Foto: ceritajengyuni.blogspot.com
Foto: ceritajengyuni.blogspot.com

[Buletin Jumat] Ujian Hidup & Falsafah Tukang Parkir*

Persoalan hidup tak pernah selesai. Tak ada satu orang pun di antara kita yang bisa lepas dari ujian, cobaan, dan persoalan hidup. Permasalahan hidup bukan untuk diselesaikan, tapi mesti kita sikapi dengan bijaksana.

Hanya orang yang bersabarlah yang selalu enjoy dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. Sabar adalah sebuah kondisi batin yang bisa mengendalikan emosi seseorang. Kemudian ia bisa mengarahkannya pada sesuatu yang lebih baik.

Dengan sabar kita menginsafi semua anugerah Allah adalah titipan sebagaimana falsafah tukang parkir. Dengan begitu semua perkara kita kembalikan kepada Allah.

Hal ini Allah SWT tegaskan dalam Al-Quran: “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah [02]: 155).

Buletin Jumat ParamadinaAllah menguji kita dalam segala hal di medan kehidupan ini. Pertama, dengan sedikit rasa takut, resah, dan gelisah. Perasaan ini biasa dirasakan oleh orang-orang kaya.

Jangan kita beranggapan bahwa dengan menjadi kaya persoalan menjadi selesai. Justru orang kaya itu persoalannya lebih berat. Mereka takut perusahaan atau pabriknya bangkrut. Takut ditipu orang dan seterusnya. Jika main saham, mereka akan terus memantau naik-turun sahamnya itu. Mereka akan senantiasa dirundung rasa khawatir.

Kedua, ujian rasa lapar. Cobaan ini biasa dialami oleh orang-orang miskin. Mereka selalu mendapat kesulitan hidup. Bahkan hanya untuk mendapat sesuap nasi pun mereka sulit.

Ketiga, cobaan kekurangan harta. Hal ini biasa dialami oleh para pedagang atau pengusaha. Mereka sebenarnya sudah banyak hartanya, tapi merugi. Atau merasa selalu kekurangan harta.

Keempat, cobaan jiwa. Jika sebelumnya lebih pada fisik, ujian kali ini berupa non-fisik. Ini biasanya dialami oleh para ilmuan, ulama, dan public figure. Mereka tak jarang mendapat hujatan, kritik, dan label sesat.

Kelima, ujian panen (buah). Ini bisa dirasakan para petani. Hasil panen mereka, misalnya, berkurang signifikan. Biasanya panen apel ratusan ton jadi hanya puluhan ton.

Kita semua takkan bisa lepas dari ujian. Mulai dari orang kaya, kaum papa, pejabat, petani, pedagang, pengusaha, dan seterusnya. Tak ada di antara kita yang bisa menyelesaikan permasalahan hidup. Permasalahan hidup merupakan bagian dari kehidupan.

Karena itu yang terpenting adalah bukan bagaimana kita menyelesaikan persoalan hidup itu. Persoalan hidup itu takkan pernah selesai. Selesai yang satu akan datang yang lain. Begitu seterusnya. Tapi yang diperlukan adalah bagaimana kita bisa menyikapi segala persoalan hidup itu.

Itulah kenapa di ayat atas Allah mengakhirinya dengan kalimat: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Artinya, hanya orang yang bersabarlah yang selalu enjoy dan santai dalam menghadapi persoalan hidup.

Apa sebenarnya sabar itu? Seringkali kita salah persepsi tentang sabar. Sabar acapkali kita artikan diam atau tidak marah. Misalnya, saat istri kita ngomelngomel. Menurut Al-Quran, hal itu bukan sikap sabar.

Sabar adalah sebuah kondisi batin yang bisa mengendalikan emosi seseorang. Kemudian ia bisa mengarahkannya pada sesuatu yang lebih baik. Sabar, menurut Al-Quran, sifatnya itu dinamis bukan statis.

Sabarnya orang kaya adalah membantu orang-orang miskin. Sabarnya orang miskin itu giat bekerja untuk mencari nafkah. Sabarnya orang alim mengajar. Sabarnya seorang suami itu menafkahi keluarganya. Sabarnya seorang istri membantu suami dan mendidik anak-anaknya. Sabarnya seorang anak itu patuh dan berbakti kepada kedua orangtua.

Bagaimana kita bisa berlaku sabar? Apakah ada kiat atau resep yang bisa menyadarkan diri kita agar bisa berlaku sabar?

Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Q.S. Al-Hadid [57]: 07).

Ayat ini kiat pertama agar kita bisa bersabar. Semua anugerah Allah adalah titipan. Ia bukan sesuatu yang kita miliki. Kita tak boleh merasa bahwa semua yang Allah berikan itu punya kita. Semuanya adalah titipan Allah.

Harta banyak bukan punya kita, tapi milik Allah. Kita hanya dititipi-Nya. Ketika sudah merasa memiliki, kita akan semakin tersiksa. Saat kita merasa memiliki harta, dan ketika harta itu lenyap, kita gelisah dan stres. Begitu juga saat kita merasa memiliki jabatan. Saat ada mutasi, misalnya, kita jadi merasa gelisah. Jika kita anggap semua itu titipan, maka kita bisa tegar. Kita akan tetap tersenyum. Itulah sesungguhnya arti sabar.

Ada baiknya kita menjalani hidup ini seperti seorang tukang parkir. Tukang parkir itu tak pernah merasa memiliki. Mereka sadar semua mobil dan motor itu bukan milknya. Mereka hanya dititipi pemiliknya. Satu per-satu motor atau mobil akan diambil pemiliknya. Dan si tukang parkir takkan merasakan apa-apa. Karena dari awal ia sudah meyakini bahwa semua itu hanya titipan belaka.

Kita semua sesungguhnya adalah tukang parkirnya Allah. Kita hanya menerima titipan dari-Nya. Suatu kala nanti Allah akan ambil dengan cara bagaimanapun. Dengan kesadaran itu, kita tidak pernah merasa sedih dan gelisah. Kesadaran semacam inilah yang bisa membuat kita bersabar.

Tak hanya itu, kita juga harus selalu menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Allah SWT. Kiat kedua ini juga termaktub dalam Al-Quran: “Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” (Q.S. Al-Dzariyat [51]: 50).

Kata “segeralah kembali kepada (mentaati) Allah” (fafirru ila Allah) menegaskan bahwa kalau ada persoalan hidup seberat apapun kita wajib langsung lari atau kembali kepada Allah, bukan ke dukun. Jika ada persoalan hidup kita mesti kembalikan kepada Allah. Mengadu kepada Allah. Nanti Allah yang akan menyelesaikan segala persoalan hidup dengan cara yang tak terpikirkan oleh kita.

Mobil hilang, misalnya, tanpa kita tahu tiba-tiba ada tetangga sebelah lapor bahwa ia telah menemukannya di kampung A. Jadi, biar Allah yang menyelesaikannya. Kita menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada-Nya. Setelah itu, kita harus selalu yakin bahwa apapun peristiwa yang menimpa kita, itu merupakan takdir dari Allah, baik maupun buruk.

Percaya pada takdir itu salah satu rukun iman yang harus kita yakini. Takdir itu ada yang baik, ada pula yang buruk. Kita harus rela dan ridha menerimanya.

Bagi orang mukmin sesungguhnya tak ada takdir yang buruk. Sekalipun barangkali secara lahiriah itu buruk, tapi sesungguhnya itu baik buat kita. Kadang kita anggap suatu itu baik tapi ternyata ujungnya buruk. Kadang ada sesuatu yang kita anggap secara lahiriah buruk tapi berujung pada kebaikan.

Jika diuji sakit, kita harus menerimanya secara lapang dada. Kita harus meyakini bahwa sesungguhnya hal itu bukan takdir buruk. Seorang mukmin harus selalu yakin, sebagaimana Rasulullah sendiri mengatakan, siapapun di antara kalian yang ditimpa penyakit, maka sesungguhnya Allah sedang menghapuskan dosa-dosa kamu.

Kehilangan harta secara lahiriah buruk, tapi bagi seorang mukmin yang sabar, tidak demikian adanya. Karena ia meyakini arahan dari Rasulullah: “Barang siapa di antara kita yang kehilangan harta, seberapun itu, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan banyak.”

Biasanya kesadaran macam itu baru muncul setelah musibah menimpa kita. Kesadaran macam ini yang akan terus membuat kita bisa bersabar. Hanya orang yang bersabarlah yang bisa tersenyum saat menghadapi persoalan hidup ini.

Seperti kalimat di akhir ayat di atas, sesungguhnya bergembira orang-orang yang sabar dan dia selalu enjoy di dalam menghadapi segala persoalan hidup. Karena semuanya adalah titipan Allah. Suatu saat Allah akan mengambilnya.

Begitu juga saat Alah menimpakan sesuatu yang buruk, kita kembalikan kepada Allah. Kita mesti meyakini apa yang Allah tetapkan sesungguhnya yang terbaik buat kita.

Dengan adanya kesadaran ini sekali lagi, insya Allah kita akan lebih insaf dalam menghadapi persoalan hidup yang tak pernah selesai ini.[]

 

*Transkrip Khutbah Jumat Dr. Abdul Ra’uf di Yayasan Paramadina (06 Februari 2015).

 

Comments

comments