BENCANA BUKAN KUTUKAN

Beberapa saat lalu dan mungkin hingga kini, masyarakat Jakarta dan sekitarnya dikepung banjir. Kejadian ini menurut perhitungan media mengakibatkan kerugian sekitar Rp 20 triliun. Kejadian di alam ini tidak dengan serta-merta kita atributkan pada Tuhan. Misalnya, bencana itu merupakan kutukan. Musibah yang Allah SWT timpakan pada hamba-Nya.

Kita harus melihat semuanya itu sebagai kesalahan manusia di dalam mengelola lingkungan kehidupannya. Sebab Allah sama sekali tidak pernah menganiaya seorang manusia pun, tapi manusia itu yang menganiaya dirinya sendiri. Hal ini seperti dinyatakan Allah dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (Q.S. Yunus [10]: 44).

Allah itu tidak menganiaya. Tidak merugikan. Tidak menimbulkan penderitaan pada manusia sedikit pun. Manusia itu sendiri yang bertingkah laku keliru hingga dirinya sendiri menderita.

Hal ini segaris dengan pernyataan Al-Quran, Allah itu senantiasa bersifat Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Rahim (Yang Maha Penyayang). Karena itu sudah sepatutnya kita melakukan introspeksi (muhasabah), mengapa dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan umat Islam di dunia ini, penuh dengan penderitaan. Kalau toh bukan bencana alam yang menimpa, umat Islam justru terlibat dalam pertikaian atau perebutan kekuasaan tanpa mengindahkan norma-norma atau hukum-hukum yang Allah tetapkan.

Islam, sejak awal turunnya ayat Al-Quran pertama kali kepada Nabi SAW di Gua Hiro, Allah perintahkan adalah membaca (iqra). Perintah iqra ini tanpa ada objek yang menjadi tujuan (nakirah). Dengan begitu kita harus membaca yang ada di alam semesta ini.

Dalam ayat itu disebutkan: “Bacalah (iqra) dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya,” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Pada ayat itu ditegaskan justru membacanya itu dengan nama Allah yang telah menciptakan manusia. Jadi, membacanya ini bukan sekadar membaca yang terlepas dari nilai-nilai ketuhanan. Membacanya ini bukan membaca yang terlepas dari Asma Al-Husna.

Dalam ayat itu iqra-nya bahkan sampai diulang dua kali. Yang pertama lanjutan ayatnya menegaskan nama Allah yang menciptakan alam semesta ini, khususnya yang menciptakan alam, bakal bibit kita sebagai manusia. Dan yang kedua iqra karena kemuliaan Allah. Manusia diminta berkali-kali untuk senantiasa bisa membaca alam ini.

Tentunya ketika membaca kita harus mengunakan akal pikiran yang sedalam-dalamnya. Itulah sebabnya dalam ajaran Islam itu tidak bisa lepas kaitan antara berzikir dan tafakur. Jadi, selalu mencoba merenungkan apa yang sebenarnya berjalan di alam semesta ini. Sudah jelas bahwa kita hidup di dunia ini. Hidup dalam suatu dinamika alam yang berjalan sesuai dengan hukum-hukum yang telah dikodratkan Allah (qadar), namun kita mengabaikannya.

Kita seringkali menganggap bahwa kalau toh terjadi musibah itu karena Allah menimpakannnya kepada kita. Padahal tidak demikian. Allah, sekali lagi, tidak merugikan hamba-Nya. Tidak sedikit pun merugikan seorang manusia pun di dunia ini. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka,” (Q.S. Al-An’am [06]: 01).

Ayat ini harus menjadi peringatan bagi diri kita. Ditegaskan dalam ayat itu bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi. Pernyataan itu secara ilmiah adalah Allah-lah yang menciptakan seluruh galaksi, planet, dan Dia pula yang menciptakan bumi serta seisinya. Kalau kita tahu bahwa Allah penciptanya tentu kita harus mencari petunjuk kepada Sang Pembuatnya. Sama seperti kalau kita membeli sebuah mobil merek X tentu untuk perawatannya kita juga harus mencari petunjuk dari pabrik yang mengeluarkan merek X itu.

Allah sudah menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan alam semesta ini yang telah ditetapkan berdasarkan suatu qadar, kepastian. Dengan ketetapan hitungan yang akurat. Kalau ini sudah kita pahami tentu tinggal merujuk dan mempelajari petunjuk-Nya bagaimana mengamankan lingkungan hidup ini berdasarkan dinamika alam, dan bagaimana kita mengamankan kehidupan sosial. Masing-masing memiliki hukumnya sendiri.

Allah sendiri menyatakan, di mana pun berada kita tidak akan terlepas dari petaka yang akan menimpa, kecuali kita senantiasa berpegang teguh kepada hukum Allah dan juga hukum manusia. Keduanya ini merupakan satu paket. Satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Hukum Allah sudah ditetapkan. Hanya saja kita mau atau tidak untuk mempelajarinya. Hukum Allah itu sudah ada di alam ini. Bagaimana matahari, bumi, bintang bekerja. Bagaimana sistem tanah di bumi ini bisa menumbuhkan kehidupan dan sekaligus bisa terbentuk apa-apa yang diperlukan untuk makhluk-mahkluk yang ada di atasnya. Tidak semua hukum Allah itu sudah dijabarkan di dalam Al-Quran. Kalau kita menganggap demikian, tentu, kita tidak perlu belajar kimia, matematika, fisika, dan sebagainya.

Al-Quran mengandung hukum untuk manusia. Kalau hukum manusia itu perlu merujuk pada Al-Quran. Kita perlu merujuk, mendalami, merenungkan, berpikir secara matang agar hukum yang tertulis di dalam Al-Quran itu bisa diimplementasikan di dalam kehidupan ini sesuai dengan kondisi adat-istiadat dan budaya masyarakat yang menerimanya.

Itulah sebabnya di dalam Al-Quran dikatakan: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan menggunakan lisan kaumnya supaya ia menjelaskan (hukum-hukum Allah) kepada mereka,” (Q.S. Ibrahim [14]: 4).

Lisan (bi lisani qaumihi) itu lebih luas daripada bahasa (bi lughati qaumihi). Kalau lisan itu bisa bermakna lebih luas bukan hanya bahasa, tapi juga budaya, adat-istiadat, dan kehidupan yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat itu. Nabi diutus dengan bahasa kaumnya agar nabi itu bisa menjelaskan dengan gamblang apa yang diterima dari Allah untuk kehidupan manusia.

Jadi, otomatis kita tidak perlu menjadi orang Islam sama dengan Islamnya orang Iran, Saudi Arabia, dan sebagainya. Kita harus bisa menjadi orang Islam yang Indonesia. Dengan begitu kita akan bisa mengenal kondisi lingkungan kita. Kita akan mengenal segala aspek yang ada di sekitar kita. Kalau kita mengenalnya otomatis kita akan benar-benar bisa mengelola tempat hidup ini sesuai dengan kebiasaan atau adat-istiadat kita.

Ini harus bisa kita pahami dengan sebaik-baiknya. Sayangnya kita ini kalau terkena musibah langsung lari. Dan mengatakan bahwa bencana itu adalah kutukan. Bahkan di Internet ada yang mengatakan lebih buruk lagi. Bencana banjir sekarang ini karena masyarakat Jakarta memiliki pemimpin yang tidak amanat. Nah, ini sentimen-sentimen primordial. Ini tidak boleh terjadi.

Kita orang Islam harus melihat ini sebagai kesalahan warga Jakarta dengan pemimpinanya sehingga menyebabkan tata kelola air tidak bisa di bangun dengan baik. Akibatnya apa? Akibatnya timbul banjir yang tidak diduga-duga.

Banyak contoh kota yang penduduknya bukan beragama Islam tapi tidak terkena banjir. Tokyo, misalnya. Kota ini tidak terkena banjir sudah ratusan tahun. Kota London juga tidak terkena banjir hampir 200 tahun. Jadi tidak ada hubungannya antara bencana dan kepemelukan agama.

Jadi, kita harus berpegang teguh pada hukum Allah dan manusia. Hukum Allah itu meliputi apa yang sudah ditetapkan di alam. Hukum manusia itu apa yang telah disepakati di antara kita.

Marilah kita benar-benar merenungkan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala aturannya. Di dalam ciptaan itu terkandung dualitas, yaitu yang gelap (zhulumat) dan yang terang (nur). Ada siang, ada malam. Kondisi ini harus kita sikapi dengan benar. Jika kita ingin memahami dinamika yang terjadi di alam, maka kita perlu mempelajari hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan di alam.

Begitu juga jika kita ingin melihat kehidupan yang sejahtera, maka kita perlu mempelajari bagaimana ayat-ayat Al-Quran itu bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk melangkah kepada kehidupan yang penuh dengan cahaya. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalangan kalian,” (Q.S. Al-Nisa’ [4]: 59).

Taati Allah itu artinya kita menaati atau mematuhi hukum-hukum-Nya yang sudah ditetapkan di alam. Taati rasul-Nya itu menaati suara batin yang menjadi perwakilan dari kerasulan. Dan kita menaati ulil amri artinya orang-orang yang memimpin kita ini dalam rangka untuk mencari solusi, mengatasi berbagai macam hal yang bisa membuat kita menderita agar kita bisa menjadi manusia yang sejahtera.***

Sumber: Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (25 Januari 2013). Khatib: Achmad Chodjim.

Comments

comments