buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Islam Tak Hanya Milik Umat Nabi Muhammad*

Nabi Muhammad SAW telah berhasil menutup kenabian dengan membawa ide-ide yang sangat visioner. Salah satu ide visioner itu adalah mengenai definisi dan konsepsi Islam.

Sejak pertama kali Nabi SAW menyampaikan ajaran agama yang sekarang kita anut ini, tak ada satu ayat pun dari Al-Quran yang menyebut agama ini sebagai ‘Islam’. Al-Quran selalu menyebutnya dengan agama ‘Iman’.

Nabi SAW dan para pengikutnya disebut sebagai mukmin/mukminun atau orang-orang yang beriman. Sahabat-sahabat beliau disebut mukminun. Istri beliau disebut ibu orang-orang beriman (ummu ‘l-mukminin), bukan ummu ‘l-muslimin. Bahkan para khalifah pun disebut pemimpin orang-orang beriman (amiru ‘l-mukminin), bukan amiru ‘l-muslimin.

Sebagian besar kita mengetahui bahwa agama yang kita anut saat ini bernama ‘Islam.’ Penamaan ini disampaikan oleh para pendahulu dan kita menerimanya secara taken for granted. Padahal Islam yang dibawa oleh Nabi SAW sebenarnya tidak seperti yang kita definisikan sekarang.

Hal ini dibuktikan dengan awal ayat yang menyuruh umat Islam untuk berpuasa: “Wahai orang-orang yang beriman” (ya ayyuha ‘l-ladzina amanu). Dalam ayat lain Al-Quran juga menyebut pengikut Nabi SAW dengan orang-orang yang beriman bahkan ketika disandingkan dengan umat yang lain: umat Yahudi, Nasrani, dan Sabiin.

Al-Quran tidak menyebut umat Nabi SAW dengan sebutan “wahai kaum muslim atau orang-orang yang berislam”. Al-Quran sendiri menyatakan bahwa seluruh agama dari zaman Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad adalah Islam.

Islam yang dimaksud di sini adalah ‘islam’ dengan “i” kecil. Kata ini berarti pasrah, memasrahkan atau menyerahkan diri, tunduk, dan patuh. Al-Quran menerapkan kata ‘islam’ juga kepada Nabi Adam sampai Nabi Isa AS.

Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Maka apakah mereka mencari agama lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah Kami menyerahkan diri. Barangsiapa mencari agama selain Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S. Ali Imran [3]: 83-85).

Berdasarkan ini, Nabi SAW memahami konsep dasar ‘islam’ ini sebagai agama yang mengajarkan kepasrahan total kepada Tuhan yang Maha Esa. Ajaran monoteisme (tauhid) dan syariah dalam Al-Quran juga mengajarkan hal yang sama: kepasrahan.

Itulah alasan kenapa Nabi SAW tidak pernah menyebut agama yang dibawanya sebagai agama Islam sampai beliau meninggal. Nabi SAW dan para sahabat memahami ‘islam’ adalah kata sangat umum yang sudah digunakan untuk seluruh agama.

Seiring dengan berjalannya waktu, tepatnya pada abad ke-18, umat Nabi Muhammad mulai menggunakan kata ‘Islam’ dengan “I” besar. Agama ‘Iman’ berubah menjadi agama ‘Islam’ yang terorganisasi.

Kalau pun ayat Al-Quran yang turun terakhir menyatakan: “…Telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (Q.S. Al-Maidah [5]: 3), tapi mayoritas para mufasir tak memahami ayat itu khusus untuk Nabi SAW. Islam di sini dimaksudkan untuk seluruh agama monoteis yang mengajarkan kepasrahan, bahkan mulai Nabi Adam sampai Nabi SAW.

Bahkan kata ‘islam’ tak hanya diperuntukkan bagi para nabi dan ajarannya saja, tapi juga bagi seluruh makhluk. Seluruh makhluk sudah berislam atau pasrah, baik secara sukarela maupun terpaksa. Makhluk hidup yang menghuni bumi ini adalah mereka yang pertama kali berislam. Manusia adalah makhluk terakhir yang Allah ciptakan. Hal ini terbukti secara saintifik. Allah menciptakan makhluk lain untuk kehidupan manusia. Jika manusia diciptakan lebih dulu, maka belum ada yang mendukung kehidupan manusia.

Inilah yang menjadi landasan keilmuan dari munculnya istilah ‘Islam’ dengan “I” besar dan ‘islam’ dengan “i” kecil dalam dunia akademisi Islam. Islam dengan “i” kecil adalah untuk seluruh agama monotesime sejak Nabi Adam yang mengajarkan kepasrahan. Islam dengan “I” besar adalah Islam yang digunakan khusus untuk para pengikut Nabi SAW. Sebuah perkembangan yang luar biasa dalam dunia Islam.

Terlepas dari perdebatan itu, makna umum kata ‘islam’ adalah berpasrah diri. Sekali pun mengaku umat Islam, namun jika kita tak pernah pasrah dan patuh kepada Allah, maka kita tidak bisa disebut sebagai orang Islam atau Muslim. Muslim adalah orang yang pasrah dan patuh kepada Allah.

Jika kita menerima Islam sebagai agama kita, maka setidaknya ada empat kondisi yang mengharuskan kita untuk pasrah dan patuh kepada Allah. Yaitu, pada saat kita salat, sakit, tidur, buang air.

Dalam Islam, kepasrahan tak hanya terbatas pada empat hal tersebut. Kita wajib selalu bersikap pasrah dan patuh kepada Allah dalam menjalani hidup ini. Karena itu, siapa pun yang tidak pasrah atau memasrahkan kehidupannya kepada Allah yang Maha Esa, maka sebenarnya dia tidak bisa disebut sebagai seorang Muslim.[]

*Naskah ini hasil transkrip Khutbah Jumat Nanang Tahqiq, M.A, 08 April 2016, di Mushalla Raharja Yayasan Paramadina,. Mushalla Rahardja Pondok Indah Plaza I.

Comments

comments