[Buletin Jumat] Menghadiri Undangan Allah

Buletin Jumat Paramadina

Menghadiri Undangan Allah*

Seandainya Allah SWT mengundang kita dalam perjamuan bersama-Nya, apa yang akan kita siapkan untuk menghadirinya? Apakah kita akan menyiapkan busana yang indah dan mewah lengkap dengan semerbak wewangian mahal?

Ataukah kita akan mempersiapkan segudang pengetahuan disertai daftar riwayat hidup (curriculum vitae) yang memukau? Atau kita akan membawa kehebatan keturunan (nasab), memamerkan kekayaan atau bahkan penderitaan kita?

Saat mengundang kita dalam perjamuan-Nya, Allah tidak membutuhkan apapun kecuali kehadiran kita dengan sepenuh hati. Kita tak perlu risau dengan hidangan apa yang akan Allah berikan pada kita. Makanan pembuka, menu utama, dan hidangan penutup apa yang akan Allah suguhkan pada kita. Jika kita masih risau dengan itu semua, maka kita belum percaya atau beriman kepada Allah dengan sepenuh hati.

Bisa jadi banyak dari kita akan bertanya, “Kapan Allah akan mengundang kita dalam perjamuan-Nya?” Jawabannya adalah saat ini! Sesungguhnya saat ini Allah tengah menghidangkan perjamuan agung-Nya di semesta ini.

Bagaimana Allah menjamu kita? Jamuan Allah adalah anugerah-Nya. Dengan semua yang telah Allah tebarkan dan limpahkan kepada kita. Segala peristiwa yang sedang berlangsung saat ini adalah perjamuan Allah. Itulah kesempurnaan yang sedang berlangsung.

Kebanyakan dari kita berpikir bahwa sesuatu yang sempurna adalah yang bersifat baik atau kebaikan saja. Sedangkan yang buruk atau keburukan dianggap tak sempurna. Padahal sesuatu yang sempurna itu adalah gabungan dari yang baik dan buruk atau positif-negatif.

Lampu neon, misalnya, itu bisa menyala karena adanya arus listrik. Dalam arus listrik terdapat muatan positif (proton) dan muatan negatif (elektron). Jika hanya ada salah satu elemennya saja, maka lampu neon tidak akan menyala. Ia tidak akan bisa memancarkan cahayanya. Itulah kesempurnaan yang utuh.

Jadi, positif-negatif atau baik-buruk itulah hidangan Allah kepada kita. Segalanya adalah hidangan perjamuan Allah untuk kita. Mulai dari matahari yang bersinar, rembulan yang memantulkan cahaya matahari, angin yang berhembus, bumi yang kita pijak, atau udara yang kita hirup beserta bencana alamnya.

Juga, darah yang mengalir dalam badan, tulang yang menopang tubuh, daging dan kulit yang membungkus jasad, mata dengan kelopak dan retina beserta berbagai penyakitnya masing-masing. Seluruh yang ada di dalam diri kita semua itu adalah suguhan atau hidangan perjamuan dari Allah.

Apakah kita bisa menghitung segenap hidangan yang Allah berikan kepada kita, sementara segalanya adalah hidangan-Nya. Tiap saat Allah menggelar perjamuan di alam semesta ini dalam segala perwujudan-Nya, baik yang zahir maupun yang batin.

Dengan segenap anugerah dan karunia-Nya, apakah kita tidak malu saat berada di tengah-tengah meja perjamuan Allah kita sibuk dengan perangkat elektronik (gadget) kita. Atau kita sibuk berceloteh membanggakan ilmu, kekayaan, jabatan, atau bahkan tentang kesalehan kita.

Semua itu sama sekali tidak penting dan sedikitpun tidak ada nilainya di hadapan Allah yang Maha Agung, Maha Mengetahui, Maha Kaya, dan Maha Bijaksana.

Benarkah Allah mengundang kita? Jika masih tak yakin betapa Allah senantiasa mengundang kita dengan ungkapan yang sangat mesra, simaklah ayat ini:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah, pulanglah kepada Tuhanmu dengan kerelaan dan keridaan. Masuklah kalian semua menjadi hamba-Ku dan masuklah dalam perjamuan surga-Ku”  (Q.S. Al-Fajr [89]:27-30).

Pada ayat itu, Allah tidak memanggil nama, kesalehan, jabatan, keturunan, suku dan bangsa kita, tapi Dia memanggil jiwa yang tenang. Ayat ini tidak hanya tentang surga dan Hari Akhirat, tapi juga berbicara tentang kehadiran kita saat ini. Kehadiran diri kita pada detik ini dalam menikmati kehadiran Allah secara utuh.

Kenapa saat ini kita sulit untuk bisa merasakan atau menikmati perjamuan Allah? Karena kita masih terseret dengan masa lalu dan selalu risau dengan yang akan datang. Padahal terang-terangan di dalam Al-Quran Allah menyatakan bahwa di antara tanda-tanda kekasih-Ku adalah mereka yang tidak sedih dengan masa lalu dan tidak risau dengan apa yang akan terjadi akan datang. Dan pribadi yang demikian adalah mereka yang senantiasa hadir menikmati secara utuh segala perjamuan Allah yang menghampirinya dalam setiap momen.[]

*Transkrip Khutbah Jumat, 30 Januari 2015, di Yayasan Paramadina. Khatib: Abdullah Wong.

Comments

comments