hati

[Buletin Jumat] Ka’bah Simbol Hati, Berhala Penyakitnya*

Saat ini kita begitu sulit untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada dalam hati kita. Karena saat ini berhala tidak lagi berwujud patung, tapi berwujud makna, pengertian atau esensi dalam hati kita yang seringkali membuat kita berpaling dari Allah.

Para sufi atau orang-orang yang menempuh jalan spiritual sering menggambarkan Ka’bah sebagai simbol hati dan berhala sebagai penyakitnya. Di antara berhala itu adalah iri, ria, dengki, sombong, ingin populer, dan sejenisnya.

Membersihkan berhala yang bersifat maknawi seperti itu lebih sulit ketimbang yang berwujud fisik. Karena itu, di bulan Ramadan lalu kita mempunyai kesempatan untuk membersihkan semua berhala yang ada dalam hati kita dengan memperbanyak ibadah dan zikir agar kita bisa kembali bersih.    Buletin Jumat Paramadina

Kehidupan kita di dunia ini adalah perjuangan untuk bisa kembali kepada Allah SWT dengan selamat. Untuk bisa kembali kepada-Nya, Allah memberikan banyak sarana dan fasilitas berupa ibadah-ibadah yang sifatnya individu maupun sosial seperti mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadan, berhaji, dan ibadah lainnya.

Menurut beberapa riwayat, puasa Ramadan merupakan sarana yang paling efektif untuk kembali kepada Allah. Karena puasa Ramadan merupakan sarana untuk membersihkan jiwa dan raga kita. Hanya hati yang bersihlah yang bisa kembali kepada-Nya saat segala yang kita miliki sudah tidak berarti lagi.

Al-Quran menjelaskan sebagai berikut: “(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Q.S. Al-Syu’ara [26]: 88-89). 

Namun, jelang Idul fitri kita sudah mulai berlomba-lomba mengumpulkan kembali berhala-berhala di dalam hati kita yang sebelumnya mau kita singkirkan. Yaitu, berhala membeli peralatan baru, berhala gengsi atau malu kalau ada tetangga datang kita tidak punya apa-apa sehingga kita menyiapkan makanan secara berlebihan, dan lain sebagainya.

Kita hendaknya malu mengucapkan kata-kata ‘selamat meraih kemenangan dan kembali kepada kesucian’ (minal ‘aidin wal faizin) karena kita sudah mencoreng hati kita kembali justru pada hari kemenangan. Hari kembali kepada Allah dalam kesucian.

Dalam Al-Quran kita senantiasa diingatkan: “Sungguh berbahagia orang yang membersihkan hatinya dan mengingat nama Tuhannya (zikir), lalu dia shalat” (Q.S. Al-A’la [87]: 14-15). Salat di sini tidak berarti salat yang kita lakukan sehari lima waktu, tapi berarti terhubung dengan Tuhan sehingga tidak lagi bergantung kepada selain-Nya.

Dalam ayat lain kita juga diingatkan: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. Yaitu, mereka yang melakukan salatnya dalam keadaan terus-menerus; dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai Hari Pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya); dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas;  dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya; dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Q.S. Al-Ma’arij [70]: 19-34).

Jika kita ingin hidup tenang maka yang perlu dilakukan adalah: Pertama, harus menegakkan salat yang terus-menerus. Salat yang membuat kita senantiasa terhubung atau selalu ingat kepada Allah. Ketika kita selalu ingat kepada Allah maka kita akan terhindar dari keburukan.

Kedua, berbagi dengan sesama. Ketiga, mempercayai Hari Pembalasan. Dengan meyakini adanya Hari Pembalasan, kita selalu meyakini apapun perbuatan yang kita lakukan hari ini akan dipertanggungjawabkan di Akhirat kelak karena hidup tidak berhenti hanya di dunia ini.

Keempat, takut terhadap azab Tuhan sehingga kita lebih berhati-hati dalam berbuat. Kelima, memelihara kemaluan. Keenam, bersifat amanah dan memenuhi janji. Ketujuh, teguh dalam memegang prinsip kebenaran.

Kedelapan, menjaga salat lima waktu secara terus-menerus. Kelima waktu ini merupakan stasiun-stasiun yang berada di dalam satu hari. Artinya, selama satu hari satu malam kita memiliki lima waktu untuk menginstropeksi diri. Ini semua bisa dilakukan dengan sangat efektif pada saat kita puasa. Karena, seperti yang sudah dikatakan di awal, bahwa puasa adalah sarana membersihkan berhala-berhala di dalam hati kita.

Mari kita lanjutkan pembersihan berhala-berhala di dalam hati kita dengan melakukan ibadah-ibadah seperti salat, zikir dan sebagainya, untuk terus-menerus mengikis berhala-berhala di dalam hati kita. Seperti dicontohkan atau disimbolkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW yang membangun kembali arasy mini (Ka’bah) –yang sebelumnya didirikan Nabi Adam AS– dan melakukan pembersihan berbagai macam jenis dan ukuran berhala di sekitarnya.[]

*Transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina, 24 Juli 2015. Khatib: Muhammad Wahyuni Nafis.

 

Comments

comments