buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Tiga Kunci Gapai Bahagia Dunia-Akhirat*

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kamu di mana pun kamu berada, dan ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka perbuatan baik tersebut akan menghapusnya (perbuatan buruk), dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”

Melalui hadis itu Rasulullah memberikan tiga kunci tuntunan hidup dan rumus kehidupan agar kita bisa meraih kebahagiaan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Kunci pertama, menjaga ketakwaan kepada Allah di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun.

Takwa berasal dari kata waqâ-yaqwî-wiqâyatan-wataqwatan. Maknanya menjaga. Menjaga kesadaran atau ingatan akan Allah. Orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa menjaga kesadaran dan ingatannya akan Allah di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Selama 24 jam selalu terhubung dengan Allah. Melibatkan Allah dalam semua aktivitasnya.

Orang yang bertakwa adalah mereka yang menghayati serta punya kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha Hadir (Omnipresence) dan tidak pernah lengah sedikit pun terhadap segala tingkah laku hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman: “Dia (Allah) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah itu Maha Mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hadîd [57]: 4).

Ayat ini menekankan bahwa dengan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadir-an-Nya, Allah akan membimbing orang yang bertakwa ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji.

Dengan melibatkan Allah dalam seluruh aktivitasnya, orang yang bertakwa akan siap menjadi wakil Allah (khalifatullâh) di muka bumi ini untuk melakukan transformasi sosial. Mengubah yang buruk menjadi baik, yang bodoh menjadi pandai, yang lapar menjadi kenyang, yang sakit menjadi sembuh, yang tersesat menjadi terarah, yang teraniaya menjadi merdeka.

Sunan Drajat mengatakan, ”Yang sejatinya takwa adalah memberi makan kepada yang kelaparan (weweh mangan marang wong kang luwe); memberi baju kepada yang telanjang (weweh klambi marang wong kang wudho); memberi payung kepada orang yang kehujanan atau kepanasan (weweh payung marang wong kang kudanan lan kepanasan); memberi tongkat kepada yang buta (weweh teken marang wong kang wutho).”

Dr. Falih bin Muhammad dalam bukunya Wafaqâtu ma’a al-Shâimîn mengatakan ”Bila engkau ingin tahu hakikat orang yang bertakwa, maka dia adalah yang membuktikan ucapannya dengan tindakan. Bila seseorang bertakwa kepada Allah, maka ia akan taat kepada-Nya. Kedua tangannya selalu bergerak dalam kebaikan dan kemuliaan.”

Orang yang bertakwa adalah mereka yang menggunakan semua fasilitas yang Allah berikan dengan cara-cara yang diridhai-Nya. Orang yang bertakwa akan selalu menggunakan apa yang telah Allah titipkan kepadanya untuk melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Orang yang bertakwa adalah mereka yang sudah siap kapan pun untuk bertemu dengan Allah karena dia sudah memiliki bekal yang terbaik. Allah berfirman: ”Berbekallah kalian, maka sesungguhnya bekal terbaik menghadap Allah adalah takwa” (Q.S. Al-Baqarah [2]:197).

Orang yang bertakwa juga adalah mereka yang mulia di hadapan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa” (Q.S. Al-Hujurât [49]:13).

Kunci kedua adalah mengganti perbuatan buruk dengan kebaikan. Walalu manusia telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu bertakwa, boleh jadi karena satu dan lain hal ia bisa melakukan kesalahan. Pepatah Arab mengatakan, “Manusia itu tempat salah dan lupa”.

Rasulullah pun bersabda, “Setiap Bani Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat” (H.R. At-Tirmidzi).

Jadi, rumus kehidupan kedua adalah apabila kita berbuat salah, jangan berkecil hati. Segera bertaubat dan mengganti kesalahan kita dengan perbuatan baik.

Allah berfirman: “Katakanlah, wahai hamba-Ku yang telah melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah berkenan mengampuni semua dosa. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Zumar [39]: 53).

