buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Iman, Fondasi Hidup, Perekat Persaudaraan*

Dalam dialog antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah SAW disebutkan bahwa ada tiga pilar agama (arkânu al-dîn): Iman, Islam, dan Ihsan. Tiga pilar ini kemudian berkembang menjadi akidah, syariah, dan akhlak.

Pada khutbah sebelumnya (baca: Lima Langkah Raih Ihsan), sudah saya menjelaskan tentang ihsan. Kali ini kita akan membahas tentang iman. Jika tiga pilar agama itu kita ibaratkan seperti segitiga sama sisi, maka iman ini berada pada garis A ke B. Sedangkan Islam itu pada garis A ke C dan ihsan mendampinginya dari garis B ke C.

Itu berarti iman adalah penyanggah atau fondasi. Iman memiliki pisisi sebagai fondasi dalam sebuah bangunan atau akar dalam sebuah pohon. Agar iman dapat berperan dengan baik dalam kehidupan, kita perlu ketahui lima fungsi iman.

Pertama, iman berfungsi sebagai pemberi arah kehidupan (tawjuru al-hayât). Sehingga kehidupan ini mengalir secara terarah dan berhenti saat kematian tiba. Arah kehidupan kita akan bermuara kepada Allah. Iman menjadikan hidup kita berorientasi kepada Allah. Menjalani hidup bersama Allah serta mencari keridaan-Nya.

Kedua, iman berfungsi sebagai pencerah hidup (tanwîru al-hayât) sehingga hati, pikiran, dan perbuatan kita tercerahkan dan terkendali.

Ketiga, iman berfungsi sebagai penggerak kehidupan (tahrîku al-hayât). Sehingga kehidupan kita terus bergerak secara dinamis. Jika iman kuat, maka kita akan tetap semangat menjalani hidup dan tidak mudah terkena stres atau depresi.

Keempat, iman berfungsi sebagai sesuatu yang menstabilkan hidup (istiqâmatu al-hayât). Kita memiliki pegangan dan prinsip hidup, yaitu iman. Dengan fungsi iman ini hidup kita menjadi stabil dan konsisten.

Kelima, iman berfungsi sebagai pemberi isyarat kehidupan (isyâratu al-hayât). Saat kita melakukan suatu kesalahan, maka keimanan kita akan memberikan isyarat bahwa apa yang kita lakukan itu tidak benar. Isyarat itu bisa berbentuk kegelisahan atau pun kesadaran.

Selain lima fungsi di atas, iman juga dapat menguatkan rasa solidaritas dan persaudaraan. Persaudaraan itu ada tiga tingkatan: persaudaraan kemanusiaan, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan keimanan.

Dari tiga jenis persaudaraan ini, saya akan menjelaskan persaudaraan karena persamaan keimanan. Satu muslim dengan muslim yang lainnya adalah saudara seiman yang bersifat universal. Tidak terbatas oleh sekat-sekat negara, bangsa, dan alam. Karena persaudaraan ini berlaku sampai alam akhirat.

Kita sesama muslim seharusnya tidak saling menghujat. Sebagaimana ditegaskan Al-Quran bahwa kita harus memperbaiki relasi mukmim dengan mukmin agar kita menjadi umat yang kokoh. Sehingga berdampak pada persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan.

Semoga khutbah yang singkat ini dapat memberikan pencerahan. Menjadi sebuah renungan bagi kita. Sudah saatnya kita menghindari konflik dengan saudara seiman karena itu menyebabkan kondisi semakin tidak kondusif. Agar keharuman Islam bisa tercium bukan hanya oleh umat muslim saja, tetapi juga oleh seluruh umat manusia.[]

*Naskah ini berasal dari Khutbah Jumat Prof. Dr. Asep Usman Ismail, 01 April 2016, di Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments