buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Rahasia di Balik Makna Tauhid*

Islam mengajarkan kita senantiasa memperbarui iman dan memperbanyak untuk melafalkan kalimat tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: “Perbaruilah iman dan perbanyaklah ucapan lâ ilâha illa Allâh”.

Kenapa Nabi Muhammad SAW mengajak kita selalu untuk memperbaharui iman? Karena iman merupakan ajaran agama yang paling pokok dan mendasar yang Allah SWT ajarkan pada kita.

Sebelum kita lahir ke dunia ini, tepatnya ketika masih di alam ruh, Allah membuat kontrak dengan kita, sebagaimana tertuang dalam Al-Quran. “Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’” (Q.S. Al-A’râf [7]: 172).

Berbeda dengan ajaran-ajaran Islam lain seperti salat, zakat, puasa, dan haji baru mulai diajarkan dan diwajibkan setelah kita berusia sekitar 14-15 tahun (aqil baligh). Tapi ajaran tauhid, pengakuan terhadap Allah sebagai satu-satunya Tuhan, justru sudah diajarkan sejak kita masih dalam kandungan. Ketika ruh ditiupkan ke jasad kita.

Bahkan, ajaran tauhid dan keimanan ini belum selesai ketika kita sudah meninggal dunia. Tidak seperti ajaran-ajaran Islam lain yang terhenti ketika ruh terpisah dari jasad. Tauhid sampai kapan pun harus terus melekat pada diri kita sebagai bentuk kesejatian diri, yaitu keimanan pada Allah.

Untuk mengetahui urgensi dari ajaran tauhid ini, mari kita simak satu peristiwa yang terjadi pada Nabi SAW. Peristiwa itu bermula ketika beliau dan para sahabat diguyur hujan di tengah perjalanan sepulang dari perang. Mereka lalu menjemur pakaian sembari beristirahat di sebuah kebun kurma yang berada di kaki bukit.

Tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang musuh yang menyelinap dan mengintai Nabi SAW. Namanya Datsur. Ketika musuh itu melihat Nabi SAW yang sedang beristirahat di bawah pohon kurma, ia segera menuruni bukit untuk menghunus pedangnya.

Saat pedang sudah berada di perut nabi dan siap Datsur hunuskan, ia berkata dengan suara lantang, “Siapa yang bisa melindungimu dari pedang ini, wahai Muhammad?” Nabi SAW terkejut dan menjawab, “Yang bisa melindungiku dari pedang ini hanyalah Allah”.

Mendengar nama Allah disebut nabi, seketika itu juga tubuh Datsur lemas. Pedang di tangannya pun jatuh. Nabi SAW segera mengambil pedang itu dan bertanya, “Kalau kau Datsur, siapa yang bisa melindungimu dari pedang ini?” Datsur menjawab, “Hanya satu yang bisa melindungiku dari pedang ini. Yaitu, kebesaran hatimu Muhammad”.

Hanya satu kata “Allah” sudah membuat Datsur lemas. Inilah inti dari ajaran tauhid: Tiada Tuhan selain Allah (lâ ilâha illa Allâh). Allah yang terdapat dalam keyakinan Muhammad paling dalam. Allah yang membuat orang hidup dan mati. Ia yang mengizinkan orang bergerak ataupun diam.

Semua terjadi karena Allah. Hanya Allah yang mengadakan dan meniadakan. Semua berasal dan akan kembali kepada Allah.

Dalam struktur bahasa Arab, kata lâ ilâha illa Allâh terdiri dari dua kata: lâ ilâha dan illa Allâh. Lâ ilâha dalam struktur bahasa Arab disebut dengan nahyî  atau meniadakan. Yang berarti ‘tidak ada Tuhan’. Illa Allâh disebut itsbat atau bentuk afirmasi dan artinya ‘hanya Allah’.

Jika keduanya digabungkan berarti ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. Tidak ada Tuhan yang Maha Kuasa selain Allah.

Dengan kalimat tauhid inilah Nabi SAW membebaskan bangsa Arab dari budaya jahiliah menjadi bangsa yang beradab. Bangsa yang tidak mempertuhankan benda-benda dan ideologi tertentu. Mereka hanya mempertuhankan Allah.

Kalimat lâ ilâha illa Allâh adalah bentuk peniadaan yang menegasikan segala sesuatu selain Allah dan mengafirmasi hanya Allah saja Tuhan kita. Dapat kita analogikan, kalimat tauhid ini ibarat dua kabel yang satu bermuatan elektron dan yang satunya lagi proton.

