TUHAN CINTA, TUHAN MENGANCAM

ONE WAY, ONATHER WAY

TUHAN CINTA, TUHAN MENGANCAM

Para ulama, terutama para sufi, berpendapat bahwa dari 114 Surah dalam Al-Quran, keistimewaannya berada dalam Surah Al-Fatihah. Kenapa Surah Al-Fatihah memiliki keistimewaan?

Dalam Surah Al-Fatihah terkandung suatu prinsip ajaran moral yang sangat kuat. Bagian pertama Surah Al-Fatihah, ayat satu sampai empat, berbicara tentang Tuhan:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (Q.S. Al-Fatihah [1]: 1-4 )

Bagian keduanya, ayat lima sampai tujuh Surah Al-Fatihah ini berbicara tentang manusia:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah. Dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah [1]: 1-4 )

Seluruh ayat Al-Quran jika diperas maka esensinya adalah berbicara tentang Allah dan manusia. Ini berarti Surah Al-Fatihah adalah dasar atau inti. Dari 114 Surah, Al-Quran melalui Surah Al-Fatihah telah memberikan dasar bagaimana menyembah Allah dan bagaimana bergaul dengan manusia.

Jika kita perhatikan, manusia bisa bergerak menuju kebaikan itu didorong terutama karena cinta dan takut. Itu sebabnya Allah menggambarkan diri-Nya pada bagian pertama dalam Surah Al-Fatihah sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, yang mengatur alam semesta ini. Ini jalan cinta.

Kendati demikian, ada banyak orang yang tidak bisa bergerak menuju kepada kebaikan jika tidak didorong dengan ancaman. Itu sebabnya Allah menghadirkan diri-Nya pada ayat berikutnya sebagai Tuhan yang memiliki Hari Pembalasan.

Dengan kedua jalan ini, cinta dan ancaman, Allah hendak mendorong manusia menjadi pribadi-pribadi yang baik.

Pada bagian pertama Surah Al-Fatihah, Allah berfirman dalam bentuk “orang” ketiga: Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang menguasai Hari Pembalasan, Tuhan semesta alam. Di ayat selanjutnya, Allah berfirman dalam bentuk “orang” kedua: “Hanya Engkaulah yang kami sembah. Dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”  Hal ini berarti Allah bisa diajak berkomunikasi.

Titik sambung antara manusia dengan Tuhan pada Surah Al-Fatihah ini bertemu pada ayat “Hanya Engkaulah yang kami sembah. Dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Syekh Abu Hasan al-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah, yang dikutip Ibn Athaillah Al-Sakandari dalam kitabnya Lathaif al-Minan, menyebut bahwa ayat “Hanya Engkaulah yang kami sembah” sebagai syariat. Dan “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”  sebagai hakikat.

Artinya, kita tidak boleh sampai pada tingkatan hakikat tanpa melampaui syariat. Karena syariat itu adalah aturan hukum yang harus dijalani setiap umat manusia. Itu sebabnya dalam Al-Quran Allah berfirman bukan hanya tentang akidah, bukan pula hanya kisah-kisah, sejarah, tetapi Allah juga berbicara tentang hukum. Hukum terkait dengan persoalan ibadah, sosial (muamalah), juga permasalahan kejahatan/kriminalitas (jinayah).

Dengan model tafsir seperti ini, jika orang beribadah kepada Allah, menjalankan syariat Islam, maka tujuan akhirnya adalah hakikat. Bagaimana orang itu bisa berjumpa dengan Allah. Menyatu dengan Allah dengan “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Abu Hasan al-Syadzili juga mengatakan bahwa “Hanya Engkaulah yang kami sembah” adalah Islam. Sedangkan “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” adalah ihsan. Islam artinya bahwa ketundukan manusia hanya kepada Allah. Sebagai implikasi dari ketundukan manusia hanya kepada Allah, maka menyebabkan Allah menjadi kontrol di dalam dirinya sehingga orang tidak jatuh ke dalam kejahatan.

Para sufi berkata bahwa kebangkrutan sebuah negeri terjadi saat sudah banyak orang tidak takut kepada Allah, tapi takut kepada selain Allah. Seperti takut kehilangan jabatan, harta benda, rumah mewah, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan seseorang berada di dalam kejahatan. Kita tahu, Indonesia ini sekarang sedang dilanda krisis moral yang cukup hebat karena banyak orang orientasinya tidak kepada Allah, tetapi pada selain Allah.

Ihsan, berbuat baik, para sufi seringkali mengartikannya sebagai: “Engkau menyembah Allah seakan-akan melihatnya. Kalau kamu tidak bisa melihat Allah seakan-akan Allah melihat kamu.” Artinya, kalau beribadah kita merasa melihat atau dilihat Allah, dengan begitu kita jadi tulus dan ikhlas melakukannya. Ketulusan akan melengkapi niat kita dalam beribadah.

Ihsan bisa juga berarti menyaksikan diri kita dalam diri orang lain. Kalau ada orang-orang yang tidak punya dan memerlukan bantuan, dan kita melihat diri kita di posisi orang yang tidak mampu itu, maka niscaya kita tidak akan sampai hati untuk tidak membantunya.

Kalau setiap orang menjalankan dua dimensi dari ihsan itu, bagaimana merasakan Allah hadir atau dirinya merasa hadir dalam diri orang lain, maka insya Allah akan lahir pribadi-pribadi yang baik. Jadi Islam dan ihsan bisa menyatu dalam “Hanya Engkaulah yang kami sembah. Dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Abu Hasan al-Syadzili juga mengartikan “Hanya Engkaulah yang kami sembah” sebagai ibadah. Sedangkan “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” adalah ubudiyah, pengabdian hamba. Ini berarti bahwa salat, zakat, haji kita itu adalah ibadah, sedangkan tujuan dari ibadah itu adalah ubudiyah. Kalau setiap orang menjalankan ibadahnya, baik ibadah individual ataupun ibadah sosial, maka insya Allah dia akan sampai pada tingkatan ubudiyah.

Kalau orang tidak mampu beribadah karena Allah, tidak mampu beribadah secara ihsan, tidak mampu menjalankan syariat, maka seperti termaktub dalam Surah Al-Fatihah kita dianjurkan berdoa: “Ya Allah, tunjukkan aku jalan (shirath) yang lurus.”

Kata shirath dalam Bahasa Arab artinya menelan. Kenapa jalan disebut jalan karena ia bisa menelan seluruh kendaraan yang lewat. Artinya, jalan yang lebar, yang luas. Ini berarti jalan menuju Tuhan bukanlah jalan yang sempit, tetapi jalan yang luas.

Dalam doa itu, kita bukan hanya minta ditunjukkan Tuhan jalan yang luas itu, tetapi juga jalan yang lurus. Jalan yang luas yang memiliki daya tampung yang cukup besar, siapa pun bisa berada di situ, dan juga yang menyebabkan orang itu bisa cepat sampai ke tujuan.

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa itu adalah jalan yang lurus? Allah mengatakan: “Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.”

Kita belajar dari sejarah bagaimana para Nabi, syuhada, orang-orang terpercaya, para wali, telah menempuh jalan lurus. Lihatlah Nabi Muhammad SAW, Wali Songo, para ulama-ulama besar yang telah menempuh jalan yang lurus. Jika tidak mengikuti mereka, kita merugi karena menjadi orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan menjadi orang-orang yang tersesat.

Itu sebabnya tidak keliru kalau para ulama, para sufi, berkata bahwa dari 114 Surah Al-Quran itu prinsipnya, esensinya, fondasinya, berada pada Surah Al-Fatihah. Karena di dalamnya terangkum konsep tauhid. Surah ini dimulai dengan redaksi, segala puji bagi Allah yang mengatur seluruh alam semesta ini, lalu dilanjutkan, sebagai konsekuensi dari konsep tauhid, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bagaimana bukti bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Kita bisa lihat ada banyak orang yang sudah diberi nikmat dan karunia oleh Allah. Dan Allah memiliki Hari Pembalasan di akhirat nanti bagi orang-orang yang melanggar hukum dan tidak tunduk pada aturan. Kita tinggal memilih, menuju kebaikan melalui cinta atau ancaman.

Inilah salah satu bentuk hubungan satu ayat dengan ayat lain yang tercermin dalam Surah Al-Fatihah yang merupakan esensi, pokok pikiran dari ayat-ayat Al-Quran Al-Karim.***

Sumber: Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (15 Maret 2013). Khatib: Dr. Abd. Moqsith Ghazali

 

 

 

Comments

comments