Rasulullah juga menegaskan dalam sabdanya, “Tidaklah seseorang berbuat dosa kemudian dia berwudhu lalu salat dan memohon ampunan kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Di hadis lain Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang berbuat dosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang berbuat dosa di malam hari sampai matahari terbit dari barat (kiamat)” (H.R. Muslim).

Taubat seseorang tidak serta-merta Allah terima. Allah memberi beberapa syarat untuk menerima taubat hamba-Nya. Pertama, penyesalan (al-nadmu). Taubat harus diawali dengan sebuah pengakuan dosa yang telah dilakukannya dan disertai dengan penyesalan. Kedua, janji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan kesalahan yang sama.

Ketiga, menyempurnakan taubat dengan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya, memperbaiki diri dari pribadi yang riya’ menjadi ikhlas, sombong menjadi rendah hati, kikir menjadi dermawan, malas menjadi rajin, koruptif menjadi amanah, aniaya menjadi adil.

Intinya, orang yang taubatnya benar (taubatan nasuha) pasti berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Apabila seseorang sudah bertaubat, maka Allah akan menulisnya sebagai orang yang tidak mempunyai dosa. Kebaikan yang kita lakukan setelah berbuat kesalahan akan menghapus keburukan sebelumnya. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Sesungguhnya kebaikan menghapus keburukan” (Q.S. Hud [11]:114).

Selain Allah menghapuskan dosanya, orang yang bertaubat juga akan diberikan kegembiraan untuk mengganti kesedihannya, juga jalan keluar dari segala masalah, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa banyak beristighfar, maka Allah akan menjadikan baginya dari setiap kesedihannya kegembiraan, dari setiap masalahnya jalan keluar, dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka” (H.R. Abu Dawud).

Kunci ketiga atau terakhir adalah pergauilah manusia dengan akhlak yang baik. Rumus kehidupan untuk menggapai hasanah dunia-akhirat adalah berinteraksi dengan sesama manusia (hablun min al-nas) dengan akhlak yang baik. Bergaul serta berinteraksi sosial dengan sesamanya dengan akhlak yang baik.

Tujuan seluruh ajaran agama Islam hakikatnya adalah membentuk dan membimbing pemeluknya agar memiliki akhlak yang mulia. Bahkan Rasulullah pun diutus hanya untuk memperbaiki akhlak umatnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak” (H.R. Imam Malik).

Dalam firman-Nya Allah menegaskan, “Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (Q.S. Al-Anbiyâ’ [21]: 107). Dan bukankah tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak yang mulia.

Apabila seseorang mengaku bertakwa, beriman, bahkan beribadah, tapi tidak membuahkan akhlak yang baik maka ketakwaan, iman, dan ibadahnya itu tertolak bahkan mendapat kecaman dari Allah. Allah berfirman, “Dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegahmu dari perbuatan keji dan munkar” (Q.S. Al-‘Ankabût [29]:45).

Jadi, siapa yang salatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar itu berarti ibadahnya hanya berupa gerakan olahraga. Ia mengerjakan salat, tapi akhlaknya tidak baik.

Dengan demikian kita bisa memahami kenapa Allah menyatakan celaka bagi orang yang salat tapi lalai (Q.S. Al-Mâ`ûn [107]:4-5). Mereka hanya melakukan salat secara fisik, tapi dimensi ruhaninya tidak ikut salat. Dia juga enggan memberi makan kepada orang miskin.

Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Aku hanya menerima salat dari orang yang dengannya ia tawaduk pada keagungan-Ku, tidak menyakiti makhluk-Ku, berhenti bermaksiat pada-Ku, melewati siangnya dengan zikir pada-Ku, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang di jalan-Ku, para janda, dan orang yang ditimpa musibah” (H.R. al-Zubaidi 3/21).

Demikian juga dengan ibadah zakat. Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan menyucikan mereka” (Al-Taubah [9]:103).

Kewajiban zakat bertujuan untuk menyucikan. Makna menyucikan adalah mendidik dengan akhlak yang baik. Zakat bukan semata-mata berapa persen dari harta yang mesti kita keluarkan. Tapi orang yang mengeluarkan zakat akan belajar mengasihi dan bermurah hati kepada orang lain. Ibadah mengalir menuju akhlak.

