buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Perilaku Kafir dalam Diri Umat Islam*

Sebagian umat Islam masih banyak yang keliru dalam memahami perbedaan antara orang-orang kafir dan sifat-sifat kekafiran. Begitu juga umat mukmin dengan sifat-sifat kemukminannya. Bisa saja seseorang mengaku muslim atau mukmin, tapi belum tentu dia memiliki sifat-sifat kemukminan. Bahkan bisa sebaliknya, seorang mukmin malah menunjukkan sifat-sifat kekafiran.

Persoalan orang-orang kafir dengan kaum mukmin telah selesai sejak Allah SWT menurunkan kepada Nabi Muhammad SAW Surah Al-Kâfirũn. Tapi persoalan sifat-sifat kekafiran dan kemukminan hingga kini masih belum selesai.

Dalam Al-Quran, Allah SWT banyak memberi penjelasan tentang orang-orang kafir beserta sifat-sifat kekafiran juga kaum mukmin dan sifat-sifat kemukminannya. Salah satunya pada Surah Al-Fath [48]: 29.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap kuffar, tapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” 

Ayat ini sering dikumandangkan oleh para dai, tapi dengan pengertian yang kurang tepat. Seringkali orang menafsirkan kata “kuffâr” dengan maksud “kâfir”. Padahal jamak dari kata “kâfir” bukanlah “kuffâr” melainkan “kâfirũn”. Karena itu, kata “kuffâr” sebetulnya lebih tepat diterjemahkan dengan “sifat-sifat kekafiran”. Dan sifat-sifat kekafiran ini sangat mungkin dimiliki oleh kita umat Islam.

Ayat itu menunjukkan bahwa Nabi SAW sangat tegas kepada orang-orang yang memiliki sifat-sifat kekafiran. Sebaliknya, Rasulullah sangat berkasih sayang pada mereka yang tidak memiliki sifat-sifat kekafiran. Orang-orang yang Nabi Muhammad kasihi itu adalah mereka yang melakukan rukuk dan sujud karena mengharapkan rida dari Allah. Dan tanda-tanda mereka tampak terlihat pada muka mereka dari bekas sujud.

Banyak orang keliru dalam menerjemahkan ‘bekas sujud’. Ada sebagian kalangan menganggap ‘bekas sujud’ itu sebagai jidat hitam karena banyak bersujud. Padahal pengertian yang dimaksud ayat ini bukan dalam arti tanda fisik, tapi lebih pada suatu sikap, perangai atau perilaku yang menunjukkan bahwa orang tersebut memang memiliki sifat-sifat ketundukan kepada Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi SAW sangat mempermasalahkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat kekafiran, bukan orang kafirnya. Soal orang kafir dan mukmin, sebagaimana telah disebutkan di atas, sudah selesai pada zaman Nabi SAW. Waktu itu sebagian orang percaya kepada beliau dan sebagian lagi tidak.

Saat menyampaikan wahyu, Nabi SAW sempat mengalami kegelisahan dan merasa sedih kenapa kebenaran yang beliau bawa sulit untuk mereka terima. Kemudian Allah menegur beliau: “Ya Rasul, engkau hanya penyampai berita-berita gembira dan ancaman. Engkau bukan seorang penguasa yang berhak memaksa orang supaya taat dan beriman kepada-Ku. Tidak lebih dari itu,” kata Allah.

Jadi, dalam ayat ini titik tekannya pada sifat kekafiran, bukan orang kafir. Sifat-sifat dan perilaku kekafiran ini juga terdapat dalam ayat lain dalam Al-Quran. Jika kita telaah lebih dalam, sifat-sifat kekafiran ini tidak hanya terbatas pada orang-orang kafir, tapi juga pada orang-orang Islam.

Banyak contoh tentang sifat-sifat kekafiran yang ada pada umat Islam. Misalnya, kita cenderung berbuat kebaikan jika ada orang yang melihat. Sebaliknya, saat sendiri kita malah tidak melakukan kebaikan itu.

Contoh lainnya, kita sering mendapat nasihat dan diingatkan oleh para ustad atau guru ngaji tentang perbuatan yang tidak baik, tapi kita tetap saja melakukannya. Bahkan ketika hati kita sudah menetapkan bahwa perbuatan itu salah dan kalau tetap dilakukan maka akibatnya akan buruk, kita masih saja melakukannya.

Karena itu, jika ada orang-orang yang mengaku beriman dan ber-Islam tapi masih memelihara sifat-sifat kekafiran, maka Allah akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Secara sosial, sifat-sifat kemukminan dan kekafiran bisa tercermin dari perilaku sehari-hari, baik itu mereka muslim maupun non-muslim. Sangat mungkin orang-orang yang tidak beriman kepada Allah justru memiliki sifat-sifat kemukminan. Misalnya, mereka menjaga kebersihan, ketertiban, dan keteraturan sosial, padahal orang-orang itu tidak menganut agama Islam dan tinggal di negara sekuler.

Sebaliknya, ada orang-orang yang mengaku muslim dan beriman kepada Allah, tapi mereka tidak mau menjaga kebersihan dan ketertiban sosial bahkan mereka bermain politik kotor dan mereka tinggal di negara yang mayoritas beragama Islam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa firman Allah di atas bersifat universal. Tidak terbatas pada masalah iman dan kafir, karena masalah itu sudah selesai. Masalah yang belum selesai adalah tentang sifat kekafiran dan kemukminan yang keduanya bisa melekat pada siapa saja, baik dia beragama Islam maupun tidak.[]

* Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina pada 23 Oktober 2015. Khatib: Muhammad Wahyuni Nafis.

Comments

comments