buletin jumat 2

[Buletin Jumat] Tabungan Amal Bisa Tolak Bala asalkan…*

Oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar**

Dalam Al-Quran, Allah SWT mengajarkan kita untuk melakukan amal kebajikan dan mencegah keburukan (‘amal ma’rûf nahî munkar). Kebajikan itu bukan untuk Allah. Allah tidak butuh itu semua. Kebaikan itu kembali pada diri kita sendiri.

Salah satunya untuk tolak bala. Tapi tidak semua kebajikan atau tabungan amal (spiritual saving) bisa menyelamatkan kita, misalnya, dari musibah. Hadist di bawah ini mengajarkan kita bagaimana tabungan amal bisa menyelamatkan kita.

Dalam sebuah hadits sahih dikisahkan tentang tiga orang pemuda pencari kayu bakar. Saat itu musim hujan. Hujan turun dengan derasnya. Ketiga pemuda itu berteduh di dalam gua tiba-tiba terjadi longsor. Pintu gua tertutup oleh batu besar. Tenaga ketiga orang itu tidak mampu mendorong batu besar itu.

Dalam keadaan genting itu, salah seorang yang paling senior di antara mereka berkata, “Siapa di antara kita di sini yang pernah memiliki amal kebajikan luar biasa? Hanya dengan amal kebajikan itulah yang bisa menolong kita di hadapan Allah.” Tak satupun dari mereka yang mau mengakuinya, entah karena memang tidak pernah melakukannya atau karena rendah hati (tawadhu).

Kemudian pemuda yang paling senior duduk di depan batu besar itu dan berkata, “Ya Allah, inilah hamba-Mu yang tidak pernah melakukan amal istimewa terhadap-Mu kecuali satu hal, barangkali Engkau bisa mempertimbangkannya. Suatu ketika ibunda saya sakit keras, saya terlambat pulang karena mencari kayu bakar. Sesampai di rumah saya menjumpai ibunda terbaring dan beliau minta untuk dibelikan susu segar.”

Ia melanjutkan: “Saya berusaha untuk mencarikan penjual susu segar dan akhirnya saya temukan. Tapi saat tiba di rumah ibunda saya sedang tertidur. Dalam kondisi berdiri, saya menunggu ibu terbangun hingga subuh menjelang. Akhirnya beliau terbangun dan meminum air susu segar itu dengan lahapnya. Di saat yang sama adik saya yang masih kecil merengek-rengek minta susu segar tersebut, tapi saya tidak memberikannya.”

Lalu pria itu memohon kepada Allah: “Ya Allah, seandainya ini ada artinya bagi-Mu mohon batu besar yang menghalangi kami untuk digerakkan”. Setelah berdoa dan bertawasul untuk meminta perantaraan amal yang pernah ia lakukan, di luar dugaan batu itu bisa bergeser sedikit setelah didorong.

Selanjutnya pemuda kedua maju. Ia bersimpuh di depan batu yang menutupi dinding gua itu dan berkata, “Ya Allah, hamba-Mu juga tidak pernah melakukan apapun yang istimewa bagi-Mu. Saya pernah jatuh cinta kepada sepupu saya tapi cinta saya selalu ditolak. Suatu saat dia mendatangiku dan memohon bantuan untuk biaya berobat ibunya yang sedang sakit. Sebagai imbalannya ia mau melakukan apapun untuk saya.”

Pemuda kedua melanjutkan, “Saat saya duduk di antara dua kaki perempuan yang sudah lama saya idam-idamkan itu, dalam keadaan tidak ada orang yang melihat dan sama-sama rela, saya terpikir untuk menodainya. Tapi sebelum perbuatan itu terjadi, sepupu saya mengatakan, ‘Apakah engkau tega merusak cincin yang bukan milikmu?’ Mendengar ucapan itu hati saya bergetar. Seketika itu saya langsung memberinya uang dan berlari meninggalkannya.”

Kemudian ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, jika ini berpengaruh terhadap diri saya, maka bantu kami untuk melepaskan diri dari kurungan batu besar ini”. Lalu ia mendorong batu besar itu dan benar saja batu besar itu bergeser walau hanya sedikit.

Lalu pemuda ketiga maju dan bersimpuh di depan batu itu, “Ya Allah, hamba-Mu ini adalah orang awam biasa yang tidak punya keistimewaan amal apapun, kecuali waktu saya masih mempunyai pekerjaan yang baik dan mempekerjakan banyak orang. Pada waktu itu ada salah seorang karyawati saya berhenti bekerja. Entah kenapa dia tidak datang untuk mengambil gaji terakhirnya. Saya berinisiatif untuk membelanjakan gaji terakhirnya dengan membeli sepasang kambing dan unta. Lambat laun kambing dan untanya terus beranak-pinak.”

