Ahmad Wahib, Anak Muda dan Toleransi

[print_link]

Ahmad Wahib, Anak Muda dan Toleransi

Oleh Ihsan Ali-Fauzi

Tuhan aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik….
— Ahmad Wahib (9 Juni 1969)

Saya menulis catatan ini sesudah mengantarkan Nicholaus Prasetya dan Arman Dhani diwawancarai KompasTV, yang diudarakan langsung Senin pagi (5 November 2012), mengenai penghargaan yang mereka terima dalam Sayembara Ahmad Wahib 2012. Karya mereka menjuarai kategori esai dan blog dalam sayembara itu, yang malam puncaknya berlangsung Jumat 2 November 2012 di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Ketika diwawancarai, mereka mengenakan kaos bertuliskan “Saya tidak mau jadi orang munafik, sok suci, dan semacam itu,” yang dicuplik dari Wahib.

Tema yang diangkat KompasTV sejalan dengan misi utama sayembara: “Anak Muda Bicara Toleransi.” Pada acara itu diputar pula cuplikan A Plur, video yang memenangi sayembara ini, yang disutradarai Ahmad Syadidul Fahmi.
Di ranah Twitter dan Facebook, beberapa komentar positif datang mengenai acara di atas, bersamaan dengan diudarakannya acara itu atau tak lama sesudahnya. Beberapa minta supaya link ke acara itu diberikan. Ada juga yang mohon supaya versi lengkap video A Plur, juga dua video juara lainnya, diunggah di YouTube sehingga bisa diakses siapa saja. Sebagiannya sudah dipenuhi, lainnya segeradilakukan.

Yang saya tulis di sini hanyalah sedikit resonansi paling akhir dari apa yang sudah kami coba lakukan selama ini dalam rangka menumbuhkan nilai-nilai toleransi. Di Yayasan Paramadina, yang 31 Oktober lalu berusia 26 tahun, tugas ini khususnya dijalankan Forum Muda Paramadina, dengan pelaku dan target utama anak-anak muda. Maka tak heran jika pendekatannya juga “berjiwa muda”, seperti diwakili malam puncak di Salihara dan wawancara di Kompas TV itu.

Bagi Paramadina, yang antara lain didirikan almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), menumbuhkan nilai-nilai toleransisudah menjadi tugas abadi. Sudah umum diketahui, salah satu slogan yang terkenal dari almarhum adalah “kesatuan Islam, keindonesiaan dan kemodernan,” yang antara lain tercermin dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (Mizan, 1988). Sebuah cita-cita yang menuntut toleransi di antara sesama warga negara, khususnya umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia.

Dibanding masa ketika almarhum Cak Nur masih bersama kita, saya percaya bahwa sekarang tantangan yang kami hadapi lebih berat. Ini karena data-data survei opini publik sekarang ini menunjukkan tingginya tingkat intoleransi rerata warga negara Indonesia yang, mayoritasnya Muslim. Bukan itu saja: data-data itu menunjukkan meningkatnya intoleransi di tahun-tahun sesudah jatuhnya Orde Baru (lihat kolom saya sebelum ini “Toleransi dan Keberagaman”).

Dulu, ketika almarhum Cak Nur masih hidup, kaum Muslim Indonesia dikenal dunia sebagai umat yang toleran. Islam Indonesia disebut sebagai “the smiling Islam,” Islam yang ramah. Apakah sekarang sudah berubah atau sesungguhnya citra di atas keliru, kita tak akan pernah tahu secara pasti. Ini karena tidak adanya data survei opini publik dari masa lalu, yang bisa kita bandingkan dengan data sekarang. Atau, jika dulu kita dikenal sebagai umat yang toleran, patut diduga jangan-jangan itu karena ekspresi intoleransi dilarang secara paksa oleh negara Orde Baru yang dikenal otoriter.

Apa pun keadaannya, yang pastinya memerlukan pembahasan sendiri, cukup jelas bahwa situasi sekarang berbeda sekali dari zaman Cak Nur. Karenanya, kami harus menanggapinya secara berbeda pula. Sayembara Ahmad Wahib 2012 mencerminkan salah satu tanggapan yang berbeda itu.

Lihatlah tokoh yang dijadikan icon dan temanya, “Inspirasi untuk Toleransi.”  Bagi yang belum tahu, Ahmad Wahib (1942-1973) adalah pemikir pembaharuan Islam yang wafat ketika masih sangat muda. Hingga saat catatan hariannya,Pergolakan Pemikiran Islam, diterbitkan pada 1981, dia hanya dikenal oleh kawan-kawan terdekatnya di Yogyakarta. Dia sering diperbandingkan dengan Soe Hoek Gie: selain segenerasi dan sama-sama mati muda, keduanya juga meninggalkan catatan harian yang memperlihatkan kegelisahan dan pencarian mereka sebagai anak muda. (Belakangan, catatan harian Soe Hoek Gie dijadikan dasar pembuatan film Gie yang terkenal.)

Catatan harian Wahib berisi renungan sosial-keagamaan yang mudah diakses anak-anak muda karena bahasanya yang langsung, terus-terang, tapi juga mendalam. Salah satunya saya kutip di awal tulisan ini. Karena wawasannya yang luas, sikapnya yang terbuka, kesediaannya untuk terus bertanya, dan kengototannya untuk memiliki pilihan yang mandiri, Wahib menjadi sumber ilham yang kaya untuk digali anak-anak muda sekarang dalam menentukan pikiran, sikap dan perilaku mereka sendiri mengenai aneka soal, termasuk toleransi. Berkali-kali kami katakan, kami tak sedang mengultuskan Wahib, dan hanya ingin mengambilnya sebagai sumber inspirasi.

Kedua, karena ini zamannya media sosial, kategori sayembara tahun ini pun diperluas. Jika sebelumnya hanya esai, sekarang kami juga melombakan blog dan video. Dan alhamdulillah, ini meningkatkan jumlah peserta menjadi 355 peserta, sekitar empat kali lipat dari sebelumnya yang hanya 76. Jumlah peserta di masing-masing kategori memang belum merata: 153 esai, 181 blog, dan hanya 21 kategori video. Ini masuk akal mengingat tidak mudahnya membuat video. Kami berharap, terutama sesudah menyaksikan video seperti A Plur, sayembara video akan diikuti lebih banyak peserta di masa depan.

Di luar itu, kekhasan kegiatan ini tampak pada usia dan keragaman latar belakang para jurinya. Selain saya yang hanya berfungsi sebagai tuan rumah dan menjaga kontinuitas dari sayembara-sayembara sebelumnya, semua juri berusia muda: Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca, band indie yang syair-syairnya penuh kritik sosial dan kuat warna perjuangan HAM-nya, selain aktivis anti-korupsi), Ucu Agustin (sutradara sejumlah film dokumenter), Fahd Djibran (peneliti LIPI, penulis dan blogger), dan Afra Suci Ramadhan (aktivis perempuan dan blogger). Lewat sesi-sesi penjurian, mereka mengajarkan pada saya apa artinya menjadi anak-anak muda sekarang, apa tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana mereka seharusnya diapresiasi.

Mereka pulalah, selain para finalis sayembara, yang menginspirasi kami untuk mengadakan satu malam puncak yang reflektif dan mendalam seperti Wahib, tapi juga meriah dan bergaya anak muda. Ada pidato orang-orang tua di situ, tapi semuanya disampaikan dengan santai dan tak menggurui. Goenawan Mohamad, misalnya, menyampaikan kesan-kesannya yang ceria dan mendalam mengenai Wahib, kawannya dulu, yang disebutnya tidak mungkin tak religius atau tak mencintai Tuhan. Ada juga Haidar Bagir, yang meletakkan Wahib dalam deretan sarjana Muslim sebelumnya, dengan mengutip Imam Ali, al-Ghazali, dan Muthahhari.

Malam puncak itu dirayakan pula oleh pembacaan cuplikan catatan harian Wahib oleh penyair Sitok Srengenge, yang disimak khusyuk seluruh undangan, menjadikan Teater Salihara tiba-tiba sunyi seperti kuburan. Akhirnya, acara ditutup dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca, yang antara lain membawakan “Mosi Tidak Percaya”:
Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya
Lewat “tahlil” bergaya anak muda malam itu, saya merasa Wahib bangkit kembali. Dan pulang dari acara itu, saya sama sekali tak ragu akan masa depan perjuangan kita menumbuhkan toleransi di Tanah Air, betapa pun keras ladangnya kini.****

Ihsan Ali-Fauzi adalah Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, dan staf pengajar pada Universitas Paramadina, Jakarta.

Sumber: Mizan.com (Rabu, 7 November 2012)

Comments

comments