Rasulullah pun pernah menyatakan tentang sedekah akhlaki dalam sebuah hadis: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Amar makruf dan nahi munkar yang kau lakukan adalah sedekah. Menunjukkan jalan untuk orang yang tersesat adalah sedekah. Menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah. Menuntun orang buta adalah sedekah. Dan sedekah paling utama adalah sesuap makanan yang kau berikan kepada istrimu” (H.R. Muslim, hadis nomor 2700).

Begitu juga ibadah puasa, Nabi SAW bersabda, “Jika kalian sedang berpuasa, jangan berbuat kotor dan membentak. Jika dimaki atau diajak berkelahi, katakanlah, Aku sedang puasa” (HR Muslim).

Hari di saat kita berpuasa adalah hari akhlak. Di hari itu kita tidak boleh berbuat fasik, mencela, menyakiti, dan seterusnya.

Rasulullah pernah menyuruh seorang majikan perempuan untuk berbuka puasa yang di siang hari karena marah-marah pada pembantunya: “Berbukalah (ifthariy)”. Tidak ada gunanya puasa majikan itu kalau ketika ia berpuasa dia marah-marah. Artinya, puasanya tidak membuahkan akhlak. Yaitu, menahan diri (imsak) untuk tidak marah (baca: sabar).

Beliau juga bersabda, “Berapa banyak dari orang yang berpuasa tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”. Hadis ini menunjukkan pada kita bahwa puasa tak hanya tidak makan dan minum serta melakukan hubungan seksual dari terbit fajar sampai terbenam matahari (yang merupakan dimensi fikih puasa).

Lebih dari itu, puasa adalah menahan semua dimensi lahiriyah maupun batiniyah manusia dari hal yang membatalkan dan merusak ibadah puasa.

Puasa secara syari`at memang sudah sah dengan tidak makan, minum, dan melakukan hubungan seksual. Tapi secara thariqat, puasa juga harus menahan semua panca indera, pikiran, dan hati kita dari sesuatu yang akan merusak ibadah kita itu.

Itulah kenapa Al-Quran menyebutkan bahwa tujuan puasa adalah agar bertakwa (menjaga semua dimensi diri manusia dari hal-hal yang dilarang Allah). Selain itu puasa juga berdimensi sosial (akhlaki), bahwa kita diajarkan Allah untuk menumbuhkan kepedulian sosial dengan merasakan rasa lapar dan dahaga, sebagaimana orang yang tak berpunya sering merasakannya di kehidupan mereka sehari-hari.

Kita telah mengetahui bahwa tujuan shalat adalah akhlak. Begitu pula zakat dan puasa. Apakah kita sekarang lebih yakin bahwa tujuan utama seluruh ibadah adalah perbaikan akhlak? Jika masih ragu, maka ibadah haji akan melenyapkan keraguan kita.

Allah berfirman, “Haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh berbuat kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji” (Q.S. Al-Baqarah [2]:197).

Haji merupakan latihan disiplin akhlak yang cukup berat. Di sana kita harus benar-benar berusaha berakhlak baik. Kita tidak boleh bersuara keras, tidak boleh mencela seseorang, tidak boleh memaki, tidak boleh menganiaya, bahkan kita harus berupaya sekuat-kuat tenaga untuk memperbaiki akhlak. Selama kira-kira sebulan di Baitullah kita belajar disiplin.

Rasulullah pun ketika ditanya sahabat apa itu ciri haji yang mabrur (yang balasannya surga), beliau menjawab, “Memberi makan kepada yang kelaparan dan selalu menyebarkan kedamaian” (H.R. Ahmad).

Demikianlah tiga kunci menggapai hasanah dunia-akhirat. Semoga kita bisa mengamalkan ketiga kunci itu agar bisa mencapai kebahagiaan paripurna.[]

*Naskah ini berasal dari Khutbah Jumat Mukhlisin M.A., 12 Februari 2016, di Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments