READY

Workshop READY “Membangun Toleransi dan Bina Damai di Indonesia.”

Setelah sebelumnya dibekali pengetahuan dasar mengenai HAM, agama, perdamaian, konflik, dan komunikasi, kali ini para pemuda Tasikmalaya diajak untuk memperdalam pengetahuannya tentang hak asasi manusia dan hak-hak kewarganegaraan tingkat lanjut. Kali ini mengangkat tema “Membangun Toleransi dan Bina Damai di Indonesia.” Acara ini akan diadakan pada:

Hari/Tanggal  : Rabu-Jumat, 18-20 November 2015.

Pukul                   : 08.00-17.00 WIB

Tempat              : Danau Dariza Resort & Hotel

Jl. Cipanas Raya No. 44/45 Kel. Lengensari, Kec. Tarogong Kaler Cipanas-Garut, Jawa Barat (+ Google Map)

Program READY (Respect and Dialogue) ini diselenggarakan bersama konsorsium beberapa lembaga: Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina, HIVOS, The Wahid Institute, Fahmina, dan LBH Jakarta, atas dukungan Uni Eropa untuk mengkampanyekan respect dan dialogue kepada generasi muda di Sukabumi, Cirebon, dan Tasikmalaya.

Dalam pelatihan lanjutan ini para peserta diharapkan dapat memperdalam pengetahuannya mengenai advokasi dan kampanye kreatif. Dengan berbagai potensi dan kreativitas yang dimiliki generasi muda diharapkan tercipta model penyadaran dan penanganan problem HAM dan hak kewarganegaraan yang berbeda dan cocok bagi generasi muda lain.

“Mereka dapat menggunakan sarana-sarana populer seperti media sosial yang selama ini sangat lekat dengan dunia anak muda dalam kampanye dan advokasi hak-hak tersebut. Atas dasar itulah kami akan menyelenggarakan pelatihan lanjutan kepada generasi muda dengan tema “Membangun Toleransi dan Bina Damai di Indonesia”, ujar Husni Mubarak, Manajer Program PUSAD Paramadina.

Tasikmalaya, dalam beberapa studi, disebut sebagai miniatur Indonesia. Wilayah ini dihuni oleh penduduk dengan berbagai macam latar belakang identitas, beragam etnis, agama dan keyakinan. Tasikmalaya juga pernah mengalami tragedi yang menggemparkan Indonesia, insiden tahun 1996 yang menghanguskan sebagian besar pertokoan dan beberapa rumah ibadah di kota ini. Tak hanya itu, ketegangan juga terjadi terkait bagaimana mengelola perbedaan keyakinan keagamaan tertentu.

Tentu saja, kita semua tidak ingin tragedi tersebut terulang. Semakin tidak aman suatu daerah, semakin kecil kemungkinan untuk bisa memajukan masyarakatnya. Karena itu, upaya memperkuat generasi muda yang toleran, kreatif, dan peduli terhadap bina damai di Tasikmalaya dan sekelilingnya mutlak adanya. ***

 

Comments

comments