[BULETIN JUMAT] Mati Tak Perlu Ditakuti

buletin jumat

MATI TAK PERLU DITAKUTI

Pembahasan tentang kematian masih dianggap banyak kalangan menyeramkan atau menakutkan. Padahal kematian adalah sesuatu yang pasti datang pada tiap makhluk Allah. Kematian bukan untuk kita takuti. Apalagi yang terindah dalam hidup ini selain bertemu dengan Yang Maha Pengasih dan Penyayang?

Cita-cita atau keinginan kita adalah sesuatu yang belum pasti terjadi. Tapi kematian pasti akan terjadi dalam hidup kita. Sesuatu yang pasti akan datang dan tidak bisa kita hindari. Kita perlu menyadari bahwa cepat atau lambat kematian pasti akan sampai kepada kita.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (Q.S. Al-Ankabut[29]:57).

Dengan menyadari hal itu semestinya kita akan semakin mempersiapkan diri untuk menghadapi tiap detik, menit, jam atau hari esok untuk bisa melakukan amal-amal saleh. Mempersiapkan bekal untuk menuju ke hadirat-Nya.

Kematian merupakan salah satu tema yang memiliki keunikan tersendiri. Saat kita membicarakan bagaimana rasanya kematian itu, maka tidak akan ada yang tahu. Karena kita belum pernah mati. Setiap orang yang telah meninggal dunia pun tidak pernah kembali lagi ke dunia ini untuk menceritakan bagaimana rasanya kematian itu.

Ilmu pengetahuan juga sukar untuk bisa mengerti tentang kematian. Ilmu kedokteran, misalnya, mengatakan bahwa seseorang dikatakan telah meninggal dunia ketika darah yang ada di dalam dirinya sudah tidak mengalir lagi. Atau saat segenap organ-organ tubuh sudah tidak bisa berfungsi lagi. Ilmu kedokteran hanya bisa menjelaskan sebatas itu. Tapi tidak sanggup untuk menjelaskan apa yang akan terjadi setelah kematian.

Ilmu filsafat yang lahir di Barat juga demikian. Misalnya, aliran Materialisme. Bagi aliran ini, yang namanya hidup itu adalah jasad. Sementara ruh hanya menumpang pada jasad. Saat jasad sudah hancur, maka ruh tak ada lagi. Begitu juga dengan aliran Idealisme. Aliran ini mengatakan bahwa yang pasti ada adalah ruh. Sedangkan jasad atau sesuatu yang bersifat material adalah persepsi kita.

Kedua aliran filsafat ini tak bisa menjawab persoalan seputar kematian dengan sempurna. Salah satu jawaban yang lebih menyeluruh diberikan oleh agama. Agama adalah jalan atau petunjuk dari Tuhan bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia sampai akhirat.

Al-Quran memang tidak menjelaskan secara rinci bagaimana proses terjadinya kematian. Ayat-ayat yang berbicara tentang kematian juga jumlahnya tak banyak. Yang paling banyak adalah ayat-ayat yang menceritakan kejadian di balik kematian itu. Tafsir terhadap berbagai ayat itu sedikit-banyak mampu membantu kita memahami kematian.

Adalah Imam al-Ghazali yang mencoba untuk menafsirkan kematian. Ia menganalogikan seseorang yang sedang dicabut nyawa atau ruhnya itu ibarat pohon yang dicabut dari tanah tempat ia tumbuh.

Dalam sebuah riwayat juga diceritakan: Suatu hari malaikat maut, Izrail, menghampiri Nabi Musa AS. Lalu beliau bertanya, “Wahai Izrail, apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku atau untuk bersilaturahim kepadaku?” Izrail menjawab, “Saya datang untuk mencabut nyawamu.”

“Apakah tidak bisa ditunda sebentar saja? Saya mau berpamitan dengan ibu, istri dan anak-anakku?” kata Musa. Izrail: “Jika saatnya sudah tiba tdak boleh ditunda sedikit pun dan tidak boleh dimajukan sedikitpun.”

Lalu Musa bersujud kepada Allah dan memohon kepada-Nya, “Ya Allah, beri saya kesempatan untuk bertemu dengan ibu, istri dan anak-anakku. Saya hendak meminta maaf kepada mereka. Izinkan saya, ya Allah.”

Allah mengisyaratkan kepada Izrail, “Wahai Izrail, beri kesempatan kepada Musa untuk meminta maaf kepada ibu, istri, dan anak-anaknya.” Izrail pun membiarkan Musa bertemu dengan ibu, istri, dan anak-anaknya.

Wahai ibuku, kata Musa, sesampainya di rumah. “Saya mohon pamit.” “Pamit ke mana,” tanya sang ibu. “Saya akan melakukan perjalanan panjang,” jawab Musa. Ibu: “Perjalanan ke mana?” Musa: “Perjalanan ke akhirat.”

Mendengar pernyataan Musa itu sang ibunda beserta istri dan anak-anaknya menangis. Musa pun ikut larut dalam tangis bersama mereka.

Sesaat kemudian Allah berkata kepada Musa, “Wahai Musa, apa yang engkau tangisi? Engkau akan bertemu dengan-Ku.” “Ya Allah, saya menangis bukan karena saya tidak suka untuk bertemu dengan-Mu, tetapi saya hawatir bagaimana kehidupan mereka sepeninggalku,” jawab Musa.

Allah menjawab, “Wahai Musa, itu urusan-Ku, bukan urusanmu. Aku yang akan memelihara mereka.”[]

 

*Naskah ini hasil transkrip Khutbah Jumat, 13 Maret 2015, di Yayasan Paramadina. Khatib: Prof. Dr. Yunasril Ali.

 

Comments

comments