20150410_120212

[Buletin Jumat] MATI YANG INDAH

[Buletin Jumat]*

MATI YANG INDAH

Semua makhluk Allah akan mengalami kematian. Setiap kematian pasti sakit, sebagaimana disampaikan Nabi Musa AS dalam kisah di bawah ini. Secara psikologis seseorang bisa terhindar dari sakitnya kematian. Yaitu, ketika Allah menyingkapkan tempat yang indah untuknya setelah kematian. Sebaliknya, ketika Allah singkap suatu tempat yang menyakitkan atau menakutkan untuk dirinya, maka ia akan mengalami kegelisahan saat hadapi sakaratul maut.

Dalam dialog antara Nabi Musa AS dengan Malaikat Izrail terjadi semacam tawar-menawar. Setelah malaikat maut itu datang untuk mencabut nyawa dan Musa minta ditunda sejenak kemudian Allah izinkan (dialog lengkapnya di sini), terjadi lagi kompromi keduanya.

Izrail kembali mendatangi Musa dan berkata, “Wahai Musa, sekaranglah waktunya.” Lalu Musa berkata, “Silakan, wahai Izrail. Tapi darimana engkau akan mencabut nyawaku?” “Aku akan mencabutnya dari mulutmu,” jawab Izrail.

Musa berkata, “Mulut inilah yang melantunkan dan  menyebarkan Taurat kepada kaumku. Apakah engkau akan mengambil nyawaku dari mulut yang senantiasa membaca Taurat?” Izrail: “Kalau begitu, saya akan mencabut nyawa dari tanganmu.”

“Wahai Izrail, tangan inilah yang membawa Taurat dari Bukit Tursina kemudian menyebarkannya ke tengah-tengah umatku,” jawab Musa. Izrail: “Kalau begitu wahai Musa aku akan mencabut nyawa dari kakimu.”

Lalu Musa mejawab, “Wahai Izrail, kaki inilah yang datang dan berjalan ke Bukit Tursina.” Izrail: “Kalau begitu wahai Musa, saya beri engkau satu buah-buahan yang harum.”

Musa pun menghirup harumnya buah-buahan itu. Setelah melepaskan hirupan itu lepas pula ruh Musa dari jasadnya. Musa pun disambut para malaikat.

Mereka berkata pada Musa: “Wahai Musa, nabi yang paling mudah meninggalnya. Bagaimana rasanya meninggal?” Musa menjawab, “Seperti seekor kambing yang dikelupas kulitnya ketika dia masih hidup.”

Kematian merupakan satu-satunya jalan penyeberangan atau pintu antara dunia fisik menuju dunia akhirat. Kematian juga pintu bagi seorang hamba untuk bertemu Tuhannya. Supaya penyeberangan bisa berjalan lancar dan menyenangkan, kita dianjurkan untuk banyak melakukan amal-amal saleh.

Tentunya amal yang kita lakukan dengan niat karena Allah (li ‘Llahi Ta‘ala). Dengan melakukan amal saleh dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, kita berharap menjadi golongan orang-orang yang wafat dalam keadaan yang baik dan mulia (husnu ‘l-khatimah), bukan sebaliknya (su’u ‘l-khatimah).

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, banyak orang yang mendapatkan akhir hidup yang baik. Wafat dalam keadaan husnl-khatimah. Tapi tak sedikit pula yang kematiannya tidak baik. Wafat dalam keadaan su’ul-khatimah.  

Terkait ini ada sebuah cerita tentang seorang ulama besar yang meninggal dalam keadan yang sangat indah. Beliau adalah Syekh Daud Rasyidi yang tinggal di Balingka, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Suatu hari Syekh Daud pergi untuk mengisi ceramah di daerah Batu Sangkar. Setelah selesai melakukan dakwah, dia pulang pada sore hari. Dalam perjalanan menuju ke rumah, ia singgah di Surau Syekh Muhammad Jamil Jambe.

Di surau itu ia dipersilahkan untuk menjadi imam Salat Magrib. Saat menjadi imam, sujud terakhirnya sangat lama. Sehingga para makmum merasa heran. Mereka menduga-duga kenapa sang imam tak kunjung bangun. Ternyata Syekh Daud menghembuskan nafas terakhirnya di sujud terakhirnya itu.

Sebagai penutup, marilah sama-sama kita renungkan syair berikut: “Wahai anak keturunan Adam, engkau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan menangis. Sementara orang-orang yang menyaksikan kelahiranmu tersenyum riang gembira menyambut kedatanganmu. Maka bersungguh-sungguhlah dengan amal baik. Karena ketika engkau meninggalkan mereka, kau akan tersenyum pada mereka.  Sementara mereka akan menangisi kepergianmu.” []

 

*Naskah ini hasil transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina, 13 Maret 2015. Khatib: Prof. Dr. Yunasril Ali. Naskah ini kelanjutan atau bagian akhir dari Buletin Jumat sebelumnya (MATI TAK PERLU DITAKUTI).

 

Comments

comments