buletin-jumat1

(Buletin Jumat) Hidup tapi Mati versus Mati yang Hidup*

Saat ini kita masih dalam suasana Muharram. Di bulan ini banyak terjadi peristiwa penting yang bisa kita jadikan pelajaran. Salah satunya peristiwa yang terkait dengan sikap taat Ali bin Abi Thalib terhadap perintah Nabi Muhammad SAW. Saat itu Nabi memerintahkan Ali untuk tidur di ranjang beliau dengan menggunakan selimut yang biasa dipakai Rasulullah.

Ali tahu bahwa apa yang dilakukannya sangat membahayakan keselamatan dirinya. Pada malam itu kaum kafir Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi SAW di tempat tidurnya. Siapapun yang tidur di ranjang Nabi sudah pasti menjadi sasaran pembunuhan. Nabi sendiri saat itu diperintahkan Allah SWT untuk hijrah ke kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Al-Madinah Al-Munawwarah.

Walaupun Ali sedang mempertaruhkan nyawanya, ketaatan menantu Nabi ini tidak sedang mengajarkan bagaimana kematian yang baik. Ketaatan Ali terhadap perintah Nabi mengajarkan kita tentang makna hidup dan kehidupan.

Banyak orang mengartikan hidup sebatas pada nafas, gerak, dan berkembang. Menurut Al-Quran, pengertian itu bukanlah arti hidup yang sebenarnya. Pengertian yang seperti itu hanyalah pengertian hidup secara fisik.

Terkait arti hidup menurut Al-Quran, Prof. Dr. Quraisy Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran mendefinisikan hidup sebagai sebuah nilai kebaikan dan manfaat yang dimiliki oleh seseorang. Tak hanya saat ia masih hidup, tapi juga sampai ia meninggal dunia.

Karena itu dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bahwa orang yang masih hidup namun memiliki perangai yang buruk ia dianggap sudah meninggal. Sebaliknya, ada orang yang sudah wafat di jalan Allah dan ia meninggalkan jasa yang amat berharga maka ia dianggap masih hidup.

Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah (mereka itu) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 154).

Hal ini bahkan Allah tegaskan lagi dalam Surah Alu Imran: “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki” (Q.S. Alu Imran [3]: 169).

Orang yang telah meninggal di medan perang atau di jalan Allah tapi dianggap masih hidup itu karena mereka memiliki nilai manfaat bagi generasi sesudahnya. Mereka telah mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya agama Islam. Berkat jasa-jasa mereka Islam bisa sampai pada kita.

Makna “Janganlah mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah (mereka itu) telah mati” bisa dikembangkan lagi tak hanya terbatas pada orang-orang yang meninggal di medan perang. Imam Fakhrurrazi dalam kitab tafsirnya Mafâtih al-Ghaib, misalnya, menjelaskan bahwa ayat ini juga berkenaan dengan orang-orang yang selama hidupnya mengabdikan dirinya untuk kebaikan. Dan kebaikan yang ia lakukan masih bisa dinikmati oleh orang-orang sepeninggalnya.

Sebagai contoh, apa yang dilakukan para ulama kita terdahulu. Mereka memang sudah meninggal namun jasa-jasa mereka dalam bentuk tulisan masih bisa kita baca hingga sekarang. Mereka seperti masih hidup dan mengajarkan apa yang telah mereka tulis. Begitu pun yang pendiri Yayasan Paramadina ini lakukan. Yaitu, Nurcholish Madjid (Cak Nur). Beliau sudah tiada tapi jasa-jasanya dalam bentuk tulisan, yayasan, dan universitas masih bisa kita nikmati hingga saat ini.

Begitupun dengan kuburan para ulama kita yang tidak pernah sepi dari para pengunjung yang hendak berziarah. Banyaknya pengunjung menjadikan warga sekitar berinisiatif untuk berdagang guna memenuhi kebutuhan para pengunjung juga membantu perekonomian mereka sendiri. Ini menjadi bukti betapa para ulama yang sudah meninggal pun masih memberikan manfaat.

Sebaliknya, dalam beberapa ayat Al-Quran ada orang-orang yang dianggap mati padahal mereka masih hidup. Di antaranya dalam Surah Al-Munâfiqûn: “Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar…” (Q.S. Al-Munâfiqûn [63]: 4).

Dalam ayat ini, Al-Quran sedang membicarakan sifat-sifat munafik yang bisa melekat pada siapa saja. Bisa saja kita sebagai seorang Muslim masih memiliki sifat-sifat munafik. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat yang demikian.

Ayat ini menyebutkan bahwa ciri-ciri orang-orang munafik itu secara fisik sangat meyakinkan. Mereka terlihat seperti orang baik-baik. Kita takkan menduga kalau ternyata mereka adalah pencuri atau penjahat. Tapi kenyataannnya, banyak orang-orang yang berpenampilan hebat, memiliki kendaraan mewah dan rumah megah justru yang mencuri uang kas negara. Mereka telah menyengsarakan rakyat.

Ciri lain orang munafik jika mereka berbicara kita yang mendengarnya akan terpukau dan mempercayainya. Mereka punya kemampuan retorika yang bagus. Inilah yang terjadi saat Pemilihan Umum (Pemilu). Mereka yang punya kemampuan retorika yang bagus dan mampu mengumbar janji-janji palsu justru yang biasanya terpilih walau dengan rekam jejak buruk.

Allah mengibaratkan mereka yang berpenampilan bagus secara fisik tapi berperilaku buruk sebagai “kayu yang tersandar/tergeletak”. Kayu yang tergeletak itu biasanya adalah kayu yang sudah tidak terpakai lagi dan sudah tak memiliki manfaat. Dengan kata lain, mereka adalah sampah masyarakat. Sampah itu menjijikkan dan tak bisa memberikan rasa aman pada orang-orang di sekitarnya.

Nabi SAW dengan tegas mengingatkan kita untuk tidak berperilaku demikian. Beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan manfaat pada orang lain.” Dan inilah sesungguhnya semangat yang ada pada hijrah Nabi Saw. []

* Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina pada 30 Oktober 2015. Khatib: Dr. Abdul Rauf.

Comments

comments