Foto: untukwajahislam.blogspot.co.id/
Foto: untukwajahislam.blogspot.co.id/

[Buletin Jumat] Empat Prinsip Toleransi Muslim Sejati*

Saat ini kita sedang mengalami krisis toleransi. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya teror dan sikap intoleransi terhadap orang yang berbeda agama, mazhab, dan aliran kepercayaan. Bagaimana sikap seorang muslim sejati menghadapi teror dan berbagai tindak intoleransi itu?

Pada Jumat, 13 November 2015 lalu, kita dikejutkan dengan teror bom di Paris, Perancis. Banyak yang menduga, hal itu dilakukan oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Teror bom ini menewaskan 160 orang. Sebelumnya, pada 13 Oktober 2015, sebuah gereja di Singkil, Aceh, dibakar massa. Dua orang tewas dalam insiden ini. Beberapa bulan sebelumnya, 17 Juli 2015, sebuah Masjid di Tolikara, Papua, dibakar umat Nasrani jelang Shalat Id. buletin-jumat1

Tak hanya itu, gejala mudah membid’ahkan dan mengkafirkan penganut agama atau mazhab lain juga makin marak. Misalnya, dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk kelas 11 halaman 78 terdapat kalimat: “Orang yang tidak menyembah Allah adalah non-muslim dan kafir serta boleh dibunuh.” Begitu juga dengan isu Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni) versus Syi’ah yang kian meruncing dengan nada yang provokatif dan penuh kebencian.

Nabi Muhammad SAW sudah menunjukkan suri tauladan yang sangat baik bagi pengikutnya. Misalnya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Ketika Nabi SAW sedang duduk dan berkumpul dengan para sahabatnya, ada rombongan yang sedang mengiringi jenazah seorang Yahudi. Rasulullah memberikan penghormatan terakhir kepadanya dengan berdiri.

Sahabat yang melihat itu lalu bertanya, kenapa beliau berbuat demikian kepada orang yang berbeda agama. Nabi SAW menjawab, sikap berdiri itu merupakan wujud dari penghormatan beliau kepada kemanusiaan orang Yahudi itu. Tidak peduli ia berbeda agama ataupun suku-bangsa. Berbeda agama bukan berarti harus memusuhi karena kita sama-sama manusia.

Riwayat dari Bukhari dan Muslim ini dikutip oleh Syekh Yusuf Qardhawi. Menurutnya, itulah salah satu contoh toleransi yang diajarkan dalam Islam yang seringkali terlupakan sehingga kita lebih banyak bersikap intoleran bahkan kepada orang yang hanya berbeda pendapat dengan kita.

Qardhawi mengatakan bahwa seorang muslim sejati mestinya mau menghargai dan menghormati berbagai perbedaan, seperti yang telah Nabi SAW contohkan. Yaitu, ketika beliau hidup berdampingan secara damai di Madinah dengan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan penganut Zoroaster.

Masih banyak sikap toleransi yang Rasulullah contohkan. Dalam Al-Quran, misalnya, Allah SWT mengisahkan: “Dan mereka memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan kepada tawanan” (Q.S Al-Insân [76]: 8).

Yang disebut tawanan perang dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy. Mereka bukan hanya berbeda agama, tapi juga musuh yang sangat anti-Islam dan memerangi kaum Muslim.

Dari beberapa contoh toleransi di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa toleransi itu memiliki empat prinsip utama. Pertama, prinsip pluralitas (al-ta`addudiyah). Seorang Muslim, menurut Qardhawi, seharusnya meyakini Keesaan Allah (al-Khâliq) dan keberagaman ciptaan-Nya (makhlûq).

Dalam Al-Quran, Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. Al-Hujurât [49]: 13).

Dalam ayat itu disebutkan bahwa kita diciptakan berbeda-beda, baik dari segi jenis kelamin (gender) maupun suku bangsa dan bahasa. Tujuannya tiada lain adalah untuk saling mengenal, bukan agar saling memusuhi. Dengan demikian, keragaman adalah sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang tidak bisa kita pungkiri. Itu merupakan watak alamiah.

Prinsip kedua, perbedaan itu terjadi karena kehendak Allah. Allah sendiri yang mengatakannya dalam Al-Quran: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu hendak memaksa semua manusia agar mereka menjadi orang-orang beriman?” (Q.S. Yunus [10]: 99).

Prinsip ketiga adalah memandang manusia sebagai satu keluarga (usrah wâhidah). Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan: Allah SWT. Dari sisi nasab atau keturunan, manusia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS.

Pesan ini dengan jelas terdapat dalam ayat pertama dalam Surah Al-Nisâ (min nafsin wâhidah) agar kita saling menolong dan bersilaturahim. Pesan ini juga terdapat dalam deklarasi Nabi SAW yang amat mengesankan pada haji perpisahan (wada`) tentang pentingnya persaudaraan sesama manusia dan larangan menzalimi sesama; mengambil atau merusak harta mereka; dan larangan diskriminasi lantaran perbedaan kebangsaan, warna kulit atau agama.

Prinsip terakhir adalah kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya (takrîm al-insân li insâniyyatih). Manusia adalah makhluk tertinggi yang Allah muliakan dan lebihkan atas makhluk-makhluk lain (Q.S. Al-Isrâ’ [17]: 70) dan Dia menobatkan kita sebagai khalifah (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30). Dengan dasar ini kita makin mafhum bahwa penghormatan Nabi kepada jenazah Yahudi itu dilakukan semata-mata karena kemanusiaannya, bukan warna kulit, suku, atau agamanya.

Dari empat prinsip itu, perbuatan teror dan intoleransi harus kita antisipasi. Jangan sampai hal itu menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seperti yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Karena itu, ada beberapa sikap yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim dalam menyikapi semua ini.

Sikap pertama adalah tidak boleh ada paksaan dalam beragama, berkeyakinan, dan bermazhab. Ini jelas termaktub dalam Al-Quran (lâ ikraha fiddîn: Q.S. Al-Baqarah [2]: 256). Islam itu agama hanîf. Kecenderungan bawaan atau cenderung pada kebenaran. Agama itu fitrah. Sesuatu yang fitrah itu bertolakbelakang dengan hal yang dipaksakan.

Sikap kedua adalah melihat perbedaan sebagai hukum alam (sunnatullah). Perbedaan itu pelangi yang indah dan kesempatan untuk saling bekerjasama dalam bingkai toleransi. Saling memahami dan menghargai serta berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan (fastabiqul khairât: Q.S. Al-Mâidah [5]: 48).

Sikap terakhir adalah mengembangkan sikap terbuka dan dialog dengan motivasi mencari kebenaran, bukan pembenaran. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: “… Sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah ulul albab” (Q.S. Al-Zumar [39]: 17-18).

Dengan ketiga sikap ini kita tidak mudah membid’ahkan atau menyesatkan apalagi mengkafirkan pihak lain yang berbeda. Ketiga sikap ini mengedepankan akhlak daripada fikih. Mengedepankan kesantunan dalam melihat perbedaan. Bahkan Nabi sendiri menyebut Abu Lahab, orang yang menentang beliau, dengan sebutan wahai pamanku’ (yâ ‘amî) walaupun Allah sangat mengecam Abu Lahab (lihat Q.S. Al-Lahab [111]: 1).

Semoga kita semua bisa menjadi hamba Allah yang selalu menyeru dan mengajak kepada kebaikan dengan cara yang santun dan bijak serta nasihat atau contoh yang baik. Kalaupun harus berdebat, berdebatlah dengan cara yang baik dan tidak mudah menbid’ahkan, menyesatkan apalagi mengkafirkan.

Semoga misi kita untuk meneruskan ajaran Nabi SAW bisa terwujud. Yaitu, ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semua (rahmatan li l-‘alamîn). Semoga konflik dan kekerasan atas nama agama atau karena perbedaan mazhab dan pemikiran bisa kita minimalisir.[]

*Naskah ini merupakan hasil transkrip Khutbah Jumat di Yayasan Paramadina pada 20 November 2015. Khatib: Mukhlisin Aziz, MA.

Comments

comments