Nurcholish Madjid Memorial Lecture VI

[print_link]

Nurcholish Madjid Memorial Lecture VI
“Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru: Negara, Pasar, Cita-cita Keadilan”
Bersama FAISAL BASRI

Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Selasa, 11 Desember 2012, Pukul 18:00-Selesai

Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML) adalah kegiatan tahunan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD),  Yayasan  Paramadina. Selain untuk mengenang sosok dan pemikiran almarhum Nurcholish Madjid,  pendiri Yayasan Paramadina, NMML juga  dimaksudkan untuk melanjutkan sumbangan pemikirannya bagi bangsa Indonesia dewasa ini dan di masa depan.

NMML Kali ini adalah yang keenam.  Sebelumnya, NMML disampaikan oleh  Komaruddin Hidayat (2007), Goenawan Mohamad (2008),  Ahmad Syafii Maarif (2009), Karlina Supelli (2010), dan R. William Liddle (2011).

Pidato NMML akan dibukukan, sesudah diberi komentar oleh para intelektual,  politisi, aktivis LSM dan lainnya.  Sejauh ini sudah terbit  lima buku dari NMML: Demokrasi dan Kekecewaan (2009); Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita  (2010); Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme (2011); dan Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan (2012).

Biodata Faisal Basri

Faisal Batubara  Basri  (lahir di  Bandung,  6 November  1959) sehari-hari adalah  ekonom  dan aktivis sosial.  Pria berdarah Batak ini  salah seorang keponakan mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik.

Faisal  lulus  dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI)  pada  1985. Dia memperoleh Master of Arts (M.A.) dalam bidang ekonomi dari Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika  Serikat, pada  1988.  Sejak  1981  hingga  sekarang,  dia  menjadi staf pengajar pada almamaternya, FEUI, di mana dia juga sempat mengetuai Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat  (LPEM).  Sejak tahun  2000,  dia menjadi anggota Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU). Kini dia juga kolumnis tetap harian Kompas.

Faisal juga sempat terjun ke dunia politik praktis. Di saat-saat genting menjelang reformasi, dia ikut menjadi salah satu pendiri Mara  (Majelis Amanah Rakyat), yang merupakan cikal-bakal Partai Amanat Nasional.  Pada Oktober 2011,  dia menggandeng  Biem Benyamin,  putra tokoh legendaris Betawi Benyamin Sueb, untuk maju mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen, tapi gagal terpilih.

Beberapa penghargaan yang Faisal raih: Dosen Teladan III Universitas Indonesia (1996); “Pejuang Anti-Korupsi 2003,” diberikan  Masyarakat Profesional Madani (MPM); dan  “FEUI  Award 2005” untuk kategori prestasi, komitmen dan dedikasi dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Abstrak NMML VI oleh Faisal Basri

Dalam empat tahun terakhir, kinerja perekonomian Indonesia mengundang decak kagum banyak kalangan  luar negeri.  Indonesia adalah satu-satunya negara yang  selama 2009-2012 menunjukkan kecenderungan  (trend)  pertumbuhan ekonomi yang tidak menurun di tengah terpaan krisis ekonomi global yang belum berkesudahan sejak 2008.

Memang, sangat banyak perkembangan positif hadir bersamaan,  setelah sekitar satu dasawarsa Indonesia  bangkit dari krisis ekonomi yang sangat parah pada  1998. Perubahan-perubahan mendasar dalam perkembangan politik, sosial, dan demografi turut mengiringi perubahan sosok perekonomian. Namun, tak sedikit pula perubahan mendasar yang menimbulkan keprihatinan mendalam  dan kemunduran. Misalnya adalah  terkikisnya kedaulatan pangan, energi, dan finansial.  Juga terjadi pelemahan sektor industri manufaktur sebagaimana ditandai oleh defisit perdagangan sektor ini sejak  2008. Wajah ketenegakerjaan dan kemiskinan juga masih tetap suram. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketimpangan, baik ketimpangan pendapatan, ketimpangan antarsektor, maupun ketimpangan antardaerah.

Kita masih jauh dari cita-cita kemerdekaan. Peta jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut tak kunjung jelas. Bahkan,  67 tahun merdeka  belum  juga  cukup  bagi kita  untuk sekadar memilih kendaraan yang hendak kita tumpangi  menuju cita-cita kemerdekaan. Kita sibuk bersilang-sengketa dengan pijakan yang rapuh, sehingga  kerap pendulum bergerak  ekstrem, bukannya menuju konvergensi. Dalam relung gelap, para pemimpin kerap terbentur pada bebatuan besar dan terantuk-antuk menapaki titian.

Kita merasa telah menempuh perjalanan jauh. Tapi sebenarnya  kita  hanya berputar-putar, tak jauh beranjak dari titik awal. Di tengah deru modernitas, kita kembali terseret ke sosok perekonomian ekstraktif  (extractive economy). Reformasi ekonomi masih meninggalkan sosok institusi ekonomi ekstraktif  (extractive economic institutions)  yang kental.  Demikian pula, demoktratisasi  selama ini  belum membawa kita beranjak dari sosok instutusi politik ekstraktif (extractive political institutions).

Nurcholish Majid (Cak Nur) memandang bahwa  bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih berproses untuk menjadi (in the making). Sudah sepantasnya kita lebih sigap mendefinisikan dan menetapkan kendaraan yang kita pilih agar roh keadilan hadir dalam  tiap langkah kebijakan. Caranya dengan  berubah  dari  exctractive economic institutions  menjadi  inclusive economic institutuions dan dari exctractive political institutions menjadi inclusive political institutions.

Inklusi institusi politik dan ekonomi akan mendorong partisipasi luas masyarakat dalam berpolitik dan berekonomi,  yang dilengkapi dengan jaring-jaring pengaman yang mumpuni, lebih menjamin redistribusi kekayaan nasional, sehingga keadilan sosial lebih mungkin terwujud. Itu sebabnya, kita perlu  konsensus kebangsaan baru,  yang menyeimbangkan peran komunitas bisnis, komunitas politik,  dan  civil society. Dengan begitulah  Indonesia  bisa  menjadi negara besar, berkeadilan sosial, dan sejahtera.***

Best,

Husni Mubarak | @acenghusni
Yayasan Paramadina | @YParamadina

Comments

comments