DEMI MASA, DEMI MANUSIA

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut-sebut.” (Q.S. Al-Insan [76]:01)

Di dalam Bahasa Arab ada istilah yang disebut al-Dahru dan al-Waqtu. Al-Dahru artinya waktu yang berjalan terus. Sedangkan al-Waqtu adalah durasi atau rentang waktu. Misalnya, waktu fajar, siang, dan malam. Ada juga hari, minggu, dan bulan. Itu adalah waktu.

Al-Dahru adalah semacam garis panjang yang kemudian dibagi-bagi oleh waktu. Misalnya, baru saja kita memasuki tahun 2013 M. Kalender Masehi dihitung mulai dari kelahiran Nabi Isa AS. Kalender Islam sekarang jatuh pada tahun 1434 H. Waktu selalu bisa berubah-ubah.

Setiap agama punya waktu sakralnya masing-masing. Agama Kristiani menganggap 1 Januari dan 25 Desember memiliki nilai yang sakral. Di dalam Islam pun ada waktu sakral seperti Idul Fitri dan Idul Adha, termasuk hari Isra’ Mi’raj Nabi SAW.

Yang dilarang Nabi SAW itu adalah kita tidak boleh ikut-ikutan. Biarlah orang Kristiani merayakan hari-hari tertentu secara sakral. Kita umat Islam harus menghargai saudara-saudara kita itu yang merayakannya, tetapi jangan terlibat dalam pengsakralan harinya itu.

Apakah alam ini dimulai semenjak Nabi Adam AS? Orang-orang Yahudi memulai penanggalannnya tahun 3760 SM. Kenapa? Karena orang Yahudi meyakini alam jagat raya ini mulai diciptakan tahun 3.760 SM.

Sebuah teori ilmu pengetahuan mengatakan bahwa alam diciptakan tahun 4004 SM. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan penemuan teori Big Bang, misalnya, yang mematahkan perhitungan sebelumnya. Dalam teori Big Bang, alam ini diciptakan semenjak 15 miliar tahun lalu.

Dalam ayat di atas, Allah mengatakan bahwa waktu sudah ada ketika manusia belum disebut-sebut. Berapa juta tahun sebelum Nabi Adam AS, tidak ada yang tahu. Waktu terus berlalu, dan sekarang kita berada di sini pada tahun 2013 M.

Sebagian dari kita hanya mengetahui bahwa waktu baru dimulai semenjak Nabi Adam AS. Padahal sebelum Nabi Adam sudah ada makhluk-makhluk lain. Untuk masa yang akan datang nanti entah berapa ribu tahun lagi waktu itu berjalan, kita tidak mengetahuinya. Al-Dahru tidak diketahui awal dan akhirnya.

Al-Dahru yang begitu panjang, ribuan tahun sebelum Nabi Adam AS dan ribuan tahun lagi yang akan datang, kita hanya mengambil atau mengisi beberapa tahun saja dari perjalanan waktu yang demikian panjang ini. Sebelum kita ada, waktu sudah berjalan sangat panjang sekali, dan setelah kita tidak ada waktu akan terus-menerus ada.

Di dalam al-Dahru yang demikian panjang itu, begitu lahir kita berarti sudah dalam waktu.
Kita bagian yang sangat kecil dalam perjalanan waktu ini, karena itu waktu kita sangat singkat sekali.

Dalam firman Allah disebutkan: “Demi masa (al-ashr). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan saling nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr [103]:1-3)

Apa yang mau kita cari sebagai ciptaan Allah SWT? Menurut ayat ini, merugi hidup jika kita hanya memikirkan masalah hidup dunia semata. Pasrahkan hidup kepada Allah kemudian kita bekerja. Kerja yang baik dan positif yang memberikan kontribusi positif untuk kita dan orang lain. Dan selalu berwasiat tentang kebaikan dan kebenaran.

Karena itu, kita hanya memiliki waktu yang sangat pendek sekali. Merugi jika kita mengisi kehidupan dengan cara yang tidak baik, seperti korupsi atau mencuri. Kita harus isi hidup ini dengan nilai-nilai yang positif dalam kehidupan ini.

Mudah-mudahan pesan yang ringkas ini bisa menjadi perenungan bagi kita, terutama untuk kehidupan kita yang pendek ini. Waktu akan terus berjalan dan kapan berakhirnya kita tidak pernah tahu.***

*Naskah ini berasal dari Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (11 Januari 2013). Khatib: Prof. Dr. Zainun Kamal.

Comments

comments