Foto: Youtube (NASRProductionz)
Foto: Youtube (NASRProductionz)

Allah Dekat, Bebas dari Gelap [Buletin Jumat]

Di awal Surah Ibrahim Allah menegaskan bahwa kitab suci Al-Quran yang Ia turunkan pada Nabi Buletin ParamadinaMuhammad SAW dapat membebaskan kita dari berbagai macam kegelapan.

Allah memberi kita petunjuk, akal sehat, dan wahyu melalui nabi dan rasul-Nya. Semua itu gunanya supaya kita keluar dari kegelapan, ketidakbenaran, dan keluar dari perbuatan atau sikap-sikap yang membuat kita sengsara.

Allah berfirman: “Alif, lam, ra. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh” (Q.S. Ibrahim[14]:1-3)

Semua yang tidak benar merupakan kegelapan. Sikap-sikap atau perbuatan yang tak baik itu adalah kegelapan. Pandangan dan sikap yang dikuasai hawa nafsu itu juga kegelapan.

Inilah gunanya Al-Quran. Setiap hari baca Al-Quran dan perhatikan berbagai pesannya, kita menyadari betapa kecil kita ini. Allah yang menciptakan dan memiliki langit dan bumi. Langit tak terhingga betapa luasnya. Bintang-bintang tidak terhitung banyaknya. Bahkan, menurut salah satu sarjana astronomi, jumlah bintang tak kurang dari banyaknya pasir yang ada di bumi ini.

Itu semua adalah ciptaan dan milik Tuhan. Bumi yang kita pijak ini kecil sekali dibandingkan dengan kebesaran itu. Sebagai milik dan ciptaan-Nya, kita juga begitu kecil dibandingkan semesta.

Dengan kebesaran Allah itu, masih saja banyak yang keliru memahami-Nya. Di antaranya,  pandangan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Atau mengatakan bahwa Tuhan sangat jauh. Dia tak memberikan perhatian kepada kita. Bahkan Tuhan dianggap tak tahu dengan apa yang kita perbuat.

Hal ini seperti pandangan orang jahiliyah di zaman Nabi Muhammad. Jika mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: “Allah.” Tapi saat ditanya kenapa mereka tak menyembah Allah? Mereka menjawab: ‘Tuhan terlalu jauh untuk disembah. Tuhan tak memperhatikan kita. Tuhan tidak mengetahui apa yang kita lakukan.” Lalu ketika ditanya, siapa yang tahu apa yang kita lakukan? Mereka jawab: ‘Dewa-dewa di sekitar kita.’

Inilah pandangan yang keliru. Sikap-sikap yang dipenuhi kegelapan. Hal ini yang membawa kita keluar dari cahaya kebenaran.

Di dalam Al-Quran, Allah mengatakan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Pada ayat lain Allah berfirman: “…Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (Q.S. Al-Hadid [57]: 4). Dalam surah lain, Allah berkata:

“Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 7).

Alhamdulillah, kita termasuk orang yang beruntung. Kita sudah berada di dalam kebenaran. Tetapi kita harus selalu waspada dengan hawa nafsu yang melalaikan kita. Kita mesti waspada dengan kesibukan-kesibukan kita yang membuat kita lalai dengan Tuhan. Kita harus hati-hati dengan aktivitas yang membuat kita tak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban kita.

Nah, inilah yang harus kita upayakan setiap saat. Setiap hari kita berupaya membaca satu atau dua lembar ayat Quran beserta maknanya. Selain kita perhatikan maknanya, sudahkah kita melaksanakan atau mengikuti kewajiban dan anjuran-Nya? Semoga kita selalu waspada dengan hawa nafsu yang selalu membawa kita kepada kegelapan itu.[]

*Hasil transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (29 Mei 2015). Khatib: Prof. Dr. Aziz Dahlan.  

 

Comments

comments