Buletin Jumat Paramadina

[Buletin Jumat] Al-Ma’un, Jihad Sosial, dan Pendusta Agama*

Salah satu surah dalam Al-Quran yang paling populer di lingkungan umat Islam adalah Al-Ma‘un. Bahkan surah ini dijadikan fondasi berdirinya salah satu organisasi Islam di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Sebagai pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan memiliki perhatian khusus terhadap surah ini. Surah Al-Ma‘un bisa menjadi motivasi dasar umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Al-Ma’un adalah surah ke-17 yang Allah SWT wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Surah ini termasuk dalam Surah Makkiyah. Surah yang diturunkan di Makkah. Tapi, menurut sebagain ulama, bagian pertama surah ini turun di Makkah dan bagian terakhir turun di Madinah. Dalam surah ini Allah berfirman:

Ara ayta alladzî yukadzdzibu bi aldîn (1). Fadzâlika alladzî yadu’u al-yatîm (2). Wa lâ yahudhdhu ‘alâ tha’âmi almiskîn (3). Fawaylu li almushallîn (4). Alladzîna hum ‘an shalâtihim sâhũn (5). Alladzîna hum yurâũna (6). Wa yamna’ũna almâ’ũn (7) (Q.S. Al-Ma‘un [107]:1-7).

Para ulama mengartikan kata “ara ayta” dengan “tahukah engkau” atau “apakah engkau telah melihat.” Ungkapan ini adalah pertanyaan Allah kepada Nabi Muhammad. Pertanyaan itu tidak menunjukkan bahwa Allah tidak mengetahui jawabannya. Allah Maha Mengetahui. Setiap kali Allah menanyakan sesuatu kepada Rasulullah itu berarti Dia menunjukkan adanya suatu penekanan penting yang mau disampaikan kepada Nabi Muhammad.

Ayat pertama dapat diartikan: “Apakah engkau (Muhammad) sudah melihat atau mengetahui, orang yang mendustakan agama (aldîn). Dalam bahasa Arab kata “aldîn” memiliki 32 makna. Karena itu ada ulama yang berkata bahwa kata “agama” sesungguhnya tidak cukup bisa menampung seluruh keragaman makna yang terdapat dalam kata “aldîn”.

Secara harfiah kata “aldîn” sendiri, menurut para ulama, diartikan sebagai ketundukan dan kepasrahan hanya kepada Allah. Kata ini juga bisa berarti pembalasan. Itu sebabnya dalam Surah Al-Fatihah terdapat ayat yang berbunyi “mâliki yaumi al-dîn.” Artinya, Dialah Allah yang memiliki dan menguasai Hari Pembalasan.

Di ayat pertama Surah Al-Mâ‘un ini, Allah bertanya kepada Nabi SAW dan pada ayat selanjutnya Allah sendiri yang menjawab pertanyaan itu, “Dialah orang yang menyingkirkan anak yatim” (Fadzâlika alladzî yadu’u alyatîm).

Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Jâmi’ li Ahkâmi al-Qur’ân menyatakan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah ketika Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Abu Lahab sedang menyelenggarakan pesta makan daging. Tiba-tiba ada sekelompok anak yatim datang kepada mereka dan meminta sebagian daging. Alih-alih memberikan daging, mereka justru mendorong anak-anak yatim itu hingga jatuh tersungkur.

Siapa sebenarnya yang disebut dengan alyatîm dalam surah ini? Kata “alyatîm” sendiri memiliki beragam makna. Dalam kitab Lisânu al‘Arab yang ditulis Ibnu Manzhur, kata “alyatîm” artinya sendirian, orang yang sedang sendiri, orang yang merasa kesepian. Maka, bagi sebagian ulama, laki-laki yang tidak memiliki istri adalah “alyatîm” karena dia pasti merana dengan kesendiriannya.

Secara istilah, kata “alyatîm” merujuk pada seorang anak yang tidak memiliki perlindungan dari seorang ayah. Pada saat Al-Quran turun di zaman itu sistem patriarkhi yang berkembang. Sehingga orang yang tidak memiliki ayah itu seperti menghadapi sebuah malapetaka. Tidak ada orang yang melindunginya, baik secara fisik maupun finansial.

Setelah perhatian kepada anak yatim, ayat ketiga berisi: “Dan tidak mendorong dirinya ataupun orang lain untuk memberi makan kepada orang-orang miskin” (Wa lâ yahudhdhu ‘alâ tha’âmi almiskîn). Hal ini menunjukkan, sebagaimana orang-orang kaya, kaum papa dan anak-anak yatim juga membutuhkan makanan.

Karena itu, Allah kemudian mensyariatkan ditetapkannya ketentuan zakat, sedekah, dan infak. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat serius terhadap kaum papa untuk mendapatkan pertolongan dari orang-orang yang berpunya. Bahkan sebagian ulama berkata, “Sekiranya orang-orang kaya tidak mau membayar zakat maka negara boleh memaksa mereka untuk mengeluarkan zakatnya.”

Setelah menggambarkan betapa pentingnya kepedulian sosial, ayat selanjutnya menegaskan: “Celaka orang-orang yang salat” (Fawaylu li almushallîn). Ayat ini tidak menegaskan mereka yang lalai di dalam salatnya karena tidak mampu menjaga konsentrasi atau khusyuk selama dua, tiga hingga empat rakaat.

Ayat ini menegaskan bukan orang yang lalai di dalam salatnya, tapi orang yang lalai dari salatnya. Dialah orang Islam yang tidak konsisten dalam mendirikan ibadah salat. Siapa mereka itu?

Ayat selanjutnya mengatakan: “Yaitu, orang-orang yang ria atau pamer di dalam pelaksanaan salatnya” (Alladzîna hum yurâũna) dan “Orang yang enggan memberikan bantuan yang sedikit” (Wa yamna’ũna almâ’ũn).

Kata “almâ’ũn” sendiri berarti sesuatu yang sedikit (syaiun qalil). Jika dibandingkan dengan seluruh kekayaan yang kita miliki, zakat, sedekah, dan infak adalah sesuatu yang sedikit. Allah hanya memerintahkan kita untuk memberikan 2,5 persen hingga 5 atau 10 persen dari harta yang kita miliki untuk diberikan kepada kaum papa.

Jadi, orang-orang yang akan dikutuk oleh Allah adalah mereka yang enggan untuk memberikan sesuatu yang sedikit itu kepada orang-orang yang tidak mampu dan miskin.

Dengan dasar dan fondasi Surah Al-Mâ‘un ini, Muhammadiyah kemudian melakukan jihad dengan mendirikan banyak rumah sakit, sejumlah panti asuhan, sekolah-sekolah, dan seterusnya. Ini seharusnya tidak hanya menjadi perhatian Muhammadiyah secara keorganisasian tapi juga menjadi perhatian seluruh umat Islam.[]

*Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat Dr. Abdul Moqsith Ghazali di Yayasan Paramadina, 08 Oktober 2015.

Comments

comments