan misi itu, Paramadina tetap berpegang teguh pada sifat-sifatnya yang independen, terbuka, dan kultural. “Independen” artinya tidak berafiliasi dengan kekuatan politik mana pun; “terbuka” artinya Paramadina menjadi wahana tempat berkumpul berbagai kalangan yang bisa berdialog secara jujur, terbuka, dan demokratis;  serta “kultural” artinya semua kegiatan Paramadina tidak diorientasikan untuk kepentingan politik praktis, melainkan lebih diarahkan pada kerja-kerja yang produktif dan konstruktif bagi kemajuan kehidupan keagamaan, keindonesiaan/kebangsaan, dan kemanusiaan secara umum.

Berbagai krisis kemanusiaan yang terjadi di tanah air menjadi perhatian khusus Paramadina. Untuk menghadapi berbagai konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, terutama konflik antar suku dan agama, Paramadina merespon dengan mengintensifkan kajian, diskusi, dan dialog yang bertemakan perdamaian dengan mengajak berbagai pihak, termasuk aparat keamanan. Untuk berperan aktif mengatasi krisis moral yang antara lain ditandai dengan meningkatnya kasus kejahatan korupsi dan penyalahgunaan narkoba, Paramadina mengintensifkan kajian, diskusi, dan dialog tentang pemahaman agama yang luhur dalam ”Paket Studi Islam” dan program siaran “Belajar Islam” melalui televisi.

Selain itu, Paramadina juga berperan aktif melakukan pembinaan generasi muda dengan menggerakkan “Forum Muda Paramadina” yang menyelenggarakan berbagai program rutin dan tahunan. Program rutin seperti Reading in Social Sciences (RISOS), diskusi dan pemutaran film, dan program pengembangan Religious Tolerance (RETOL). Sedangkan program tahunan antara lain menyelenggarakan lomba esai dan pemberian penghargaan Ahmad Wahib Award.

Untuk tetap mengenang dan mengembangkan gagasan-gagasan pembaruan Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur),  setiap tahun Paramadina menggelar “Nurcholish Madjid Memorial Lecture” dengan menghadirkan pembicara yang mumpuni dari berbagai kalangan seperti Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif,  dan Dr. Karlina Supelli dengan mengusung tema-tema aktual sesuai perkembangan jaman. Sedangkan untuk melanjutkan program  Klub Kajian Agama (KKA) yang sudah berjalan sejak awal berdirinya Paramadina, telah dirancang program terpadu Civilization, Religion, and Everything (CORE) yang dikemas dengan memanfaatkan keunggulan teknologi multimedia.

Selain melakukan kajian, diskusi dan dialog, Paramadina juga berperan aktif di ranah praktis yang digerakkan oleh Lembaga-Lembaga Otonom Paramadina  yang kegiatannya antara lain mendirikan sekolah-sekolah gratis untuk anak usia dini (PAUD) di berbagai tempat; memberikan bantuan sarana dan prasarana pendidikan terutama di daerah-daerah yang terkena bencana alam;  pemberian makanan murah dan bergizi kepada masyarakat miskin; serta pemberian beasiswa kepada anak-anak pandai dari keluarga yang tidak mampu dari tingkat sedolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.

Dalam pengembangan pendidikan tinggi, Paramadina tetap berkomitmen menjadikan “Universitas Paramadina” sebagai kegiatan utama Yayasan di bidang pendidikan yang kompetitif dan bermutu. Baru-baru ini, 13 Oktober 2012, Universitas Paramadina telah menggelar wisuda sarjana baru tingkat S1 dan S2 dengan mengusung tema “Membangun Indonesia dengan Semangat Baru”.

Dengan tetap berpegang teguh pada visi dan misinya dalam menjalankan berbagai program yang konstruktif untuk membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang damai, sejahtera, berperadaban maju, terbuka, dan menghormati kebhinekaan, tentu keberadaan Paramadina akan tetap memberi manfaat yang nyata di tengah-tengah masyarakat.

Dengan berbagai pencapaian yang telah diraih hari ini, Paramadina patut diberikan apresiasi setinggi-tingginya. Tetapi bersamaan dengan itu, lembaga yang didirikan oleh Cak Nur ini tidak boleh puas.

Paramadina harus tetap memegang tegus visi serta misinya. Penggunaan nama “Paramadina” untuk kepentingan-kepentingan pribadi yang bersifat politis-pragmatis dan transaksional adalah bentuk pengkhianatan yang paling besar.

Dalam usianya yang ke-26 tahun ini, Paramadina dituntut untuk tetap bisa menawarkan solusi terhadap masalah-masalah kebangsaan dan kemanusiaan.

Sumber: PelitaOnline

 

Comments

comments