buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Tahun Baru, Refleksi Kekufuran Kita*

Dalam rangka menghadapi tahun baru Masehi (2016), ada baiknya kita mengingat kembali pesan Al-Quran tentang syukur dan kufur nikmat.

…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Aku pasti akan tambah (rahmat atau nikmat kebaikan) kepada kamu. Tapi jika kamu ingkar (kafir) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Ada yang menarik dalam pembahasan syukur ini. Kata ‘kafir’ biasanya disandingkan dengan kata ‘iman’. Tapi di ayat itu, ‘syukur’ dihadapkan dengan kata ‘kafir’. Ini berarti orang beriman pun bisa kafir jika tidak bersyukur. Hal itu karena kata ‘kafir’ itu berasal dari kata ‘kafara yang berarti ‘menutup’.

Allah telah menciptakan dan memberikan kita beragam nikmat dan rahmat. Tapi seringkali kita lupa bahwa apa yang kita peroleh adalah bentuk rahmat dari Allah, bukan hasil perjuangan kita semata. Kita kemudian menutup kebaikan itu dan mengatakan bahwa apa yang kita miliki adalah hasil jerih payah kita sendiri. Sehingga hati kita tertutup untuk bersyukur kepada Allah. Itulah yang dimaksud kafir dalam ayat di atas.

Ayat ini berkaitan dengan ayat lainnya dalam Al-Quran: “…Hanya sedikit dari hamba-Ku yang bisa bersyukur” (Q.S. Saba’ [34]: 13). Dua ayat ini bertujuan untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur dan menanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah termasuk ke dalam hamba yang bersyukur terhadap rahmat dan nikmat Allah?

Kata ‘syukur’ dalam Al-Quran sebanyak 75 kali. Ini berarti Allah selalu mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh, meski hanya sedikit orang yang bersyukur terhadap nikmat dan rahmat Allah.

Allah tidak butuh pada rasa dan sujud syukur kita. Yang membutuhkan syukur itu adalah diri kita sendiri. Ketika kita bersyukur kepada Allah sesungguhnya kita sedang bersyukur kepada diri kita sendiri. Karena semuanya akan kembali pada diri kita.

Itulah kenapa jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya pada kita. Semua yang telah kita miliki, baik berupa kesehatan maupun kekayaan, akan Allah terus pelihara bahkan menambahkannya.

Syukur itu ada dua bentuk: fisik atau lahir dan batin. Jika kita memelihara kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, maka kesehatan kita akan terpelihara bahkan bertambah. Inilah yang disebut syukur fisik. Menjaga dan menjauhkan diri dari keburukan. Dan jika kita terus memelihara rasa syukur, maka batin kita akan tenang karena kita telah menjaga kebaikan dalam diri kita dengan bersyukur. Itulah syukur batin.

Syukur itu berfungsi untuk mengikat kebaikan yang sudah Allah berikan kepada kita agar tidak Ia cabut. Jika kita mengingkari nikmat-Nya, Allah akan mengazab kita. Yakni, dengan mencabut kebaikan tersebut. Misalnya, Allah telah menganugerahkan kesehatan kepada kita, tapi kita tidak menjaganya bahkan merusaknya dengan melakukan pola hidup yang tidak sehat, maka kesehatan itu akan Allah cabut dan diganti dengan penyakit.

Jika kita kaitkan pembahasan mengenai syukur ini dengan firman Allah di bawah ini, kita akan menemukan suatu relasi yang menarik. Berikut ayatnya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mengubahnya” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 11).

Jadi, pada dasarnya kita sendiri yang mengubah keadaan kita. Allah tidak akan mencabut kesehatan kita jika kita bersyukur dengan memelihara dan menjaganya. Jika kita ingkar terhadap kesehatan yang telah diberikan dengan melanggar aturan Allah seperti meneguk minuman keras, maka kesehatan kita akan Allah cabut dan digantikan dengan penyakit.

Karena itu, alangkah baiknya jika di awal tahun ini kita merenungkan kembali apa yang telah Allah berikan kepada kita di tahun-tahun sebelumnya lalu bersyukur dan memeliharanya. Dengan  bersyukur, Allah akan menambah kebaikan yang kita punya.

Kita telah dibekali dengan kebaikan-kebaikan yang demikian banyak. Allah tidak akan pernah mencabut kebaikan itu, kita sendiri yang mencabut kebaikan yang Allah berikan kepada kita.

Itulah kenapa kalau kita perhatikan banyak orang-orang kaya dan pejabat-pejabat yang hidupnya stres dan tidak tenang. Itu karena nikmat dari kekayaan material mereka sudah Allah cabut. Secara fisik mereka kaya, tapi secara batin mereka melarat.

Agar kejadian serupa tidak terjadi pada kita, saya ingin menutup khutbah ini dengan doa yang berisi tentang komitmen untuk berpegang teguh kepada keimanan yang Allah berikan. Memohon kepada Allah agar keburukan yang ada pada diri kita dicabut dan kebaikan kita dipelihara. Jika dalam diri kita belum ada kebaikan, kita memohon kepada Allah agar memberikan kebaikan dan menjauhkan keburukan.

Sambil terus bersyukur dan memohon kebaikan-kebaikan pada Allah, kita terus memohon agar keburukan yang ada pada diri kita Allah cabut dan keburukan yang ada di luar diri kita supaya tidak diberikan kepada diri kita.

Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai maksiat, dosa, kufur nikmat, dan berbagai keburukan. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik bersama orang-orang yang baik.[]

*Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat Prof. Dr. Zainun Kamal di Yayasan Paramadina, 08 Januari 2016.

 

Comments

comments