buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Meraih Kemuliaan Ramadhan*

Begitu agungnya bulan suci ini, maka sejak bulan sebelumnya, pertengahan Sya’ban (nisfu Syaban) kita sudah menyambut Ramadhan (targhibu al-Ramadhan). Targhib al-Ramadhan maknanya menyambut dengan kegembiraan atau kesungguhan hati akan datangnya bulan suci Ramadhan.

Rasulullah SAW pun melakukan targhibu al-Ramadhan. Menjelang bulan suci Ramadhan beliau mengumpulkan para sahabatnya dan bersabda:

Wahai sahabat-sahabatku, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah SWT, dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan-Nya. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Siangnya adalah siang-siang yang paling utama. Tiap waktu di dalamnya adalah waktu yang paling utama.

Rasulullah melanjutkan: Inilah bulan kalian semua diundang menjadi tamu Allah. Tidur kalian pun dianggap dan ditulis Allah sebagai ibadah. Bulan di mana napas-napas kalian dihitung sebagai tasbih di hadapan Allah. Amal-amal kalian akan diterima oleh Allah, dan doa-doa kalian akan diijabah.

Begitu luar biasa dan istimewanya Allah dan Rasul-Nya menempatkan bulan suci Ramadhan. Karena itu selayaknya kita menyambut bulan ini juga dengan persiapan yang istimewa. Tapi seringkali persiapan kita hanya berhenti pada yang bersifat simbolik, fisik, dan seremonial.

Masjid kita perbaiki fisiknya. Mulai dari mengecat ulang, mencuci karpet dan sajadahnya hingga memperbaiki tata suaranya. Begitu banyak acara radio maupun televisi yang memuat tema-tema Ramadhan. Tapi sayangnya yang terjadi kemudian selama bulan suci ini kita sering melakukan hal-hal yang sejatinya bertolakbelakang dengan semangat Ramadhan.

Kita menjalani puasa, tapi di saat yang sama kita masih menggunjing (ghibah), melanggar lalu lintas, menyakiti tetangga, bahkan korupsi pun masih marak terjadi di sekeliling kita. Belum lagi tawuran yang seringkali terjadi sehabis Subuh di bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah saat kita belajar untuk mengendalikan diri (imsak). Mengendalikan apapun yang Allah titipkan kepada kita: lisan, panca indera, pikiran, dan berbagai perbuatan. Jika tak dikendalikan kita bisa dengan mudah melakukan hal-hal yang bukan hanya mengurangi nilai ibadah puasa sehingga hanya lapar dan dahaga yang kita dapat, tapi bahkan juga bisa membatalkan puasa.

Rasulullah sudah mengingatkan kita sejak 15 abad lalu. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda: “Sungguh celaka dan merugi siapa saja yang diberi kesempatan untuk bertemu dan menjalani ibadah Ramadhan, tapi dia tidak keluar dari bulan suci ini dalam keadaan terampuni dosa-dosanya.”

Jadi, kita semestinya tak hanya memeriahkan Ramadhan dengan hanya yang bersifat zahir atau fisik saja. Mari kita bertekad untuk menyambut, memeriahkan, menyemarakkan, dan mengisi Ramadhan dengan yang bersifat batin dan hakiki. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai madrasah ruhaniah kita.

Untuk itu, amal atau persiapan apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengisi Ramadhan sehingga kita bisa mendapatkan kemuliaan sebagaimana Allah janjikan? Setidaknya ada enam amalan untuk kita mengisi Ramadhan.

Pertama, puasa (al-shiyam). Puasa berarti imsak. Menahan dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan yang dapat menghinakan diri kita di hadapan Allah. Puasa tak hanya sekadar tidak makan, minum, dan tak melakukan hubungan seksual dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Sayyid Haidar Amuli menulis buku berjudul Puasa dari Syariat, Tarekat, dan Hakikat. Menurutnya, sebagaimana merujuk pada Surah Maryam ayat 26, puasa tak cukup hanya dengan tidak makan dan minum. Kita juga mesti puasa bicara, puasa melihat, puasa mendengar, puasa berfikir yang negatif, puasa kekerasan, puasa korupsi, puasa dari mengancam pihak lain, dan hal lainnya yang tak Allah harapkan dilakukan oleh orang-orang beriman.

Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh spiritual yang luar biasa, mengatakan: “Inti dari ibadah puasa adalah bagaimana kita mengendalikan diri dari nafsu-nafsu yang selalu mengajak kita untuk jauh dari Allah. Bagaimana kita menghunus pedang pengendalian diri kita untuk berani memotong ajakan-ajakan yang merusak moral dan kemuliaan kita di hadapan Allah SWT.”

Selain sebagai metode untuk pengendalian diri, puasa juga adalah latihan agar kita sadar bahwa Allah selalu mengawasi gerak dan diam kita, baik dalam keramaian maupun sepi kita (muraqabah). Jika seseorang sudah merasa diawasi Allah dalam semua kondisi hidupnya selama 24 jam, maka dia akan selalu menjaga lisan, pikiran, dan perbuatannya untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak Allah SWT ridai.

Puasa adalah latihan agar kita menjaga kehadiran Allah secara vertikal. Ketika secara vertikal kita yakin Allah selalu mengawasi, maka buahnya adalah kesalehan sosial yang horizontal. Kesalehan sosial dan individual harus menjadi buah dari puasa dan ketakwaan kita.

Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran juga mengingatkan kita bahwa puasa juga adalah latihan untuk meneladani sifat Allah. Melalui hadis qudsi, Allah berfirman: “Berakhlaklah sebagaimana akhlak/sifat-sifat Allah.” Dan orang yang bisa kita jadikan rujukan dan telah mengamalkan akhlaknya seperti akhlak Allah adalah Rasullah SAW.

Kedua, menghidupkan qiyamu Ramadhan. Kita bisa memuliakan bulan suci Ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih tiap abis ‘Isya, baik itu dengan delapan atau 20 rakaat, dan berjamaah atau sendiri-sendiri. Momen seperti Tarawih ini hanya ada pada Ramadhan.

Ketiga, biasakan tadarus Al-Quran. Untuk memuliakan Ramadhan, amal yang tak kalah penting adalah tadarus. Tadarus bukan sekadar membaca (tilawah) Al-Quran, tapi juga belajar yang meliputi empat hal: membaca, memahami, merenungkan isinya, dan membumikan Al-Quran. Artinya, mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari.

Keempat, menjemput lailatul qadar. Tak semua orang yang hidup di 10 malam terakhir mendapatkan lailatul qadar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menggunakan kata “jemputlah”. Menjemput bermakna aktif. Yaitu, bagaimana kita mulai dari tanggal satu Ramadhan mempersipkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan lailatul qadar.

Kelima, Ramadhan tak berarti kita berhenti dari kegiatan kita sehari-hari dan hanya beribadah. Allah berfirman: “Apabila kalian telah selesai beribadah maka bertebarlah ke muka bumi kemudian carilah rezeki Allah, tapi dengan melibatkan Allah dalam kehidupan kita, maka kita akan beruntung”.

Terakhir, Ramadhan adalah bulan berbagi. Mari kita biasakan berbagi apa yang kita punya untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Yang punya harta mari berbagai dengan harta. Yang punya ilmu mari berbagi dengan ilmu. Yang punya tenaga mari berbagi tenaga.

Marilah kita raih sebanyak mungkin kemuliaan Ramadhan. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat mengisi Ramadhan dengan kegiatan yang istimewa dan maksimal sehingga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Semoga Allah terus memberikan bimbingan, kekuatan, dan kesiapan batin yang maksimal kepada kita semua. Sehingga kita bisa memuliakan Ramadhan semaksimal mungkin dan mendapatkan Idul Fitri yang betul-betul bening dan suci serta terampuni dosa-dosa kita di hadapan Allah SWT. []

*Naskah ini hasil transkrip dari khutbah Jumat Mukhlisin Aziz, M.A, 27 Mei 2016, di Mushalla Rahardja Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments