Foto: http://www.foodielovesfitness.com/
Foto: http://www.foodielovesfitness.com/

[Buletin Jumat] Syukur, Susah-Senang Nikmat*

Kufur bertentangan dengan syukur. Para ahli ilmu akhlak mengatakan ada tiga kriteria orang yang bersyukur kepada Allah SWT. Pertama, meyakini sesuatu yang terjadi pada kita, baik langsung maupun tidak (yang di dalamnya ada unsur dari kita), itu semua datangnya dari Allah. Kenikmatan, baik yang tampak menyenangkan maupun yang tidak itu semua dari Allah.

Sebagian kalangan mendefinisikan nikmat (ni’mah) itu sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kalau tidak menyenangkan itu disebut niqmah (dengan huruh qaf [ق]). Tapi ada juga beberapa ahli yang mengatakan bahwa menyenangkan atau tidak itu adalah masalah rasa. Semuanya tetap berasal dari Allah. Segala sesuatu yang datangnya dari Allah pasti ada hikmah luar biasa yang akan kita alami. Maka semua yang tampak menyenangkan maupun tidak itu kita lihat sebagai ni’mahbuletin-jumat1

Segala sesuatu yang terjadi pada kita seperti kenaikan atau turun pangkat, datang atau hilangnya uang, datangnya kelahiran atau kematian itu semua dari Allah. Semua yang ada di alam semesta ini tidak lepas dari skenario Allah. Di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

“Dan apapun nikmat yang terjadi pada kalian semuanya dari Allah, kemudian apabila datang kepada kalian bahaya/kemudharatan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan. Apabila Dia telah menghilangkan bahaya itu dari kalian, ada di antara kalian yang menyekutukan Tuhannya. Karena mereka mengkufuri apa-apa yang Kami berikan kepada mereka, maka bersenang-senanglah kalian (dengan kekufuran nikmat yang kalian lakukan). Kelak nanti kalian akan tahu (akibat atas kufur nikmat kalian)” [Q.S. Al-Nahl [16]: 53-55].

Jika merujuk pada Surah Al-Nahl itu, Allah menegaskan bahwa apapun yang terjadi pada kita itu semuanya berupa kenikmatan. Semuanya berasal dari Allah. Jadi, seandainya kita mendapatkan atau kehilangan sesuatu itu adalah bentuk kenikmatan yang datangnya dari Allah.

Kedua, setelah kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi itu datangnya dari Allah, keyakinan ini kita aktualisasikan dengan mengucapkan kalimat hamdalah: ‘Segala puji hanya untuk Allah (alhamduli ‘l-Lah). Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu dan pemberi yang sejati.

Dengan berbaik sangka bahwa yang datang kepada kita, baik yang menyenangkan ataupun tidak, adalah berasal dari Allah, maka seyogianya kita senantiasa mengucapkan kalimat hamdalah. Seorang Muslim yang bersyukur lidahnya selalu basah dengan kalimat hamdalah. Karena itu, dalam Surah Al-Fatihah, setelah basmalah (Bismi ‘l-Lâhi ‘l-Rahmâni ‘l-Rahîm), ayat berikutnya adalah kalimat hamdalah (Alhamdu li ‘l-Lâhi rabbi ‘l-‘âlamîn).

Kriteria ketiga, setelah merealisasikan kriteria yang pertama dan kedua, kita mengaktualisasikan kalimat hamdalah dalam bentuk amal-amal saleh. Imam Ja’far Al-Shadiq, salah satu salafus saleh yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW yang juga guru dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, pernah ditanya tentang masalah syukur. Beliau menyatakan, Syukur itu adalah mentaati Allah.

Jadi, kalau orang mentaati Allah dengan ikhlas itu berarti dia sedang mengaktualisasikan syukur dalam bentuk amal saleh. Kalau dilakukan dengan ikhlas, ketaatan pada Allah itu syukur dalam bentuk amal yang nyata (al-syukru ‘amali).

Sebaliknya, jika seorang Muslim tidak meyakini kriteria pertama bahwa segala sesuatu yang datang kepadanya berasal dari Allah itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya adanya Allah. Jika tidak percaya adanya Allah berarti ia tidak mengimani makna ‘tiada ada Tuhan kecuali Allah’ (la ilaha illa ‘l-Lah). Di dalam Al-Quran sangat ditekankan bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan, memiliki, dan mengatur alam semesta ini (rabba ‘l-‘alamin).

