buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Lima Langkah Raih Ihsan*

Oleh Prof. Dr. Asep Usman Ismail

(Guru Besar Tasawuf di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta).

Dalam dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril, sebagaimana tertuang dalam sebuah hadis, disebutkan ada tiga pilar agama: al-Îmân, al-Islâm, dan al-Ihsân. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas pilar ketiga: al-ihsân.

Seorang Muslim mesti memiliki dasar iman yang kokoh. Kemudian menjalankan syariat sekurang-kurangnya yang bersifat wajib seperti mendirikan salat dan lainnya. Setelah itu berusaha menjadi pribadi yang memiliki kualitas ihsân.

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW menjelaskan definisi ihsân: “Engkau beribadah kepada Allah seperti kamu melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” (An ta’budallâha kaannaka tarâhu fa in lam takun tarâhu fainnahu yarâka).

Kata an ta’budallâh berarti ketetapan hati kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Kalimat “kaannaka tarâhu” berarti saat beribadah kita melakukannya seakan-akan melihat Allah atau berhadapan dengan-Nya. Atas dasar prinsip tidak ada Tuhan selain Allah, maka tidak ada ibadah kecuali kepada Allah.

Meskipun kita tidak bisa melihat Allah karena keterbatasan mata dan akal kita (fa in lam takun tarâhu), tapi Allah selalu melihat kita (fainnahu yarâka).

Berdasarkan hadits itu, kita bisa meraih ihsân dalam hidup dengan menempuh lima langkah sebagai berikut:

Pertama, menjadi orang yang baik. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, di lingkungan yang mengarahkan kita pada kebusukan moral, etika, dan spiritual, kita harus mampu tetap berdiri pada jalan yang benar. Yaitu, jalan yang Allah ridai. Dan itu bisa kita mulai dari diri sendiri.

Kedua, menjadi orang yang lebih baik. Seorang yang memiliki karakter ihsân, dia tidak sekadar baik dan puas dengan kebaikan itu. Lebih dari itu, ia selalu terdorong untuk terus memperbaiki dirinya.

Banyak orang yang tidak bisa bergeser dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik. Dan bahkan terkadang tidak sedikit orang yang tidak mengetahui mana yang lebih baik untuk dirinya.

Bagi orang yang memiliki karakter ihsân dia mengetahui kondisi yang lebih baik dan ideal baginya. Ia juga mengetahui bagaimana cara melangkah untuk menuju pada keadaan yang lebih baik itu.

Ketiga, tidak merasa cukup dengan menjadi pribadi baik. Ia selalu berusaha untuk terus menjadi lebih baik. Lebih dari itu, dia juga memiliki kesadaran untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya.

Dengan ilmu, pikiran, keterampilan, pengalaman, dan harta yang ia miliki, dia akan berusaha untuk memperbaiki lingkungan di sekitarnya. Dan dia akan memulai dari lingkungan terdekatnya. Yaitu keluarga.

Keempat, menyangkut hubungan vertikal atau relasi manusia dengan Allah (hablun minallâh). Manusia memiliki tiga fasilitas utama yang bisa menghubungkannya dengan Tuhan semesta alam. Yaitu, intelek, emosi, dan spiritual.

Jika bisa memanfaatkan ketiga fasilitas itu dengan baik dan benar, maka kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tapi juga menjadi individu yang peduli kepada sesama. Dengan kepedulian kita terhadap sesama dan memikirkan perbaikan bagi orang lain, maka pada saat yang sama akan berdampak pula pada perasaan dan ruhani kita sehingga menjadi lebih jernih.

Lebih jauh lagi, jika hal ini terus kita pertahankan dan kembangkan, maka itu akan menjadi benteng moral dan etika. Benteng ini akan mampu menghalau terjangan perbuatan busuk dan korup.

Orang-orang yang berbuat buruk dan merugikan orang lain seperti koruptor bukan berarti ia tak cerdas. Dia hanya tidak loyal pada pikirannya. Bukan pula ia tidak peka, tapi dia mengabaikan hati nurani dan akalnya.

Kelima, beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Dengan terus beribadah dan berupaya memperbaiki diri dan orang lain, ditambah lagi dengan memfungsikan tiga potensi yang dimiliki, maka kita akan sampai pada level merasa dekat dengan Allah. Dengan begitu Allah pun akan menganugerahkan ketajaman mata hati dan kepekaan (basyîrah) kepada kita.

Jika yang terakhir ini dinamakan tasawuf, maka tasawufnya bersifat sosial. Karena kita tidak hanya memperbaiki diri sendiri tapi juga orang lain.

Sebagai orang yang sudah beriman dan melaksanakan tugas-tugas wajib lainnya, kita tidak berangkat dari nol untuk menjadi pribadi yang memiliki kualitas ihsân. Yang perlu kita lakukan adalah melaksanakan pesan Allah untuk saling tolong-menolong, bahu-membahu dan berkolaborasi dalam kebaikan dan takwa.

Dengan begitu, kita bisa mencapai visi-misi kita. Yaitu, mencapai al-Haq yang didasari dengan kasih sayang.

Dengan menempuh lima langkah meraih ihsân itu kita bisa optimis bahwa kita mampu melakukan perubahan, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Bahkan lebih jauh lagi kepada negara kita menuju keadaan yang lebih baik.[]

*Naskah ini berasal dari Khutbah Jumat Prof. Dr. Asep Usman Ismail, 19 Februari 2016, di Yayasan Paramadina.

Comments

comments