Manusia Partner Iblis

gambar manusia partner iblis
Al-Quran menjelaskan tentang sifat dan karakter manusia. Kita bisa berkaca bagaimana diri kita dihadapkan dengan gambaran Al-Quran tentang manusia itu. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat,” (Q.S. Ibrahim [14]: 24-25).

Ayat ini menggambarkan bagian dari potret manusia yang ideal. Muslim yang ideal. Pertama, dilukiskan seperti pohon yang memiliki akar yang tertanam kokoh pada bumi. Akar itu adalah iman, keyakinan, akidah. Muslim yang ideal adalah orang memiliki akar keislaman yang kokoh. Yaitu, akidah yang tertanam kokoh dalam pikiran, jiwa, perasaan, dan ruhaninya.

Kedua, dilukiskan memiliki batang tegak dan kokoh yang dilengkapi dahan, ranting, dan daun. Ini artinya, ibadah orang itu dilakukan dengan istikamah. Bukan hanya yang batang atau wajib semata, tetapi juga melakukan yang dahan, ranting, dan daun-daunnya. Batang diibaratkan amalan yang bersifat wajib, sedangkan dahan, ranting dan daun-daunnya diibaratkan seperti salat malam, puasa sunah, dan ibadah atau amalan sunah lainnya.

Ketiga, dilukiskan dengan buah. Pohon yang subur menghasilkan buah setiap waktu. Buah yang dimaksud ayat ini adalah akhlak yang mulia dalam keseharian. Setelah iman dan keyakinan yang kokoh maka darinya akan memancarkan sikap dan perbuatan mulia seperti tutur kata yang santun, jujur, amanah, peduli sesama, mau berbagi, dan punya solidaritas.

Ketiga hal ini seharusnya menjadi target perjuangan tiap Muslim. Bagaimana pribadi Muslim memenuhi atau mendekati gambaran ayat di atas. Yang buahnya tidak hanya dirasakan oleh sesama Muslim tetapi oleh seluruh umat manusia. Sehingga keislamannya betul-betul menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seperti yang dinyatakan Allah SWT:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam,” (Q.S. Al-Anbiya [21]:107).

Misi kita, kata Rasulullah SAW, adalah membentuk pribadi yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia. Tapi ini bukan hal yang mudah. Manusia itu akan menjadi sempurna ketika memiliki partner atau teman. Dalam Al-Quran disebutkan partnernya itu adalah iblis.

Kehadiran iblis itu penting sebagai mitra karena manusia itu perlu diuji. Perlu mendapat rintangan. Iblis mendeklarasikan kebulatan tekadnya di hadapan Allah, seperti termaktub dalam Al-Quran:

“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (Q.S. Al-‘Araf [07]:16-17).

Dalam ayat itu, iblis serta dan keturunannya meminta izin mengganggu manusia sepanjang masa. Sepanjang kehidupan ada. Allah mengizinkannya. Di ayat selanjutnya, iblis mengatakan akan datang menghadang manusia dari empat arah: depan, belakang, kanan, dan kiri. Tinggal dua lagi yang tidak diambil iblis, yaitu dari arah atas dan bawah.

Apa artinya empat arah yang akan didatangi iblis itu? Para mufasir berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini. Inti dari ayat ini, manusia akan berhadapan dengan kekuatan iblis dari empat arah. Seorang mufasir dari Afrika, Abdurrahman al-Sa’di, menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

Arah depan. Ketika iblis mendatangi dari arah depan, manusia akan dihadapkan dengan satu jebakan. Tiap manusia inginnya lurus, terpuji, istikamah, tetapi terus dihadapkan dengan uang atau harta, kekuasaan, dan wanita.

Arah belakang. Kita tahu, kehidupan dunia ini akan kita tinggalkan. Kita akan migrasi ke alam kematian. Pindah ke alam akhirat. Kehidupan yang lebih luas daripada dunia ini. Tapi ternyata harta yang sudah kita miliki, jabatan yang sedang kita nikmati, istri, anak, dan keluarga dari belakang membebani kita. Sehingga pandangan kita tidak bisa lurus ke depan. Kita tidak sadar akan datangnya kematian. Tak sadar akan adanya pertanggungjawaban kehidupan dunia ini di akhirat nanti.

Arah dari belakang ini seperti membanduli badan kita sehingga hidup kita menjadi tidak seimbang. Ini karena iblis berhasil membiarkan hidup kita terasa dibebani. Seakan kita seperti kakek bungkuk yang jalannya tidak bisa tegak lurus. Karena bungkuk maka pandangan kita menjadi pendek. Merunduk.

Jika menunduk karena tawadhu, itu kebaikan. Tetapi jika tawadu itu singkatan dari tawanan duit, ini yang berbahaya. Pandangan dan kesadaran kita ditawan di sini, di dunia ini, sehingga menjadi sempit. Akhirnya, kita menjadi bungkuk saja, tidak bisa melihat jauh ke depan. Menjadi berat beban hidup kita.

Hal ini bukan berarti harta itu tidak perlu. Tapi apakah harta dan jabatan kita bisa membuat kita tetap lurus (mustaqim) atau tidak? Karena menjadi mustaqim ini susah. Allah memperingatkan kita agar jangan sombong dengan kekuatan akal, ilmu, dan almamater kita. Semuanya akan menjadi tidak bermakna jika tidak digunakan dengan sebaiknya. Misalnya, seorang alumni pesantren atau doktor, dengan gelar itu apakah ia masih tetap berada pada jalan yang mustaqim atau tidak. Mustaqim ini dapat diartikan sebagai independen dalam etika. Karena setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.

Setiap orang mempunyai tanggung jawab secara personal kepada Tuhan. Kalau salatnya hanya bacaan dan gerakan tanpa isi, maka ini tentu saja tidak mustaqim. Kalau salatnya berbobot dan dapat memberikan efek sosial, lalu dapat berserah diri kepada Allah bukan hanya saat salat tapi juga totalitas hidupnya, kemudian ada keikhlasan dalam menjalani hidup ini, maka insya Allah seberat apapun tantangannya tidak akan membuat dia kehilangan arah. Menjadi manusia seperti ini tidak mudah.

Arah kanan. Ketika iblis mendatangi dari sebelah kanan, masih menurut tafsir Abdurrahman al-Sa’di, maka sesungguhnya hidup ini hanya diorientasikan pada persoalan ruhani semata. Sehingga kita lupa terhadap kebutuhan hidup kita. Jangan sampai nasib kita gantungkan pada orang lain. Menunggu belas kasihan orang. Menggantungkan kebutuhan pokok seperti makan dan minum dari belas kasihan orang lain. Ini adalah godaan dari sebelah kanan.

Arah kiri. Ketika iblis mendatangi dari sebelah kiri kita kehilangan nilai keruhanian. Betul-betul kehilangan keseimbangan. Hidup kita lebih banyak yang kiri, yang hanya berorientasi pada masalah duniawi.

Maksud godaan dari kiri dan kanan itu ingin melukiskan keseimbangan. Allah memberikan bimbingan bagaimana menjadi Muslim yang mustaqim. Pendekatan mustaqim ini melahirkan tiga perspektif. Secara vertikal, mustaqim berarti tegak. Ini kaitannya dengan relasi dengan Allah (hablun min Allah). Kalau diletakkan pada bidang yang datar, mustaqim artinya lurus. Ini kaitannya dengan hubungan antarmanusia (hablun min ‘l-nas). Jadi, tegak dan lurus, jika keduanya tetap, tidak mengalami pergeseran atau perubahan.

Kualitas mustaqim ini juga menggambarkan pribadi yang realistis dalam menjalani hidup. Akidahnya mungkin mengalami perubahan, tetapi selalu ada monitor dan evaluasi. Tidak pernah dibiarkan begitu saja tanpa adanya evaluasi diri (muhasabah) yang tajam dan serius. Dalam kaitan urusan keduniaan orang itu akan melakukan beberapa langkah agar tetap eksis menjalani hidup sesuai dengan kapasitasnya, tetapi di tengah-tengah menjalani hidup itu ada suatu momentum yang dia gunakan untuk mengambil jarak dari kehidupannya.

Inilah yang dinamakan uzlah, menarik dan mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian (tafakur dan berzikir). Hal ini bertujuan untuk memotret diri sendiri secara tajam. Seakan-akan kita meletakkan diri kita di satu sisi dan pada saat yang sama kita mundur dan melihat diri kita sendiri dengan pandangan yang kritis seperti apa diri kita. Setelah itu kita khalwat, menciptakan suasana yang tidak terganggu oleh urusan pekerjaan dan hal duniawi, dan memusatkan komunikasi personal dengan Allah melalui Salat Tahajud, misalnya. Dan pada keesokan harinya tetap menjalani hidup seperti biasanya.

Jika ini dijalankan, Allah menjanjikan adanya keseimbangan. Ada rem. Mungkin sesekali kita tidak mustaqim, tetapi cepat sadar dan langsung evaluasi. Semua ini dibantu oleh kekuatan Allah dengan cara doa, munajat, permohonan kepada Allah, yang dilakukan dengan melibatkan perasaan, hati.

Singkatnya, yakinlah akan kebesaran Allah, kasih sayang-Nya, dan sadar akan kekurangan kita. Jalani hidup dengan penuh upaya dan perjuangan supaya kembali ke posisi mustaqim, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.***

Sumber: Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (08 Februari 2013). Khatib: Dr. Asep Usman Ismail.

Comments

comments