Diselamatkan Foto Dari Manhattan

[print_link]

Diselamatkan Foto Dari Manhattan

Ihsan Ali-Fauzi*

Hari-hari ini media massa kita dipenuhi banyak laporan tentang orang-orang yang mati atau cidera secara percuma—terutama dari konflik kekerasan di Timur Tengah. Sebagian besar korban adalah kaum perempuan dan anak-anak. Tentu saja percuma: mereka dibunuh atau dicelakakan secara terencana dan sistematis.

Juga percuma, karena alasan yang digunakan untuk aksi-aksi membunuh dan menciderai di atas adalah alasan-alasan yang sia-sia.Ya, karena “kemenangan” apa pun dari konflik kekerasan ini sifatnya sementara saja (karenanya saya sebut kata itu dengan tanda petik). Katakan saja pihak Israel “menang” secara militer dalam perang ini, lewat udara atau serangan darat, apakah mereka kira mereka akan bisa hidup tenteram?  Dapat dipastikan tidak: pemerintah dan warganya akan terus dihantui aksi-aksi balas dendam Hamas (Palestina) – jika tidak lewat roket udara, ya lewat bom-bunuh diri. Dan seterusnya….

Saya muak menyimak berita-berita di atas. Juga membayangkan siklus kekerasan yang pasti akan terjadi.

Saya makin ragu apakah peradaban era kita sekarang, yang disebut peradaban modern, lebih maju dibanding peradaban-peradaban sebelumnya. Jangan-jangan tidak! Bukankah dulu orang saling bunuh secara berhadap-hadapan (“secara jantan,” kata orang), dan sekarang orang bisa membunuh dengan sengaja pencet tombol senapan atau nuklir?

Untung, di tengah itu semua, saya masih bisa menyimak berita-berita yang membesarkan hati. Selalu begitu, dalam pengalaman saya. Setiap hari.

Pagi ini, yang membesarkan hati saya adalah satu foto tentang protes anti-perang di kota New York yang saya lihat di satu situs berita. Foto itu bisa dilihat disini.

Foto itu memperlihatkan dua orang—yang satu Yahudi dari Israel dan lainnya Muslim dari Palestina—mengangkat kardus tipis bertuliskan “Why can’t we all get along” (terjemahan bebasnya: “Mengapa kita semua tidak bisa akur ya?”) di tengah-tengah Manhattan, New York.

Belakangan saya tahu, foto itu di-share lewat media sosial Facebook oleh “Do Something”, satu organisasi non-profit yang dikelola anak-anak muda untuk tujuan sosial dan perdamaian. Ketika saya mengunjunginya, foto itu sudah di-share oleh ribuan orang, dan sekitar 7.000 orang me-like-nya. Saya ikut meng-sharedan me-like-nya di dinding Facebook saya – setidaknya menambah satu orang yang menyebarluaskannya.

Pesimisme saya akan peradaban modern diselamatkan oleh foto di atas. Sayang, media massa tak banyak memuat berita yang membesarkan hati seperti ini.

Saya jadi ingat Julia Bacha, sutradara muda perempuan dari Brazil yang filmnya, Budrus, pernah saya ulas di halaman ini. Tentang film itu, yang mendokumentasikan aksi-aksi perlawanan terhadap Israel secara damai, Bacha menyatakan:“If we don’t pay attention to nonviolent protests, they are invisible and it’s as if they never happened. But I have seen firsthand that if we do, they will multiply.”

Pada kesempatan lain, Bacha juga mengatakan: “We are providing alternative role models. I have seen people challenged, inspired and motivated to take action based on the stories we tell.”

Seperti kedua pemuda di foto Manhattan, Julia Bacha juga harus didukung. Dia benar: orang makin tergerakkan untuk mendukung perdamaian jika kesamaan di antara banyak kelompok yang berbeda ditegaskan, digarisbawahi.

Untuk saya, satu contoh menonjol lainnya adalah Orkestra West-Eastern Divan (WED). Kelompok musikus ini dibentuk pada 1999 oleh duet Daniel Barenboim dan almarhum Edward Said. Yang pertama adalah pianis dan kondukter kelas wahid di dunia, warganegara Israel. Sedang yang kedua, selama hidupnya dia dikenal sebagai intelektual-aktivis Palestina-Amerika, gurubesar di Universitas Columbia, New York, yang juga pianis dan kritikus musik.

WED adalah inisiatif untuk mengumpulkan, dalam sebuah workshop setiap musim panas, sekelompok musisi muda berbakat dari Israel, Palestina dan negara-negara Arab. Berkat inisiatif itu, pada 2002, Barenboim dan Said menerima Prince of Austria Awards, karena dianggap berjasa dalam “meningkatkan kesalingpahaman di antara bangsa-bangsa.”

Di balik inisiatif ini ada keyakinan bahwa, seperti dikatakan Barenboim, “musik adalah seni yang menyentuh eksistensi manusia, sebuah seni suara yang melampaui batas-batas.” Maka Orkestra WED juga melibatkan integrasi. Kata Barenboim: “Tiap musisi yang memainkan dua nada, yang mencakup dinamika, bunyi dan gerak, selalu terlibat dalam sebuah aksi integrasi.”

Cerita-cerita menggembirakan dari Manhattan, Budruz, dan WED, dan banyak lagi yang lainnya, harus diketahui sebanyak mungkin orang. Aksi-aksi damai dalam menyelesaikan konflik Israel dan Palestina harus disebarluaskan, agar pilihan-pilihan non-militer bisa lebih dilihat orang. Cerita-cerita ini harus menjadi naratif tandingan terhadap naratif yang disampaikan kepada kita baik oleh kalangan ekstremis di Israel maupun Palestina.

Anda bisa memulainya dengan diri Anda sendiri. Beritahu kawan, keluarga, sahabat, bahwa di New York—yang fotonya bisa kita sendiri lihat—ada dua makhluk Tuhan (satu Yahudi-Israel dan lainnya Muslim-Palestina) yang tidak sudi perang dijadikan satu-satunya cara menyelesaikan konflik. (***)

*Ihsan Ali-Fauzi adalah Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, dan staf pengajar pada Universitas Paramadina, Jakarta.     Sumber: Mizandotcom (21 November 2012)

 

Comments

comments