buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Salat Bisa Menjadi Rahmat, jika…*

Beberapa saat lalu kita memperingati Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa ini, Nabi SAW menerima perintah salat fardu lima kali dalam sehari. Nabi SAW menegaskan bahwa salat adalah mikrajnya orang mukmin. Bahkan salat juga disebut sebagai cahaya orang beriman.

Ada satu hal yang sangat mengesankan dalam peristiwa Isra dan Mikraj ini. Sebelum Nabi SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh (Mikraj), beliau menjadi imam salat yang jamaahnya arwah para nabi. Mulai dari Nabi Adam AS sampai Nabi Isa AS.

Saat itu Allah belum menetapkan kewajiban salat bagi umat Nabi Muhammad, tapi beliau sudah menjadi imam bagi para nabi yang sudah melaksanakan salat terlebih dulu. Hal ini lantaran salah satu makna salat adalah rahmat. Salat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (Al-‘Ankabût [29]:45). Nabi Muhammad sendiri adalah pembawa rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin).

Salat setidaknya memiliki empat makna: rahmah, doa, istighfar, dan tasbih. Pertama, salat berarti rahmat. Jika seseorang sudah mampu melakukan salat secara berkesinambungan sehingga ia dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, maka salatnya akan menjadi rahmat.

Perbuatan keji adalah keburukan yang ada dalam hati kita. Jika perbuatan keji berubah menjadi perbuatan nyata, maka itu disebut mungkar. Perilaku  keji merusak diri kita, sementara perbuatan mungkar merusak orang lain.

Jika seseorang sudah mampu melakukan salat dengan benar, maka ia akan mampu menjaga dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Sehingga salatnya akan menjadi rahmat. Tidak hanya bagi dirinya, tapi juga buat orang lain.

Kedua, salat berarti doa. Salat yang kita awali dengan takbiratul ihram, doa iftitah, dan diakhir dengan salam merupakan ritual yang berisi rangkaian doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Salat seseorang menjadi rahmat karena berisi doa-doa bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.

Ketiga, salat berarti memohon ampun (istighfar). Salat berisi doa-doa. Salah satunya adalah doa memohon ampun kepada Allah SWT. Salat adalah salah satu ritual penyucian diri.

Keempat, salat berarti tasbih. Melalui salat, kita mengagungkan Allah. Apalagi salat adalah ritual yang Allah tetapkan secara langsung kepada umat Nabi Muhammad, bukan dari akal pikiran kita.

Berdasarkan keempat makna salat itu, hal pertama yang dapat kita pelajari dari pelaksanaan salat adalah membayar kewajiban terhadap perintah Allah. Salat yang kita lakukan itu baru sebatas untuk membayar kewajiban paling dasar kita kepada Allah.

Pada tingkatan kedua yang lebih tinggi adalah “taqarrub”. Yaitu, mendekatkan diri kepada Allah. Salat yang kita lakukan tidak cukup hanya untuk membayar kewajiban, tapi sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin dekat seseorang dengan Allah, maka ia akan kian disayang Allah.

Saat seseorang sudah sampai pada puncak kedekatannya dengan Allah, maka dia sudah mencapai tingkatan “tahaqquq”. Dia sudah mampu berakhlak sesuai dengan akhlak Allah.

Tapi pada kenyatannya, banyak sekali umat Islam yang rajin salat tapi akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Allah. Hal itu karena salat yang dia lakukan masih sebatas pada salat fisik semata. Untuk itu kita perlu meningkatkan salat kita pada tingkat yang lebih tinggi. Yaitu, salat secara spiritual. Sehingga salat kita bisa membekas pada akhlak kita.

Jika seseorang sudah sampai pada tingkatan yang kedua, yaitu mampu mendekatkan diri kepada-Nya, maka Allah akan memberikan pencerahan pada orang itu. Karena Allah adalah cahaya dari segala cahaya. Cahaya Allah  mampu menembus batin kita.

Dengan begitu orang tersebut memiliki mata batin yang disebut dengan “basyirah”. Mata yang mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata fisik, seperti melihat baik dan buruk. Kemampuan kita dalam melihat dengan mata batin tergantung pada seberapa dekat kita dengan Allah, Sang Sumber Cahaya.

Ketika batin kita tercerahkan, maka ia akan menjadi rahmat karena bisa menerangi orang lain. Cahaya dari Allah yang dipantulkan melalui mata batin kita akan membuat orang di sekitar kita menjadi damai. Dengan alasan itulah maka salat disebut dengan cahayanya orang beriman (ash-shalatu nur al-mukmin).

Jadi, jika kita mendirikan salat dengan penuh penghayatan, maka kita tidak akan melakukan perbuatan keji dan mungkar. Tak hanya itu, kita juga akan menjadi rahmat bagi diri kita dan semesta alam.

Perintah salat pada peristiwa Isra Mikraj akan semakin diasah dan dicerahkan dengan perintah puasa pada bulan Ramadhan. Jika kita sudah bisa melakukan salat dan puasa dengan penuh penghayatan, maka kita termasuk orang-orang yang menang dalam melakukan perjuangan hidup. Hal ini seperti yang dikatakan Nabi SAW: “Orang yang merayakan Idul Fitri adalah mereka yang menang dalam kehidupannya.”[]

______________­­­

* Naskah ini hasil transkrip khutbah Jumat Prof. Dr. Yunasril Ali (Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Jakarta), 13 Mei 2016, di Mushalla Raharja Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments