SISI GELAP REFORMASI DI INDONESIA

Nurcholish Madjid Memorial Lecture VII

SISI GELAP REFORMASI DI INDONESIA: ANCAMAN MASYARAKAT MADANI GARIS-KERAS

Penceramah: Sidney Jones (Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict [IPAC])

Kamis, 19 Desember 2013, Pukul 18.00-22.00 WIB (diawali makan malam)

Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina

Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia

Konfirmasi kehadiran

 

Abstrak1459344_242591982567859_141977085_n

Salah satu capaian penting Reformasi di Indonesia adalah tumbuhnya masyarakat madani (civil society) yang kuat. Namun, beberapa di antara organisasi masyarakat madani yang paling efektif dewasa ini justru adalah kelompok-kelompok Islamis garis-keras yang mendakwahkan intoleransi dan menyebarluaskan kebencian. Di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat dan seputar Jakarta, organisasi-organisasi ini terbukti amat memengaruhi agenda kebijakan publik, dengan mendesak pemerintah –baik di tingkat lokal maupun nasional– untuk menerapkan pandangan mereka mengenai moralitas dan pemahaman mereka mengenai ortodoksi. Meskipun pada dasarnya bersifat anti-demokrasi, semua organisasi di atas justru memanfaatkan ruang-ruang bebas yang disediakan oleh demokrasi.

Pertanyaannya, apakah organisasi-organisasi itu tumbuh berjalan seiring dengan meningkatnya konservatisme sosial masyakarat Indonesia, atau karena koneksi-koneksi politik tingkat tinggi yang kuat? Mengapa mereka tampak lebih efektif dalam advokasi mereka dibanding organisasi-organisasi lainnya seperti LSM-LSM hak-hak asasi manusia (HAM)?  Kepentingan siapakah yang sebetulnya mereka bela dan perjuangkan?

Dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML) yang ketujuh kali ini, Sidney Jones akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dari perspektif teori gerakan sosial. Selain itu, dia juga akan mengevaluasi berbagai tawaran yang sudah diajukan untuk “mengatasi” organisasi-organisasi di atas dan memperkuat pluralisme seperti yang pernah disuarakan almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Beberapa kalangan menyerukan pembubaran organisasi seperti Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok-kelompok lain yang sering main hakim sendiri dan kebal menggunakan cara-cara kekerasan. Kalangan lainnya lebih fokus pada upaya memperkuat komitmen kepada Pancasila.  Namun, sering kali juga tampak nostalgia yang salah kaprah kepada masa lalu, seakan-akan Indonesia di bawah Orde Baru, yang memaksakan penataran Pancasila, adalah sebuah surga yang pluralis atau bahwa sebuah ideologi negara bisa menjadi penangkal yang efektif terhadap intoleransi di era Facebook dan Twitter sekarang ini.

NMML akan diakhiri dengan analisis mengenai peran kepemimpinan dalam “mengatasi” organisasi-organisasi masyarakat madani garis-keras di atas. Diharapkan bahwa ini merupakan pesan yang penting bersamaan dengan kita memasuki tahun Pemilu 2014.***

Biografi Singkat Sidney Jones

Sidney Jones adalah Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang berbasis di Jakarta. Organisasi ini, yang pertama-tama akan memokuskan perhatian pada Indonesia, fokus pada lima jenis konflik: tanah dan sumberdaya, pemilihan umum, komunal, separatisme dan proses perdamaian, ekstremis dan vigilantis.  Sebelum menjalankan IPAC, dari 2002 hingga Juli 2013, Sidney bekerja pada International Crisis Group (ICG), pertama sebagai direktur proyek Asia Tenggara, lalu, sejak 2007, sebagai penasihat senior untuk program Asia.

Sebelum bergabung dengan ICG, Sidney bekerja pada Ford Foundation di Jakarta dan New York (1977-1984); Amnesty International di London sebagai peneliti untuk wilayah Indonesia, Filipina dan Pasifik (1985-1988); dan Human Rights Watch di New York sebagai direktur untuk wilayah Asia (1989-2002). Dia sempat cuti dari Human Rights Watch pada 1995 untuk menulis monografi mengenai migrasi tenaga kerja Indonesia ke Malaysia, dan pada 1999-2000 untuk bekerja sebagai kepala bidang hak-hak asasi manusia (HAM) pada UN Transitional Administration in East Timor.

Dari segi pendidikan, Sidney memperoleh gelar B.A. dan M.A. dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Sebagai mahasiswa, dia pernah tinggal di Shiraz, Iran, selama setahun, 1971-1972, dan belajar Bahasa Arab di Cairo dan Tunisia.  Sidney memperoleh doktor kehormatan dari New School for Social Research di New York pada 2006. Sidney Jones bisa dihubungi melalui email: [email protected] atau Twitter @sidneyIPAC.

Comments

comments