buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Tidak Semua Bid’ah Sesat*

Saat ini banyak dari kalangan umat Islam, bahkan sebagian ulamanya, yang sangat mudah membid’ahkan dan menyesatkan sesama Muslim hanya karena berbeda pandangan. Perilaku ini membuat sesama umat Islam terpecah-belah.

Mereka menganggap apa yang Rasulullah SAW tidak pernah perintahkan secara khusus dan tak pula mencontohkannya secara langsung dianggap sebagai bid’ah yang sesat. Dan sebagai ganjaran bagi pelakunya, ia akan masuk ke dalam neraka.

Kita perlu menengok dan mengkaji kembali akhlak Rasulullah. Khususnya saat menyikapi persoalan yang secara khusus beliau tidak pernah memerintahkan dan tak pula mencontohkannya. Perbuatan seperti itu biasa disebut sebagai bid’ah.

Suatu keharusan bagi kita untuk melihat kembali persoalan ini. Apakah benar segala sesuatu yang tidak ada contoh dan perintahnya dari Rasul jika dilakukan oleh umatnya maka dianggap sebagai bid’ah yang sesat (bid’ah dhalâlah). Apalagi ada hadis yang mengatakan “Setiap bid’ah sesat dan tiap kekesatan tempatnya di neraka”.

Dalam kitab Al-Muwâfaqât Ushûl al-Syarî’ah, Imam Syathibi menjelaskan bahwa bid’ah itu amalan yang secara khusus tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasullah. Tapi, menurutnya, ada bid’ah yang boleh dilakukan bahkan wajib dilaksanakan umat Islam.

Imam Syathibi mencontohkan masalah pembukuan Al-Quran sebagai bid’ah yang wajib dilakukan umat Islam. Hal itu karena pada zaman Rasulullah Al-Quran dalam kondisi aman namun terpisah-pisah. Ada yang ditulis di atas tulang-tulang atau pelepah-pelepah kurma. Al-Quran juga terpelihara dengan baik dalam ingatan dan hafalan para hafiz.

Tapi di kemudian hari banyak para penghafal Al-Quran yang wafat. Ketika perang Yamamah terjadi di Yarmuk, misalnya, 70 penghafal Al-Quran gugur sebagai syuhada.

Makin banyaknya hafiz yang wafat mengkhawatirkan Sahabat. Umar bin Khaththab berinisiatif untuk membukukan Al-Quran. Menurut Umar, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Al-Quran akan hilang bersamaan dengan gugurnya para hafiz di medan perang.

Umar kemudian menyampaikan gagasannya itu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq yang saat itu menjadi khalifah. Awalnya Abu Bakar menolak dengan alasan bahwa pembukuan Al-Quran itu tidak pernah terjadi pada zaman Rasul. Abu Bakar khawatir perbuatan itu termasuk bid’ah sesat dan yang melakukannya akan masuk neraka.

Umar pun tidak menyerah. Ia terus berusaha untuk meyakinkan Abu Bakar dengan mengatakan bahwa perbuatan ini akan membawa maslahat bagi umat Islam.

Singkat cerita, Abu Bakar menerima usulan Umar. Ia kemudian memulai penyusunan ulang Al-Quran yang disesuaikan dengan hafalan para hafiz. Hasilnya, Al-Quran tersusun rapi seperti yang kita saksikan saat ini.

Jadi, Al-Quran adalah hasil dari bid’ahnya Sahabat Umar.

Berdasarkan fakta sejarah ini para ulama, khususnya empat mazhab besar Ahlu Sunnah wal Jamaah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal) membagi bid’ah menjadi dua kategori.

Pertama, amalan yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis atau biasa disebut dengan bid’ah yang baik (hasanah). Kedua, amalan yang bertentangan dengan Al-Quran dan hadis yang disebut dengan bid’ah sesat (sayyiah/dhalâlah).

Berdasarkan penjelasan Imam Syathibi dan imam empat mazhab di atas jelaslah bahwa tidak semua perbuatan yang tidak ada contohnya di zaman Nabi Muhammad bisa dianggap sebagai bid’ah yang sesat.

Contoh lainnya adalah pemberian titik pada huruf-huruf dalam Al-Quran. Pada zaman Rasul, Al-Quran tidak memiliki titik. Sepeninggal Rasul, perkembangan Islam kian pesat. Hal ini membuat sebagian umat Islam di daerah/negara non-Arab kesulitan membaca Al-Quran.

