cak nur okk

Hak Pribadi dan Kewajiban Sosial

Oleh Nurcholish Madjid.

Salah satu ajaran agama yang sangat mendasar adalah tanggung jawab pribadi manusia kelak di hadapan Tuhan. Konsekuensi ajaran ini adalah bahwa setiap orang mempunyai hak memilih jalan hidupnya dan tindakannya sendiri. Bahkan agama pun tidak boleh dipaksakan kepadanya.

Hak yang amat asasi ini kemudian bercabang menjadi berbagai hak yang tidak boleh diingkari. Di antaranya ialah hak untuk menyatakan pendapat dan pikiran ditambah dengan prinsip kesucian asal manusia (fithrah) yang membuatnya selalu berpotensi untuk benar dan baik (hanîf), dengan akibat bahwa setiap orang mempunyai hak untuk didengar. Adanya hak setiap orang untuk didengar ini menghasilkan kewajiban orang lain untuk mendengar.

Hak setiap orang untuk memilih, menyatakan pendapat dan pikiran serta kewajiban setiap orang untuk mendengar pendapat dan pikiran orang lain ini membentuk inti ajaran agama tentang musyawarah—perkataan yang secara etimologis berarti “saling memberi isyarat” tentang apa yang benar dan baik; jadi bersifat “reciprocal” dan “mutual.” Prinsip musyawarah ini mendasarkan motivasi teologis untuk penerimaan paham demokrasi.

Jika potensi setiap orang untuk benar dan baik mengakibatkan adanya hak untuk memilih dan menyatakan pendapat, maka potensi setiap orang untuk salah dan keliru —karena manusia memang lemah, walaupun fitrahnya adalah baik— mengakibatkan adanya kewajiban untuk mendengar pendapat orang lain. Dan sekali seseorang merasa tidak perlu mendengar pendapat orang lain —yang berarti ia sengaja melepaskan diri dari ikatan sosial berdasarkan hak dan kewajiban saling memberi isyarat tentang kebaikan dan kebenaran itu— maka ia akan terjerembab ke dalam lembah kezaliman seorang thâghût (tiran, despot, diktator).

Dalam keadaan seperti itu ia akan berkembang menjadi musuh masyarakat, disebabkan dorongan pada dirinya yang bertindak sewenang-wenang karena merasa diri sendiri paling baik dan benar.

Jika kita telaah firman Allah berikut tentang hak-hak pribadi dan kewajiban sosial, akan tampak pada kita hubungannya dengan prinsip-prinsip kelapangan dada dan kerendahan hati yang dituntut pada setiap orang. Artinya, hak-hak pribadi dan kewajiban sosial tidak akan terwujud dengan baik jika tidak disertai kelapangan dada, kerendahan hati, dan keterbukaan.

“Adalah karena rahmat dari Allah, maka kau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka (para sahabatmu). Sekiranya kau kejam dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari lingkunganmu. Maka maafkanlah mereka, dan mohonkan ampun untuk mereka, serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam (segala) urusan. Jika kemudian kau telah ambil keputusan, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah cinta kepada mereka yang bertawakal” (Q.S. Alu Imram [3]:159).

Menarik bahwa dalam ayat ini semuanya dimulai dengan adanya rahmat atau kasih Allah kepada Nabi Saw, suatu petunjuk tentang adanya hubungan positif dan keseimbangan antara hak-hak pribadi dan kewajiban sosial. Rahmat Allah itu berkaitan langsung dengan keseimbangan hak-hak pribadi dan kewajiban sosial. Keseimbangan hak-hak pribadi dan kewajiban sosial —dilukiskan oleh ayat tersebut— memerlukan sikap-sikap dasar keterbukaan, penuh pengertian dan toleransi kepada orang lain serta masih ditambah adanya rahmat Allah agar semaunya dapat terlaksana dengan baik.

Mengacu kepada kondisi masyarakat kita yang plural, sikap penuh pengertian kepada orang lain ini diperlukan agar masyarakat tidak menjadi monolitik, apalagi pluralitas masyarakat itu merupakan dekrit Allah dan desain-Nya untuk umat manusia. Jadi, tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama dan sebangun dalam segala segi (Lihat: Q.S. Hud [11]: 118-119).

Segi keseimbangan hak-hak pribadi dan kewajiban sosial merupakan bagian dari gambaran Al-Quran tentang hakikat kaum beriman.

“Maka apapun yang diberikan kepadamu hanyalah guna kesenangan hidup di dunia ini. Tapi yang ada pada Allah, lebih baik dan lebih lestari bagi mereka yang bertawakal kepada Tuhan mereka, dan bagi mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan jika mereka marah tetapi mampu memberi maaf; Dan bagi mereka yang menyahut (menerima dengan baik) seruan Tuhan mereka, lagi pula menegakkan shalat, dan urusan sesama mereka adalah musyawarah sesama mereka, dan mereka mendermakan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka; Dan bagi mereka yang bila ditimpa kezaliman, mereka membela diri; Balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi barangsiapa memberi maaf dan berdamai, maka pahalanya ada pada Allah. Sesungguhnya Dia tidak suka kepada orang-orang yang zalim; Tapi barangsiapa membela diri setelah diperlakukan secara zalim, maka tidak ada jalan (untuk menimpakan kesalahan) terhadap mereka; Jalan (menimpakan kesalahan) hanyalah ada terhadap orang-orang yang berlaku zalim kepada sesama manusia, dan bertindak melanggar di bumi tanpa alasan yang benar (otoriter). Mereka itulah yang bakal mendapat azab yang pedih; Namun barangsiapa sabar dan tetap memberi maaf, maka itulah perbuatan yang amat terpuji” (Q., 42: 36-43).

Karena manusia adalah makhluk sosial, ayat ini dengan jelas menggambarkan bahwa tekanan yang terlalu berat kepada hak pribadi akan berakibat tumbuhnya sikap-sikap dan pandangan hidup yang menyalahi kodratnya sebagai makhluk sosial. Egoisme, otoritarianisme, tiranisme, dan lain-lain yang serba berpusat kepada kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain, adalah sangat tercela.

Sikap-sikap terbuka, lapang dada, penuh pengertian, dan kesediaan untuk senantiasa memberi maaf secara wajar dan pada tempatnya, adalah sangat terpuji. Gabungan serasi antara hak pribadi dan kewajiban sosial ini menghasilkan ajaran tentang “jalan tengah” (wasath, wajar, dan fair [qisth] serta adil [‘adl]), yaitu sikap-sikap yang secara berulang-ulang ditekankan Al-Quran.

Islam adalah ajaran yang sangat menekankan keseimbangan. Karena itu, menegaskan kembali ajaran ini —apalagi dalam hal keseimbangan antara hak-hak pribadi dan kewajiban sosial—adalah hal yang sangat mendesak, dan kelihatannya agak terlupakan oleh sebagian kaum Muslim Indonesia. []

 

Sumber: Budhy Munawar-Rachman (Peny.), Ensiklopedi Nurcholish Madjid (Mizan, Yayasan Paramadina, CSL: 2006)

Comments

comments