Ammatoa

Diskusi “Muslim Animistik Ammatoa”

Ammatoa adalah kelompok minoritas adat yang tinggal di dataran tinggi tenggara Sulawesi Selatan. Terdiri dari sekitar 4600 orang. Sejak memulai kontaknya dengan Islam pada abad ke-17, masyarakat Ammatoa menyebut dirinya sebagai Muslim. Meskipun demikian, mereka tetap menjalankan praktik tradisionalnya, terlepas dari tekanan oleh negara dan pihak luar. Para ahli etnografi mengkategorisasikan praktik Ammatoa ini sebagai animistik karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam dan animisme saling bertentangan.

Sementara itu melalui tulisan berjudul “Being Muslim in Animistic Ways,” Samsul Maarif menunjukkan bahwa Islam dan animisme saling berkaitan dan mengisi. Ia menemukan kesamaan cara pandang para ahli mengenai konsep “baru” animisme dengan ayat-ayat Al-Quran mengenai konsep diri selain manusia. Selain itu, ia juga membahas praktik adat Ammatoa seperti masuk hutan dan menolak instalasi listrik sebagai tanggung jawab moral yang berguna bagi kehidupan. Hal ini memperlihatkan kekhasan masyarakat Ammatoa sebagai seorang Muslim dalam cara yang animistik.

Sejauh mana Islam bisa sejalan dengan animisme? Bagaimana kita dan negara bersikap dan mendefinisikan Ammatoa (dan agama adat, indigenous religions secara umum) sebagai agama yang berbeda dari agama-agama dunia (world religions)?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, diskusi bulanan Ciputat School kali ini mengambil tema: “Masyarakat Ammatoa: Menjadi Muslim dalam Cara Animistik.” Ciputat School adalah forum diskusi yang diinisiasi oleh Komunitas Ciputat School bersama Forum Muda Paramadina. Forum ini mengulas tema-tema agama, perdamaian, demokrasi, politik, dan hak asasi manusia. Forum ini terbuka untuk umum. 

Kegiatan ini akan diselenggarakan, pada:

Jumat, 18 September 2015

Pukul 18.00-22.00 WIB (diawali makan malam)

Bertempat di Aula Ciputat School (Futsal Camp), Jl. RE. Martadinata No. 19, Ciputat, Tangerang Selatan

Narasumber:

Samsul Maarif

(Peneliti Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada)

RSVP: Ayu Mellisa ([email protected])

Comments

comments