Foto: http://iraq.iraq.ir
Foto: http://iraq.iraq.ir

Hari Raya Kurban, Kembali ke Agama Autentik Nabi Ibrahim

Oleh: Nurcholish Madjid.

Setiap tahun kita merayakan Hari Raya Kurban atau ‘Îd Al-Adlhâ. Kiranya semua orang Muslim mengetahui bahwa hari raya itu sangat erat terkait dengan pengalaman ruhani seorang tokoh dan pemimpin umat manusia, Nabi Ibrahim. Hari raya itu, serta ibadah haji di tanah suci sebagai bentuknya yang lebih lengkap, dapat dikatakan sebagai usaha pelestarian pengalaman ruhani Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma‘il. Mengetahui siapa sebenarnya tokoh Ibrahim ini adalah sangat penting. Sebab, Ibrahim dipandang sebagai nenek moyang tiga agama monoteisme dan Semitik, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekitar 3.700 tahun yang lalu. Dia berasal dari Babilonia, anak seorang pemahat patung istana yang bernama Azar. Agaknya sudah sejak usia bocah, Ibrahim menunjukkan cara berpikir yang tajam dan kritis, tentu saja atas hidayah Ilahi. Suatu saat dia menyaksikan hal yang tidak masuk di akalnya: ayahnya memahat batu, dan setelah selesai batu berubah menjadi patung, sang ayah menyembahnya. Ibrahim memberontak, dan untuk itu dia dihukum bakar, namun diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Dia pun lari atau hijrah ke arah Barat, ke daerah Kanaan, yaitu Palestina Selatan.

Karena terjadi musim paceklik di Kanaan, dia pernah ke Mesir bersama istrinya, Sarah, dan untuk sementara waktu tinggal di sana. Oleh suatu peristiwa yang amat mengesankan bagi Fir‘aun, Raja Mesir, Ibrahim mendapat hadiah seorang budak perempuan yang cantik, Hajar. Kemudian dia kembali ke Kanaan. Kini usianya bertambah lanjut, dan dia sangat mendambakan seorang keturunan, sehingga dia pun berdoa memohon kepada Tuhan. Lalu istrinya, Sarah, berbaik hati mempersilakan Ibrahim mengawini budak perempuan mereka yang asal Mesir, Hajar. Dari Hajar itu dia dengan penuh kegembiraan dikarunia putra, dan diberinya nama Ishma El (Isma‘il), yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah mendengar”, yakni mendengar doa sang ayah yang telah memohon keturunan itu.

 Ibrahim sangat mencitai Isma‘il dan Hajar (ibu Isma‘il), sehingga menimbulkan perasaan kurang senang pada Sarah. Maka, Sarah meminta kepada Ibrahim agar membawa Isma‘il dan ibunya keluar dari rumah tangga mereka. Ibrahim diberi petunjuk Tuhan, dengan bimbingan para malaikat, agar membawa anaknya, Isma‘il beserta ibunya, ke arah Selatan dari Kanaan, terus ke arah selatan, sampai ke suatu lembah yang tandus dan gersang, tiada tetumbuhan (Q., 14: 37). Setelah sampai ke lembah tandus itu, sejalan dengan petunjuk Ilahi lagi, Ibrahim kembali ke Kanaan. Tapi sesekali dia sempatkan menjenguk Isma‘il di Makkah, sampai Isma‘il dewasa.

Ternyata itu semua adalah bagian dari suatu “Rencana” Tuhan Yang Mahabijaksana. Ibrahim dibimbing untuk membawa anaknya itu ke lembah tersebut karena di sanalah terletak rumah (bait) suci yang pertama kali didirikan untuk umat manusia (Q., 3: 96). Lembah itu dinamakan lembah Bakkah atau Makkah.

Pada waktu Ibrahim beserta anak dan istrinya sampai di lembah tandus itu, bait atau rumah suci tersebut tidak atau belum ada. Baru setelah Isma‘il tumbuh dewasa, Tuhan memerintahkan agar mereka berdua, ayah dan anak itu, mendirikan bait tersebut (Q., 2: 127). Inilah salah satu realisasi “Rencana” Tuhan itu, yaitu rencana bimbingan sempurna-Nya untuk umat manusia.

Karena bentuknya yang persegi empat, maka bayt atau rumah suci di lembah tandus itu juga dikenal dengan sebutan Ka‘bah, artinya “kubik”. Maka bangunan berbentuk kubik itulah memang “Rumah Suci” (Al-Bayt Al-Harâm), sebagai tempat berlindung yang aman (maqâm, asilum) bagi umat manusia…” (Q., 5: 97).

Itulah Ibrahim dan putranya, Isma‘il. Kemudian, salah satu episode kisah tentang dua pemimpin umat manusia itu ialah bahwa sang ayah menerima perintah Tuhan melalui mimpi yang haqq untuk mengorbankan sang putra. Dengan penuh sikap pasrah (islâm) kepada Tuhan, Ibrahim memutuskan untuk melaksanakan perintah Tuhan itu, dan keputusan tersebut membawa kepada pengalaman-pengalaman keruhanian sejak dari Makkah, Arafah, dan Mina, kemudian kembali ke Makkah. Inilah dasar ritus-ritus ibadah haji. Karena itu, ibadah haji sebagai tindakan menapak tilas Nabi Ibrahim dan putranya itu juga merupakan pelestarian pengalaman keruhanian mereka, sebab pengalaman itu mengandung makna dan menjadi sumber pelajaran yang mendalam dan meluas bagi umat manusia secara keseluruhannya, sampai akhir zaman.

 Sementara Ibrahim bersama Sarah tinggal di Kanaan dan sesekali pergi ke Makkah melaksanakan perintah Tuhan itu, mereka, dengan izin dan kekuasaan Tuhan, dikarunia seorang putra, Ishaq. Seperti ayahnya, Ibrahim, dan kakaknya (lain ibu), Isma‘il, Ishaq juga menjadi nabi dan rasul Allah, mengemban tugas mengajari umat manusia tentang paham Tawhîd, dan mempertahankan ajaran itu sampai akhir zaman. Bahkan, sebagai rahmat Allah kepada Ibrahim, dari keturunan Ishaq banyak sekali tampil para nabi dan rasul Allah. Ishaq dikarunia Tuhan seorang putra, yakni Ya’qub yang digelari Isra-El (Israil), yang dalam bahasa Ibrani berarti “Hamba Allah”. Jadi sama dengan arti Abdullah (‘Abd Allâh) dalam bahasa Arab, konon karena rajin sekali beribadah. Yakni menghambakan diri kepada Allah. Anak keturunan Nabi Ya‘qub atau Israil ini berkembang biak, dan menjadi nenek moyang bangsa Yahudi, yang juga disebut Bani Israil (Anak keturunan Israil).

Anak-anak Ya’qub berjumlah 12 orang: 10 orang dari istri pertama, dua orang dari istri kedua, yaitu Yusuf dan Benyamin. Karena berbagai kelebihan Yusuf, Ya‘qub sangat mencintai anaknya ini lebih dari yang lain-lain, dan cintanya ini mengundang rasa kurang enak pada saudara-saudara tuanya dari istri pertama. Mereka bersengkongkol menyingkirkan Yusuf. Namun berkat lindungan Ilahi, Yusuf selamat. Yusuf inilah yang secara langsung membawa Ya‘qub beserta keseluruhan keluarganya pindah ke Mesir (Q., 12: 4-102), pusat peradaban dunia waktu itu. Kala itu Yusuf menjadi menteri sumber urusan pangan. Dan di Mesir inilah sebenarnya keturunan Ya‘qub atau Israil ini berkembang biak melalui anak-anaknya yang 12 itu. Maka, Bani Israil atau Bangsa Yahudi terbagi menjadi 12 suku (Q., 7: 160).

Tetapi lama-kelamaan, Fir‘aun yang zhâlim itu merasa kurang senang terhadap keturunan Ya‘qub ini. Apalagi keturunan Ya’qub ini, sebagian dari mereka, menganut agama tauhid atau monoteisme yang berlawanan dengan agama Mesir yang musyrik atau politeis. Nabi Daud sebagai raja kerajaan Judea-Samaria digantikan oleh anaknya, Nabi Sulaiman. Di bawah Sulaiman, bangsa Yahudi, anak keturunan Israil atau Nabi Ya‘qub, mengalami zaman keemasan. Yerusalem dibangun, dan di daratan di atas bukit Zion yang menjadi pusat kota itu didirikan pula tempat ibadah yang megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple), juga disebut Al-Masjid Al-Aqshâ, artinya “Masjid Yang Jauh” (dari Makkah), sebagaimana kota Yerussalem tempat masjid itu dikenal orang Arab sebagai Al-Quds atau Bait Al-Maqdis, atau Al-Bayt Al-Muqaddas, yang semuanya berarti kota atau tempat suci.

Tapi sayang, anak keturunan Nabi Ya‘qub itu terkenal sombong dan suka memberontak. Ini membangkitkan murka Allah, dan mereka harus menerima azab-Nya. Dalam Q., 17: 4-8 digambarkan betapa Bani Israil itu membuat kerusakan di bumi dan berlaku angkuh, sombong, “chauvinis” (merasa paling unggul dan benar sendiri) dan setiap kali mereka menerima azab Allah yang luar biasa, “Jika saat pertama dari keduanya itu tiba, maka Kami utus atas kamu hamba-hamba Kami yang gagah perkasa, kemudian mereka-mereka menerobos rumah kamu. Dan ini adalah peristiwa yang telah terjadi (Q., 17: 4).” Kapan terjadi? Yaitu sekitar tujuh abad sebelum Masehi ketika bangsa Babilonia dipimpin Nebukadnezar datang menyerbu Yerusalem dan menghancurkan kota itu, termasuk Masjid Aqsha-nya. Kemudian dengan pertolongan bangsa Bani Israil itu dapat kembali ke Yerusalem.

Namun sekali lagi mereka menjadi congkak dan membuat kerusakan di muka bumi. Allah pun mengazab mereka untuk kedua kalinya, “… Dan bila tiba saat peristiwa yang kedua, (Kami biarkan musuh-musuhmu) menghancurkan martabatmu dan memasuki, dan menghancurkan apa saja yang terjamah tangan mereka (Q., 17: 7). Kapan yang kedua ini terjadi? Yaitu pada tahun 70 Masehi karena dosa mereka menolak kerasulan Nabi Isa Al-Masih dan menyiksa para pengikutnya.

Kaisar Titus dari Roma meratakan Yerusalem dengan tanah, dan menghancurluluhkan Masjid Aqsha yang kedua (second Temple) yang mereka bangun. Tidak ada yang tersisa daripadanya kecuali “Tembok Ratap” (tempat orang-orang Yahudi meratapi nasib mereka). Karena dosa-dosa itu, orang-orang Yahudi mengalami diaspora, mengembara di bumi terlunta-lunta karena tidak bertanah air, dan hidup miskin di gheto-gheto. Ini dilukiskan dalam Kitab Suci, “Kehinaan ditimpakan atas mereka di mana pun mereka berada, kecuali dengan tali (perjanjian) dari manusia, dan di mana pun mereka ditimpa kemiskinan …” (Q., 3: 112).

Adalah umat Islam yang membangun kembali Masjid Aqsha itu, dan yang kemudian mewarisinya sampai sekarang. Yerusalem jatuh ke tangan tentara Arab Muslim di zaman Umar ibn Al-Khattab. Ketika dia datang ke sana untuk menerima penyerahan kota itu, maka dia kecewa sekali mendapatkan tempat bekas Masjid Aqsha telah dijadikan pembuangan sampah oleh kaum Nasrani yang ingin menghina agama Yahudi. ‘Umar beserta tentara Islam membersihkan tempat itu, kemudian menjadikannya tempat shalat dan mendirikan masjid sederhana. Masjid ‘Umar itu diperbaharui, dibangun megah oleh Khalifah ‘Abdul Malik ibn Marwan dari Bani Umayah.

Penuturan yang agak panjang, meskipun sederhana, tentang perjalanan Nabi Ibrahim dan anak cucunya itu kita ketengahkan, untuk menyadarkan kepada kita semua betapa tokoh yang disebut sebagai “Imam Umat Manusia” (Q., 2: 124) itu sangat erat kaitannya dengan agama Islam. Dari penuturan itu tampak bahwa antara Makkah dan Yerusalem terdapat kaitan yang amat erat, seerat kaitan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena dalam ajaran Rasulullah, Nabi Muhammad, ada tiga kota suci yang dianjurkan kaum Muslim mengunjunginya, yaitu Makkah dengan Al-Masjid Al-Harâm-nya, Madinah dengan Al-Masjid Al-Nabawî-nya, dan Yerusalem atau Al-Quds dengan Al-Masjid Al-Aqshâ-nya.

Tetapi dari penuturan itu kiranya juga menjadi jelas bahwa Al-Masjid Al-Aqsha baru didirikan oleh Nabi Sulaiman, sekitar delapan abad setelah Nabi Ibrahim, sementara Kabah di Makkah dibangun (kembali) oleh Ibrahim dan Isma‘il atas perintah yang pertama kali didirikan untuk umat manusia.

Karena itu, ketika Nabi melakukan shalat harus menghadap Yerusalem, sewaktu masih di Makkah belum memilih tempat di sebelah selatan Kabah, sehingga menghadap sekaligus Kabah itu dan Shakhrah (Batu puncak bukit Zion, inti Al-Masjid Al-Aqsha) di Yerusalem. Tetapi ketika beliau telah pindah (hijrah) ke Madinah, hal itu tidak lagi bisa beliau lakukan, karena Madinah terletak di sebelah utara Makkah. Maka beliau memohon untuk kiranya Tuhan memperkenankan pindah kiblat dari Yerusalem ke Makkah. Perpindahan ini juga melambangkan makna yang amat mendalam, yaitu bahwa Nabi Muhammad mengajarkan dan mengajak manusia kembali ke agama, Nabi Ibrahim yang autentik dan asli, yang dilambangkan oleh Kabah, peninggalan beliau yang utama.[]

Comments

comments