Adalah Imam Abu al-Aswad al-Du’ali, salah seorang murid Ali bin Abu Thalib, yang menciptakan dan mengembangkan ilmu titik. Tujuannya untuk mempermudah umat Islam dalam membaca Al-Quran. Ilmu titik ini baru muncul pada tahun 62 Hijriah. Itu berarti 50 tahun setelah wafatnya Rasulullah.

Ketika Al-Quran sudah memiliki titik, umat Islam masih banyak menemui kesulitan dalam membaca Al-Quran. Maka Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi, murid Imam Sibawaihi, menciptakan ilmu syakal atau harakat.

Penciptaan titik dan syakal itu dilakukan karena adanya kebutuhan dari umat Islam. Ketika itu Islam sudah menyebar ke luar wilayah Arab. Sehingga yang memeluk agama Islam bukan saja orang yang berbahasa Arab dan mereka kesulitan dalam membaca Al-Quran.

Bahkan setelah Al-Quran memiliki titik dan syakal, umat Islam masih kesulitan membaca Al-Quran. Kemudian Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam menciptakan Ilmu Tajwid agar memudahkan umat Islam dalam membaca Al-Quran dan tidak keliru saat membaca panjang-pendek serta pelafalan hurufnya (makhârijul hurûf). Ilmu Tajwid sendiri baru muncul pada tahun 224 H.

Dari segi peribadatan (ubudiyah), Rasulullah pernah mencontohkan sikap yang patut kita teladani saat menyikapi bid’ah. Saat itu seorang sahabat dari kalangan Anshar sering menjadi imam di Masjid Quba. Tiap kali dia menjadi imam, setelah membaca Surah Al-Fatihah ia selalu membaca Surah Al-Ikhlas dan dilanjutkan dengan surah lain.

Keterangan ini bisa kita dapat dalam Fath al-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari dalam bab menggabungkan dua surah dalam satu rakaat (al-jam’u baina surataini fi raka’ah).

Setelah Rasul mengetahui kejadian ini, beliau bersabda: “Sesungguhnya karena kecintaanmu kepada Surah Al-Ikhlas menyebabkan kamu dimasukan ke dalam surga”. Inilah sikap Rasul. Beliau tidak menganggap perbuatan Sahabatnya sebagai kesesatan. Sebaliknya justru beliau memberikan motivasi yang sangat luar biasa.

Ada pula satu peristiwa menarik lain yang terjadi ketika Rasul sedang mengimami salat. Saat i’tidal dan beliau selesai mengucapkan sami’a Allâhu liman hamidah rabbanâ laka al-hamdu, salah seorang sahabat menjawabnya dengan hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîh”.

Setelah selesai salat, Rasul langsung berdiri dan menanyakan siapa yang tadi menyahut dengan kalimat hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîh” padahal beliau tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan demikian.

Tak satu pun mengaku. Rasul mengulangi lagi pertanyaan itu sebanyak tiga kali namun mereka tetap bergeming. Akhirnya Rasul mengatakan bahwa saat kalimat hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîh” dibaca, ada sekitar 50 malaikat yang berebut untuk menyampaikannya kepada Allah. Mendengar perkataan Rasul itu, salah seorang Sahabat langsung mengakuinya.

Inilah sikap Rasul kepada umatnya yang melakukan amalan-amalan baik sekali pun beliau tidak mengajarkan atau mencontohkannya secara langsung. Inilah perilaku yang harus kita teladani.

Sikap ini sangat berbeda dengan yang terjadi saat ini. Banyak dari kalangan umat Islam yang sangat mudah membid’ahkan dan menyesatkan sesama Muslim hanya karena berbeda pandangan.

Bahkan sebagian perilaku ulama pun bertolakbelakang dengan akhlak Rasul yang demikian itu. Karena itu ulama semacam itu tidak patut kita jadikan contoh.

Perilaku yang mudah membid’ahkan dan menyesatkan inilah yang membuat umat Islam terpecah-belah. Marilah kita kembali kepada teladan Rasul untuk menjaga ukhuwwah Islamiyyah dan menghindari konflik internal sesama umat Muslim.[]

*Naskah ini berasal dari Khutbah Jumat Dr. Abdul Ra’uf, 05 Februari 2016, di Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments