Poster-11-722x1024

69 Tahun Abdul Hadi WM “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber”

Kamis, 25 Juni 2015, Pukul 15.30-22.000 WIB.

Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina.

Jl. Gatot Subroto, Kav. 97, Mampang, Jakarta Selatan.

  • Dialog Kebudayaan: “Islam, Cakrawala Estetika, dan Budaya”

Pembicara:

Prof. Abdul Hadi WM (Sastrawan dan Guru Besar Universitas Paramadina)

Prof. Edy Sedyawati (Guru Besar Universitas Indonesia)

Prof. Kacung Marijan (Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud)

 

  • Orasi Kebudayaan: “Abdul Hadi WM dan Sastra Sufistik Nusantara”

Maman S. Mahayana (Sastrawan)

 

  • Tadarus Puisi Abdul Hadi WM:

Musikalisasi Puisi:  

Retum, Sasak Kalimalang, Zoroaster

Pembacaan Puisi:

Sofyan R.H. Zaid, Nurul Ismi, Mariyo Suniroh, Bilanova, Eka Wenats, Gayatri, Johny Itam, Rona Mentari, Frans Eko Danto, Muhammad Zainuri, Agung Solihin, Arifin.

 

Reservasi: Azka (082148657283) / Dwi (085813430071)

 

Nama lengkapnya, Abdul Hadi Widji Muthari. Biasa dikenal dengan sebutan Abdul Hadi W.M. (atau Abdul Hadi saja). Adalah salah seorang penyair terkemuka Indonesia modern yang lahir pada tanggal 24 Juni, di kota Sumenep, Madura, setahun setelah Indonesia merdeka. Menurut catatan ensiklopedi sastra Indonesia modern, semenjak menduduki bangku sekolah dasar, beliau sudah memiliki kegemaran mendengarkan dongeng dan membaca karya sastra.[ Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern, diterbitkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2003).]

Tidak mengherankan apabila menurut beberapa penuturan, pada usia 14 tahun beliau sudah mulai menulis sebuah karya sastra. ”Saya menyukai puisi sejak saya jatuh cinta” tuturnya. Di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), beliau termasuk salah seorang yang terobsesi oleh karya Chairil Anwar terutama sajaknya yang berjudul “Lagu Siul II” yang berkisah tentang laron (yang) pada mati.

Nama Abdul Hadi W.M. mulai dikenal luas bersamaan dengan naiknya pamor majalah Horison—pasca meredanya kerusuhan percobaan KUP yang terjadi pada tahun 66—sebagai salah seorang penyair yang getol dalam membela kebebasan kreatif seorang pengarang. Salah satu tulisannya yang paling terkenal dan terkait dengan hal tersebut adalah tulisan beliau yang berjudul “Sastra Besar, Tidak Lahir dari Slogan.”[ Tulisan tersebut juga dimuat dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual (Jakarta: 1985, Rajawali Press).] Dalam Tulisannya tersebut beliau mengatakan, bahwa tantangan murni seorang sastrawan adalah tantangan kreatif. Dan tantangan tersebut sangat luas dan kompleks; seluas dan sekompleks tantangan hidup itu sendiri: dimana seorang penyair memberikan reaksi kepada berbagai masalah yang terjadi di sekitarnya.

Beliau menambahkan—sambil mengutip Dami N. Toda[ Dami N. Toda adaah seorang sastrawan Indonesia modern (dari NTT).], bahwa seorang sastrawan, sebagaimana intelektual lain, tak perlu didorong-dorong, apalagi dipaksa-paksa untuk memilih mana tantangan yang penting bagi kerja kreatifnya. Mengapa? lanjut beliau, karena bereaksi terhadap masalah-masalah kehidupan adalah nalurinya. “… kebutuhan batinnya yang datang dari kesadarannya yang terdalam, … dan tanpa itu ia tidak akan kreatif!” pungkasnya.

Pada masa setelahnya—khususnya tahun 70a-an—nama Abdul Hadi W.M. mulai dikenal luas berkat kerajinannya menulis sajak-sajak islam-sufistik yang tertuang dalam karyanya yang berjudul: “Tuhan, Kita Begitu Dekat”[ Abdul Hadi W.M. Tuhan, Kita Begitu Dekat: Sebuah Antologi Puisi Sufistik (Komodo Books)] (1976). Dalam sebuah diskusi informal di kampus Universitas Paramadina—tempat beliau kini mengajar—Abdul Hadi W.M. seringkali mengatakan bahwa terkadang orang salah kaprah menganggap beliau sebagai seorang pakar kebudayaan, atau pemikir islam-nusantara, dsb., meskipun memang benar beliau sering menulis dan turut mengomentari berbagai macam isu ini dan itu, tetapi menurutnya yang lebih tepat disematkan adalah penyair, dan kalaupun belajar banyak hal mengenai sejarah, kebudayaan, antropologi, agama, Islam dll., hal itu dalam kaitannya dengan kepenyairannya.

Dari alasan ilmiah-historis-biografis yang sudah kami ajukan di atas, ternyata masih ada di lingkungan kampus sendiri yang belum mengenalnya. Karena itu, kami coba untuk (kembali) mengetengahkan kepada publik, serta menyuguhkan kembali sosok Abdul Hadi W.M. sebagai seorang sastrawan besar yang bergelut dengan sastra spiritual (baca: sufistik) secara serius dalam bentuk sebuah acara malam apresiasi Abdul Hadi W.M. dengan mengangkat tema “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber: Islam, Cakrawala Estetika dan Budaya, Mengenang Jejak Pemikiran Abdul Hadi WM“ di bulan Ramadhan ini.

Poster-1

Comments

comments