Reflection for Wisdom

REFLEKSI KUNCI KEBIJAKSANAAN

[Diskusi Penelitian]

REFLEKSI KUNCI KEBIJAKSANAAN

Saat ini banyak tindakan individu yang tak menunjukkan kebijaksanaan. Mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran hukum, pengrusakan lingkungan, aksi kekerasan, pelecehan seksual, bahkan hingga pembunuhan atau bunuh diri.

Ilmu Psikologi salah satu yang berupaya untuk mencari solusi gejala-gejala negatif itu. Salah satunya dengan menguatkan kualitas kebijaksanaan (wisdom) dalam diri tiap individu. Begitulah kesimpulan diskusi bertajuk ‘Reflection for Wisdom’ di Aula Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Jakarta (9/4/2015).

Kebijaksanaan, menurut Dr. Riana Sahrani, mempermudah individu dalam menilai arti kehidupan, menjalani kehidupan secara harmonis, demi kepentingan pribadi dan kesejahteraan bersama. Kebijaksanaan mencakup aspek kognitif, afektif, dan reflektif.

“Di psikologi, kebijaksanaan dipahami sebagai kemampuan dan pengetahuan individu tentang hal-hal mendasar dalam kehidupan yang membuatnya lebih siap menghadapi masalah dan ketidakpastian hidup,” ulas dosen Universitas Tarumanegara ini.

Kebijaksanaan, menurut Riana, awalnya topik yang banyak dibahas para filsuf dan agamawan. Baru pada dekade 1970-an kebijaksanaan diteliti secara empirik dalam studi psikologi. Dari berbagai penelitian yang ada, kebijaksanaan selalu terkait dengan hal positif.

“Di antaranya, kebijaksanaan berkaitan dengan dengan kapasitas inteligensi yang baik, kematangan kepribadian, kecerdasan sosial, penalaran moral, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kepuasan hidup,” papar peraih gelar doktor Psikologi dari Universitas Indonesia ini.

Bagi Riana, kebijaksanaan tak identik dengan mereka yang berada di usia matang atau yang berpenampilan religius. Potensi kebijaksanaan, sambungnya, juga terdapat pada remaja, bahkan anak-anak.

“Kebijaksanaan dapat ditemukan pada individu di setiap tahapan usia. Kebijaksanaan tidak ada kaitannya dengan usia,” tegas Riana.

Pertanyaannya, bagaimana menggali dan mengembangkan potensi kebijaksanaan dalam diri tiap individu?

Dari riset doktoral Riana, refleksi menjadi kata kunci bagi pengembangan kebijaksanaan dalam diri seseorang. Ada tiga hal yang didapatkan seseorang dari refleksi.

Pertama, seseorang mendapatkan pemahaman dan hikmah dari pengalaman hidupnya. Kedua, ada pencerahan (insight). Dan terakhir, merespon lebih baik terhadap masalah yang ada dihadapinya,” urai Riana.

Menurutnya, refleksi yang baik itu perlu stategi. Refleksi bisa maksimal jika tiap individu melakukannya dengan strategi yang tepat. Yaitu dengan strategi self-distanced dan self-immersed.

Strategi self-distanced adalah memikirkan kembali peristiwa-peristiwa sulit di masa lampu dari sudut pandang orang ketiga. Seakan-akan individu itu kita sedang mengobservasi diri kita sendiri dari jarak pandang tertentu.

Sedangkan dalam strategi self-immersed kita memikirkan kembali kejadian sulit di masa lalu secara rinci. Dengan merasakan kembali emosi yang ada. Seakan-akan mengalami kejadian itu lagi.

Dari dua strategi yang ada, Riana merekomendasi strategi yang pertama. Dengan strategi yang kedua, seseorang seperti diarahkan untuk mengenang kembali pengalaman traumatis yang mungkin sudah susah-payah ia kubur dalam-dalam.

“Kebijaksanaan akan lebih berkembang apabila individu melakukan refleksi kesulitan hidupnya dengan strategi refleksi self-distanced,” kata Riana.*** [ia]

 

Comments

comments