Kutbah shalat Jumat

Lebih Baik Mantan Preman daripada Mantan Kiai

 [Buletin Jumat]
Jika kini Allah SWT menjadikan kita orang yang baik atau saleh janganlah berbangga diri dengan kesalehan itu. Bisa jadi suatu saat nanti kita malah berbalik menjadi orang yang tak saleh dan tidak baik.

Seandainya di antara kita ada orang-orang yang tak saleh atau tidak baik janganlah mencibirnya. Bisa saja suatu waktu Allah mengubahnya menjadi lebih baik dari kita. Semua hal bisa saja terjadi jika Allah menghendakinya.

Adegan Sinetron Mantan Preman RCTI

Adegan Sinetron Mantan Preman RCTI

Ada pepatah yang mengatakan mantan preman masih lebih baik ketimbang mantan kiai. Mungkin saja mantan preman menjadi kiai. Sebaliknya, mantan kiai menjadi preman, bahkan bisa lebih buruk dari itu.

Dalam sejarah Islam, hal itu pernah terjadi. Misalnya, cerita tentang seorang ulama yang bernama Malik bin Dinar.

Sebelum menjadi ulama, Malik bin Dinar adalah orang yang suka melakukan maksiat, mabuk-mabukan, berbuat onar, mengambil hak orang lain, dan memakan riba. Sungguh sangat banyak kejahatan yang dilakukan Malik bin Dinar sehingga orang-orang di sekelilingnya sangat tak suka dan membencinya.

Suatu hari Allah memberikan hidayah padanya. Kemudian ia bertobat dengan sebenar-benarnya. Tak hanya itu, Allah juga memberkan ilmu agama yang luas padanya. Perubahan drastis itu  membuatnya menjadi terkenal di kalangan orang-orang alim di zaman itu. Tak sedikit pula ungkapan atau nasihatnya dikutip paraulama sesudahnya seperti oleh Syihabuddin bin Ahmad bin Hajjar al-Asqalani.

Dalam kitab hadisnya, Ibnu Hajjar al-Asqalani sempat mengutip salah satu ungkapan dari Malik bin Dinar: “Cegahlah tiga hal dengan tiga hal agar kamu menjadi orang-orang yang beriman.” Berikut detailnya.

Pertama, cegahlah sikap sombong (al-qibru) dengan sikap rendah hati. Menurut Imam Nawawi al-Bantani, sombong adalah melihat diri sendiri dengan rasa kagum berlebih. Sebaliknya, melihat orang lain begituremeh dan mencelanya dengan sesuatu yang kurang baik.

Cikal-bakal lahirnya sombong berasal dari sifat ujub. Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri. Merasadirinya lebih dalam banyak hal, tanpa melihat siapa yang memberikan kelebihan tersebut. Saat ia membandingkan kelebihannya dengan orang lain berarti ia sudah sombong.

Terkait hal ini, dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: “Ada tiga hal yang membinasakan. Pertama, kekikiran yang terlalu akut. Kedua, selalu mengikuti hawa nafsu. Ketiga, seseorang yang selalu terheran-heran dengan dirinya sendiri.

Jadi, ketika kita tetap membiarkan sifat ujub yang ada di dalam diri kita, maka lamakelamaan sikap ujub ituakan mengembang menjadi sifat sombong (al-qibru). Saat sifat sombong telah keluar dalam perkataan, sikap, dan perbuatan, maka orang yang memiliki sifat itu dalam ilmu akhlak disebut dengan takabbur atau sombong.

Kedua, cegahlah sifat cinta pada dunia dengan sikap menerima apa adanya (qanaah). Orang yang jatuhcinta pada dunia takkan melihat dunia sebagai alat atau kendaraan untuk menuju kehidupan akhirat. Hampir seluruh waktunya difokuskan untuk kepentingan dunia.

Menjaga Hati

Menjaga Hati

Sebagaimana digambarkan Al-Quran, orang yang telah cinta pada dunia cenderung untuk terus mengumpulkan, menyimpan, dan menghitung-hitungnya. Tanpa ia sadari dunia telah menjadi tujuan hidupnya. Saat itulah ia menjadi orang yang telah menuhankan dunia.

Untuk mencegah terjangkitnya virus cinta dunia kita dianjurkan untuk qanaah. Dalam bahasa Jawa qana’ahditerjemahkan dengan nerimo ing panduk. Dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Abbas RA, Nabi Saw pernah mengatakan pada para sahabatnya:

“Jika kamu ingin menjadi orang yang paling kaya, maka ridhalah kepada apa yang telah Allah berikan kepadamu.

Imam Ali bin Abi Thalib KW juga pernah mengatakan: “Sikap menerima apapun yang Allah berikan pada kita setelah kerja keras itu merupakan kekayaan yang tidak pernah musnah dalam kehidupan seseorang.

Ketiga, cegahlah sikap iri dengki (hasad) dengan nasihat. Hasad adalah sifat tak rela terhadap keputusan yang Allah sudah tetapkan pada hamba-Nya. Dalam kitabnya, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa hasadadalah salah satu bagian penyakit hati yang paling besar. Sifat ini bisa mengubah akidah dan keyakinan seseorang. Karena itu cegahlah sifat hasad dengan sering mendengarkan nasihat.

Jika kita terkena penyakit hasad maka segeralah untuk mengobatinya. Apabila penyakit itu terjadi pada orang lain, kita sebaiknya berusaha untuk membimbingnya keluar dari sifat itu. Dengan cara membiasakan dirinya untuk ikhlas atau tulus. Melatih diri untuk senantiasa melakukan segala sesuatu karena Allah.  

Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa mencegah tiga hal buruk tadi dengan tiga hal baik.Semoga kita juga bisa mengambil hikmah dari cerita Malik bin Dinar. Yaitu, tidak berbangga diri dengan segala kebaikan yang Allah anugerahkan pada kita dan tidak mencela keburukan orang-orang sekeliling kita.[]

*Hasil transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina, 06 Maret 2015. Khatib: Dr. Umar Ibrahim.  

Comments

comments