Gabungan keduanya menghasilkan api dan kekuatan-kekuatan lainnya yang bahkan bisa mengendalikan kekuatan yang lain. Misalnya, dapat melunakkan besi yang kuat sekali pun. Jika hanya satu muatan maka tidak akan menghasilkan apa-apa.

Begitu pun dengan kalimat lâ ilâha illa Allâh, gabungan dari penegasian terhadap Tuhan selain Allah dan pengafirmasian bahwa hanya Allah-lah Tuhan kita menghasilkan kekuatan maha dahsyat.

Kekuatan inilah yang kita miliki dan tertanam dalam hati kita. Karena energi yang ada di dalam jiwa kita yang paling inti dan kuat adalah kalimat lâ ilâha illâ Allâh. Segala yang terjadi itu karena izin-Nya.

Itulah sebabnya kenapa kita diajarkan kalimat tauhid ketika kita belum lahir, dan harus diulang ketika kita lahir, ketika orangtua kita menyuarakan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Ini adalah sebuah perintah agar yang pertama kali didengar oleh sang bayi adalah kalimat tauhid.

Kemudian, setelah umur tujuh tahun kita diperintahkan Allah untuk melakukan salat. Salat dimulai dengan kalimat ‘Allah Maha Besar (Allâhu Akbar). Kita merasakan segala sesuatu selain Allah itu kecil.

Segala masalah yang kita hadapi itu kecil dan pasti bisa diselesaikan. Asalkan kita mau menyelesaikannya dengan tulus tanpa tendensi apapun kecuali karena Allah. Karena hanya Allah yang Maha Besar.

Bahkan ketika ajal kita menjelang (sakarat almaut) pun kita diajarkan untuk mengucapkan lâ ilâha illâ Allâh. Tujuannya agar kata terakhir yang kita ucapkan adalah kalimat tauhid. Karena barang siapa yang sebelum meninggal dunia mengucapkan kalimat lâ ilâha illâ Allâh, maka ia akan masuk surga. Itu berarti dia meninggal dalam keadaan beriman.

Tauhid adalah inti ajaran Islam. Kalimat tauhid juga berarti ‘tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah’ (lâ ma’bûda illa Allâh) dan lebih dalam lagi berarti ‘tidak ada yang kita tuju dalam hidup ini selain Allah’ (lâ maqsûda illa Allâh). Apapun yang kita lakukan tiada lain adalah untuk Allah.

Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk: “Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam (qul inna shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi rabbi al-‘âlamîn) (Q.S Al-An‘am [6]: 162).

Lebih dalam lagi, tauhid juga berarti tidak ada yang sebenarnya ada selain Allah’ (lâ maûjuda illa Allâh). Karena kita pada hakikatnya tidak pernah ada. Allah yang mengadakan dan meniadakan kita. Hanya Allah yang sebenarnya ada, selain Allah itu semuanya di-ada-kan.

Karena itu, jika yang selain Allah itu disebut ‘ada’ maka adanya adalah ‘ada’ yang bersifat metaforis, majazi. Berawal dari tidak ada kemudian ada lalu tidak ada lagi berarti ia diadakan. Yang secara hakiki ada hanyalah Allah, karena Allah ada tanpa diadakan oleh selain-Nya.

Tauhid adalah pegangan hidup kita dan kalimat ‘sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya’ (inna lillâhi wa inna ilaihi râji’ûn) adalah prinsip hidup kita.

Tauhid adalah pedoman hidup kita karena itu tauhid ini harus selalu diperbarui agar keimanan kita tetap utuh sampai ajal menjemput. Agar kita meninggal dalam keadaan beriman dan menghadap Allah dengan iman.

Iman yang kuat tertanam di dalam hati. Tidak akan pernah goyah oleh godaan apa pun dan akan memberi manfaat bagi kita dan orang di sekitar kita. Seperti pohon yang akarnya menancap kuat dalam perut bumi akan senantiasa tegak berdiri meski hujan dan badai datang melanda. Pohon itu tetap kokoh dan membawa kesuburan bagi orang-orang di sekitarnya.

Itulah perumpaan jika kita menanamkan tauhid dan keimanan di dalam hati yang bisa memberi manfaat kepada diri kita dan orang lain. []

 

*Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat Prof. Dr. Yunasril Ali (Guru Besar Tasawuf UIN Jakarta) di Yayasan Paramadina, 04 Desember 2015.

 

Comments

comments