buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Menjadi Karyawan Allah*

Pada kesempatan ini marilah kita bersama-sama bersimpuh untuk menghadap Allah SWT. Mari kita tengok hati kita lebih dalam. Bertanya kepada diri kita, apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Tujuan kita tidak lain adalah Allah. Sehingga mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, bersedia atau tidak bersedia, kita pasti akan kembali kepada Allah. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali” [Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn] (Q.S. Al-Baqarah [02]:156).

Pernyataan kembali kepada Allah begitu menggetarkan jiwa dan membuat kita terkesiap. Ketika ada sanak saudara yang meninggal dunia baru kita tersadar betapa kehidupan di dunia ini fana. Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Semuanya akan hancur. Orang yang gagah akan ringkih. Yang muda pasti akan tua. Bahkan para raja dan panglima yang hebat-hebat pun pada akhirnya akan menua dan meninggalkan dunia ini.

Namun, ketika semuanya berlangsung dengan baik-baik saja atau wajar-wajar saja seakan-akan kita akan hidup selamanya. Kita menjadi sering berbuat sesuka hati. Mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya bahkan tidak ingat akan datangnya kematian.

Jika benar tujuan hidup kita hanya Allah, dan kita selalu menyatakan “Sesungguhnya ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah”, maka mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, apakah benar hanya Allah tujuan kita? Masihkah banyak tujuan-tujuan lain selain Allah yang masih menjadi bagian dari hidup kita?

Manusia diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sudah sepatutnya kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Karena itu, perbuatan apapun yang kita lakukan, tugas apapun yang kita kerjakan, hendaknya bertujuan sebagai sarana ibadah kepada Allah. Jika kita melakukan segalanya bukan untuk Allah, maka kita telah melakukan sebuah kekeliruan besar dalam hidup.

Pemahaman dalam ajaran Islam seperti ini tentu saja bertolakbelakang dengan pemahaman-pemahaman lain. Misalnya, dalam dunia kerja dan bisnis. Semua yang kita lakukan bertujuan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya untuk memperkaya diri sendiri.

Jika kita menggunakan kacamata Islam, bekerja adalah salah satu sarana ibadah kepada Allah. Sehingga kita bekerja bukan untuk mengejar keuntungan semata. Kita bekerja untuk Allah dan menjadi karyawan Allah.

Adalah sebuah kesombongan jika seseorang bekerja membanting tulang dengan tujuan untuk menghidupi anak-istri. Pada hakikatnya, Allah yang menghidupi anak-istri kita melalui rezeki yang Ia berikan pada kita.

Perjalanan hidup kita kini bisa dikatakan menjauh dari ajaran Islam, kita semakin jauh dari Allah, namun juga mendekat. Kita semakin mendekati kematian. Semakin mendekati Allah.

Kita tidak dapat mengelak dari kenyataan ini. Sekali pun kita merasa orang yang paling hebat untuk bisa melawan kehendak Allah, hal itu sebenarnya bagian dari kekuasaan Allah.

Saat ini kita semakin dimanjakan oleh berbagai macam fasilitas, terutama dari segi teknologi. Media elektronik semakin canggih, tapi kian menjauhkan kita dari kehidupan nyata. Banyak dari kita yang enggan bersosialisi secara nyata dan lebih senang bersosialisasi di dunia maya.

Keadaan saat ini berbeda jauh dengan keadaan dulu sebelum media telekomunikasi tidak secanggih sekarang. Dulu, kita bersosialisasi secara nyata, bertemu, dan bersalaman secara fisik. Tetapi sekarang semuanya berbeda.

Kita terlena dengan semua fasilitas ini. Banyak dari kita yang menggunakan sosial media secara tidak tepat. Media sosial justru lebih banyak digunakan untuk menghujat, memfitnah, bahkan untuk mengeliminir orang atau kelompok lain.

Sebagai umat Muslim seharusnya kita bisa memaksimalkan fungsi media sosial untuk menjalin silaturrahmi dan berbagi ilmu satu sama lain. Bukan malah diperbudak oleh media sosial tersebut.

Kendaraan kini juga semakin canggih. Tapi kita kian enggan untuk mendatangi majlis-majlis taklim. Padahal sebelum ada kendaraan, kita rajin ke masjid dan mushalla untuk mendatangi majlis taklim dengan berjalan kaki.

Berdasarkan fakta-fakta ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata terpenuhinya fasilitas tidak menjamin seseorang untuk mendekati kesadaran kepada Allah dan justru malah menjauhkan kita dari-Nya.

Menjadi sebuah ironi ketika sesorang berjanji untuk menjadi lebih baik dan lebih bertakwa kepada Allah, tapi malah melakukan penentangan terhadap Allah. Yaitu, dengan mentransaksikan kehidupan beragama melalui transaski duniawi.

Dengan demikian, tugas kita saat ini adalah menghilangkan tujuan-tujuan lain, motivasi-motivasi lain selain Allah, agar kita bisa kembali kepada Allah dalam keadaan tenang. Sebagaimana Allah memanggil kita dalam Al-Quran dengan panggilan Wahai jiwa yang tenang”.[]

*Naskah ini diambil dari Khutbah Jumat Abdullah Imam (Wong) di Yayasan Paramadina, 04 Maret 2016.

 

Comments

comments