Ia melanjutkan: “Pada suatu saat mantan karyawati saya datang untuk menanyakan perihal gajinya yang belum ia ambil. Saya pun membawanya ke padang rumput yang berisi kambing dan unta. Saya katakan padanya bahwa semuanya ini adalah gajinya yang sudah beranak-pinak. Ia pun mengambil semua haknya tersebut tanpa tersisa.”

Kemudian pemuda ketiga ini memohon: “Ya Allah, kalau perbuatan itu berpengaruh terhadap diri saya, maka bantu kami menggeser batu ini”. Lalu ia mendorong batu itu. Kemudian menggelindinglah batu itu turun ke bawah.

Ketiga pemuda itu pun akhirnya bisa keluar dari gua dengan selamat.

Kejadian seperti ini dalam bahasa agama dapat kita sebut dengan tabungan amal atau spiritual saving. Spiritual saving bisa berupa perbuatan-perbuatan luar biasa yang bisa menjadi tolak bala dan perantara kita untuk memohon pertolongan kepada Allah. Tentu dengan syarat. Yaitu, orang yang memiliki spiritual saving tersebut tidak pernah menepuk dada setelah berbuat kebajikan seperti sikap rendah hati atau tawadhu’ ketiga pemuda tersebut.

Jika kita cermati apa yang ketiga pemuda itu lakukan memang luar biasa. Manusia modern seperti kita jarang yang kuat berdiri berjam-jam menunggu ibunya siuman dari tidurnya; meninggalkan perempuan yang sudah lama diidam-idamkannya dalam keadaan aman dan suka-sama suka; atau mengambil salah satu ternak yang ia besarkan dari gaji karyawatinya walau bisa saja dia menerima tawaran karyawatinya untuk mengambil satu pasang dari ternak tersebut.

Ini adalah pelajaran berharga untuk kita. Orang yang tidak memiliki spiritual saving sulit untuk meminta tolong begitu musibah datang. Berbeda dengan orang yang memiliki spiritual saving, ketika musibah datang amal ibadahnya akan menolongnya. Sehingga ia bisa dengan mudah menghadapi musibah tersebut.

Dengan demikian, siapapun kita, marilah kita berbuat kebajikan yang tidak pernah diketahui orang lain. Perbuatan ini diistilahkan oleh hadits Nabi “disumbangkan tangan kanan kita tapi tidak diketahui oleh tangan kiri kita sendiri”. Artinya, ketika kita sudah melakukan suatu kebaikan janganlah kita menceritakannya kepada orang lain. Intinya, kita harus ikhlas. Karena amal kebajikan yang diceritakan kepada orang lain tidak akan bisa menyelamatkan kita dari musibah.

Itulah sebabnya Allah mengajarkan dalam Al-Quran untuk melakukan amal kebajikan serta mencegah keburukan (‘amal ma’rûf nahî munkar). Kebajikan itu bukan untuk Allah. Allah tidak butuh itu semua. Kebaikan itu kembali pada diri kita sendiri.

Di balik kebajikan ada hikmahnya. Begitu juga larangan perbuatan buruk pasti ada maksudnya. Misalnya, salah satu maksud dari larangan perbuatan zina tiada lain adalah untuk mengendalikan populasi manusia agar seimbang. Seandainya Allah tidak melarang perbuatan zina maka kita butuh lebih dari 100 bola dunia untuk menampung manusia lantaran bumi sudah kelebihan populasi.

Begitupun dengan perintah salat. Manfaat dari perintah salat adalah mengajarkan kita untuk disiplin waktu. Salat adalah cara mengatur waktu yang paling efektif. Dengan melakukan salat atas kesadaran sendiri, kita akan mudah mengatur waktu untuk istirahat dan bekerja.

Bahkan secara tekstual Nabi Muhammad SAW mengatakan, Siapa yang membaca lâ ilâha illa Allâh wahdahu lâ syarîkalah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa ‘alâ kulli syayin qadîr 10 kali sesudah Salat Subuh, maka orang itu tidak akan pernah mendapatkan kesulitan hidup di siang hari. Dan siapa yang membacanya lagi 10 kali sesudah Salat Maghrib, maka dia juga tidak akan mendapatkan kesulitan dan fitnah malapetaka sampai pagi hari.”

Jadi, zikir kepada Allah akan menghindarkan kita dari malapetaka.

Semua yang saya jelaskan itu adalah ajaran tolak bala. Ajaran untuk melakukan persiapan sebelum musibah datang. Persiapan itu berupa spiritual saving. Dengan memiliki spiritual saving, saat musibah menimpa tanpa kita berdoa pun Allah sendiri yang akan langsung bertindak. Allah akan melindungi kita karena pengabdian kita kepada-Nya, baik dengan berbuat baik maupun dengan menjaga zikir kita kepada Allah. []

* Transkrip Khutbah Jumat Prof. Dr. Nasaruddin Umar di Yayasan Paramadina, 11 Desember 2015.

** Guru Besar Tafsir di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Penulis buku-buku tafsir dan tasawuf.

 

Comments

comments