Begitu juga, jika ada seorang Muslim yang meyakini segala sesuatu itu berasal dari Allah. Bahwa Allah itu Esa. Hanya Allah tempat berlindung dan bergantung. Allah adalah sumber segala-galanya. Tapi kala mendapatkan musibah yang luar biasa, mereka datang kepada Allah dengan menangis-nangis serta berdoa yang panjang. Apa yang dilakukan saudara kita itu adalah benar. Dia punya masalah kemudian datang kepada Allah.

Masalahnya, sesudah Allah mengangkat bahaya yang menimpanya atau sesuatu yang tidak menyenangkannya kemudian ia menyikapi nikmat ini dengan cara yang salah. Mulutnya jarang mengucapkan kalimat hamdalah. Sebaliknya, malah mengatakan “Untung punya kawan yang membantu saya. Kalau tidak ada dia maka sulitlah urusan saya.” Atau mengatakan, “Saya mempunyai penyakit yang kronis, dokter itu telah menyembuhkan saya.”

Dalam Al-Quran, Allah menegaskan, “Maka apabila sakit maka Dia-lah (Allah) yang Maha Menyembuhkan.” Dokter hanyalah alat atau wasilah yang membantu kita untuk sembuh atas izin Allah. Jadi, syukur itu lebih tepat dialamatkan kepada Allah sebagai Yang Maha Menyembuhkan.

Jadi, seandainya ada sesuatu yang menyenangkan maka kita ucapkan hamdalah. Dan lebih tinggi lagi nilai spiritualnya jika saat ada hal yang tidak menyenangkan kemudian kita mengucapkan hamdalah. Tapi sebaiknya tidak perlu kita ucapkan dengan keras. Masyarakat kita pada umumnya tidak memahami sesuatu yang kurang menyenangkan atau keterpurukan itu sebagai kenikmatan. Cukuplah ungkapan hamdalah itu di dalam hati saja.

Kita harus berbuat baik, tapi kebaikan yang kita lakukan juga harus menciptakan lingkungan yang baik. Orang Muslim tidak cukup hanya menjadi baik, tapi harus menjadi cerdas dan bijak dalam menyikapi lingkungannya.

Selain itu, ada juga orang Muslim yang meyakini sesuatu itu datangnya dari Allah dan mulutnya selalu basah dengan kalimat hamdalah, tapi sayang ucapannya itu tidak diaktualisasikan dalam amal saleh. Salat lima kali waktu tidak ia lakukan. Zakat dan sedekah tidak ia tunaikan. Padahal semua yang ia miliki adalah pemberian Allah. Alih-alih memberi kepada orang lain, ia justru selalu berpikir untuk mengambil sebanyak-banyaknya dari orang lain.

Orang seperti ini rasa syukurnya sebatas keyakinan yang tidak bermakna. Keyakinannya tidak berbuah apa-apa kepada dirinya. Rasa syukurnya sebatas ungkapan lisan semata. Seperti seorang suami yang mengatakan kepada istrinya, ‘aku cinta kepadamu,’ tapi ia selingkuh di mana-mana. Kita tidak boleh melakukan perselingkuhan dengan Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang kita lakukan secara zahir dan apa yang ada di dalam hati.

Jangan sampai keyakinan kita hanya berada di dalam dada dan ucapan verbal, tapi kemudian kita menghianati Allah dengan melakukan kufur nikmat. Yaitu, kita tidak melakukan kewajiban-kewajiban kita dan juga tidak menjauhi berbagai larangan-Nya.

Karena itu, marilah tenggelamkan hati kita untuk beribadah kepada Allah. Dengan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita peroleh ini datangnya dari Allah. Basahilah mulut kita dengan kalimat hamdalah dan wujudkan rasa syukur itu dengan amal-amal saleh yang diajarkan Allah dan rasul-Nya.[]

* Transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina, 03 Juli 2015. Khatib: Dr. Umar Ibrahim.

 

Comments

comments