salat

[Buletin Jumat] Eling Saja Tak Cukup*

Saat ini ada dua paham besar dalam filsafat yang cukup berpengaruh pada kehidupan kita. Dua paham ini saling bertolakbelakang. Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada salah satunya dan akan berpengaruh pada cara kita memaknai tujuan hidup manusia. Dua paham itu adalah materialisme dan idealisme.

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah materi. Hakikat sesuatu itu adalah hal yang terlihat oleh mata, dapat kita rasakan dan ukur. Hakikat dari sesuatu itu bersifat material.

20150410_120212Pandangan materialisme inilah yang kini banyak dipakai menjadi sumber ilmu pengetahuan. Berbagai riset dan eksperimen empirik-ilmiah ini menghasilkan sains yang disebut-sebut bersifat obyektif. Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi berkembang dan maju karena adanya riset tentang hal yang bersifat materi itu.

Sebaliknya, sesuatu yang gaib atau hal yang tidak bisa dijangkau pancaindra dianggap hanya imajinasi. Karena itu, ilmu tentang sesuatu yang ghaib itu tidak termasuk dalam sains. Sesuatu yang tidak dapat diukur seperti ilmu tentang Tuhan, malaikat, ruh, setan, itu tidak diakui oleh sains. Bagi paham materialisme, ruh dan Tuhan itu tidak ada.

Menurut paham materialisme, hakikat manusia tidak lain adalah jasad atau tubuhnya. Apakah ada sesuatu dibalik itu? Tidak ada. Kalaupun ada ruh di dalamnya, maka sifatnya menumpang pada yang jasad material itu. Kalau jasad hancur maka ruh juga akan habis dengan sendirinya.

Terkait materi, bagi penganut paham ini, sejak azali dia sudah ada. Tidak diciptakan. Materi ada dengan sendirinya dan ia tidak akan berakhir. Hanya saja mereka mengalami kesulitan bagaimana membuktikan bagaimana materi itu ada. Nah, di sinilah kelemahan paham materialisme ini. Mereka tidak tahu asal dan tidak tahu ke mana materi akan berakhir.

Paham idealisme kebalikan atau lawan dari materialisme. Kalau kita percaya hanya pada yang material, hal ini telah terbukti keliru. Misalnya, saat tongkat lurus kita masukkan ke dalam air ia terlihat menjadi bengkok. Atau saat kita berada di atas tugu Monumen Nasional (Monas) akan terlihat manusia di bawahnya sama besarnya dengan semut.

Menurut paham idealisme, yang hakiki dari sesuatu itu adalah kekuatan yang ada di dalam materi. Itulah yang disebut dengan ruh. Yang hakiki pada manusia bukan jasad tapi ruhnya. Hakikat manusia tidak lain ruhnya. Ruh itu yang menjadi sejatinya manusia.

Islam berbeda dengan paham materialisme yang mengatakan bahwa hakikat itu adalah materi. Islam tidak mengingkari adanya materi. Islam juga meyakini bahwa ada sesuatu yang tidak kelihatan di balik materi itu, yaitu ruh, sebagaimana paham idealisme.

Bagi Islam, yang hakiki itu adalah Tuhan. Sementara yang lain diciptakan Tuhan. Manusia juga berasal dari Tuhan. Dia tidak bisa terpisahkan dari Tuhan. Dalam Al-Quran, Allah berfirman:

“Barang siapa yang berpaling dari-Ku maka sesungguhnya untuknya kehidupan yang sempit dan dia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Taha[20]: 124).

Jadi, kita tidak bisa lepas dari Tuhan. Kalau kita melepaskan diri dari Tuhan berarti kita sudah masuk ke dalam kehidupan sempit. Semuanya bersumber dari-Nya. Inilah jatidiri manusia menurut ajaran Islam. Yaitu beribadah kepada Tuhan. Untuk beribadah tidak cukup dengan eling atau ruh saja, tapi juga harus sekaligus dengan jasad.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, firman Allah melalui lidah rasul-Nya, disebutkan:

“Wahai keturunan Adam baktikanlah dirimu dalam beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa kekayaan, akan Aku berkahi rezeki, dan Aku tempatkan dalam tubuhmu rasa damai serta tentram. Jangan engkau lalai dari mengingat-Ku. Kalau engkau lalai, Aku akan masukkan ke dalam hatimu rasa fakir atau kemiskinan dan badanmu akan menjadi letih tak berdaya, akan dimasukkan pula ke dalam dadamu rasa gelisah dan sedih. Kalau engkau memperhatikan sisa umurmu niscaya engkau akan menjadi orang zuhud dalam menjalani harapan masa depanmu.”

Dari hadis ini jelas dikatakan kalau kita ingin lupa kepada Allah, tidak ingin berbakti lagi kepada-Nya, maka Allah akan mengisi jiwa kita dengan rasa kefakiran, sedih, dan gelisah. Itulah yang akan Allah isi dalam jiwa kita. Sebaliknya, kalau kita berupaya untuk selalu dekat kepada-Nya dan senantiasa berbakti melalui ibadah, maka Allah akan masukkan ke dalam hati kita rasa kaya, damai, senang, dan rasa kekuatan.

Karena itu di sisa umur yang masih ada, semoga kita akan mengisinya dengan selalu berupaya untuk dekat dan beribah kepada Allah. Kita senantiasa berharap kepada Allah. Dengan begitu hidup kita menjadi bahagia. Tubuh kita pun tidak sia-sia. Tidak akan merasa letih atau lelah karena senantiasa diisi oleh ingat kepada Allah.[]

*Transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina (21 Agustus 2015). Khatib: Prof. Dr. Yunasril Ali.

 

Comments

comments