Buletin Jumat Paramadina

[Buletin Jumat] ALLAH ESA TAK BERPORI*

[Buletin Jumat]
ALLAH ESA TAK BERPORI*
 
Suatu ketika orang-orang musyrik Makkah mendatangi Nabi Muhammad SAW. Mereka bertanya: “Siapa Dia yang suka kamu sebut sebagai Tuhanmu? Tercipta dari apa dan berjenis kelamin apa?”
Pertanyaan ini di antara sebab Allah SWT menurunkan Surah al-Ikhlas kepada nabi. Di surah ini untuk pertama kalinya Diamemperkenalkan diri-Nya dengan sebutan Allah. Pada surah atau ayat-ayat sebelumnya Allah belum memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan Allah.  
Al-Ikhlas adalah surah ke-19 yang nabi terima. Surah yang turun di Makkah (Makkiyah) ini terdiri dari empat ayat. Turunnya surah ini merupakan respon terhadap pertanyaan orang-orang musyrik kepada Rasulullah.
Saat orang-orang musyrik bertanya tentang siapa nama Tuhan yang beliau sembah, Nabi SAW menjawab:Qul huwa ‘L-lâhu ahad.Artinya, katakanlah Muhammad, Dia yang engkau suka sebut Allah itu adalah Esa (Ahad).
Dalam terjemahan bahasa Indonesia ada beberapa kekeliruan terkait surah ini. Ayat pertama Surah Al-Ikhlas ini lazim diterjemahkan dengan, “Katakanlah Dia-lah Allah yang Esa. Jika terjemahan demikian maka ayatnya berbunyi:Qul huwa‘L-lâhulahad.
Kata ahad berarti mono atau esa. Hal ini berarti kata “Allah” sudah ada sebelum lahirnya Islam. Kata ini juga telah digunakan orang-orang musyrik Makkah untuk menyebut nama dewa yang mereka sembah.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (masyarakat musyrik sebelum Islam): ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan yang menundukkan matahari serta rembulan, maka niscaya mereka akan menjawab: allah’” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 61).
Orang-orang musyrik sebelum Islam menyebut dewa yang menciptakan alam semesta ini dengan sebutan ‘allah. Islam juga hadir menggunakan nama yang sama tapi dengan makna yang berbeda. Lafal Allah” yang tipis (tarqiq) diubah menjadi tebal (tafkhim). Dari “allah” berubah menjadi “Allah.
Kendati demikian, saat umat Islam menyebut nama Tuhan dengan menggunakan kata ‘Allah,kritik pun datang bertubi-tubi kepada nabi. Beliau dianggap kaum musyrik menggunakan nama yang sama. Nabi pun kemudian menggunakan namaSang Penyayang (Al-Rahman) untuk merujuk nama Allah. Kritik pun pun tak kunjung berhenti. Mereka menganggap nabi tidak konsisten dalam menyebut nama Tuhan yang beliau sembah.
Setelah itu turunlah ayat Al-Quran, “Wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka, dengan nama apa saja engkau memanggil Tuhanmu, baik dengan nama Allah maupun Al-Rahman. Sesungguhnya Allah memiliki nama-nama terbaik(Asma’ al-Husna) (Q.S. Al-Isra’ [17]: 110).
Kata ahad sendiri dalam ayat pertama Surah al-Ikhlas berbeda dengan wahid. Kata wahid menunjukkan bilangan satu. Satu itu terdiri dari berbagai unsur. Misalnya, jika kita menyebut satu jam tangan, maka jam itu terdiri dari beberapa unsur di dalamnya. Ada jarum jam, batu baterei, dan lainnya. Sedangkan kata ahad yang dimaksud Al-Quran menunjuk pada makna mono atau esa. Ia tidak merujuk pada unsur-unsur lain.
Ayat kedua Al-Ikhlas, Allâhu lshamad”, biasanya diartikan sebagai tempat bergantung. Sebagian ulama mengartikan kata “alshamad” dengan sesuatu yang padat dan tidak berpori-pori. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak berpori-pori. Jika Allah berpori-pori maka niscaya Dia kemasukan benda-benda lain. Sehingga Allah tidak menjadi mandiri atau otonom.
Ayat ini bisa diartikan, Allah yang padat tempat kita bergantung sehingga tidak ada keputusan-Nya yang bisa diintervensi manusia. Karena itu ayat selanjutnya, ‘Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan’ (lam yalid wa lam yûlad) dan ‘Tidak ada yang setara dengan Allah’ (wa lam yakun lahu kufuwan ahad).
Surah ini menegaskan satu konsep ketuhanan yang menggambarkan Allah sebagai Zat yang Esa. Tempat kita bergantung.Ayat ini juga sekaligus menegasikan dugaan sekelompok orang tentang dimungkinkannya Allah memiliki seorang anak.[]
*Hasil transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina, 29 Maret 2015. Khatib: Dr. Abdul Moqsith Ghazali.

Comments

comments