buletin jumat 2

[Buletin Jumat] Ramadhan, Bulan Pencerahan*

Rasulullah SAW bersama para Sahabat sangat bergembira saat menyambut kehadiran bulan yang disebut sebagai penghulu dari semua bulan (sayyidu al-syuhur). Bulan Ramadhan memang Allah siapkan untuk memberikan pencerahan batin dan hati kita.

Allah SWT memilih Ramadhan sebagai bulan awal terjadinya pencerahan kepada Rasul. Beliau menerima wahyu pertama berupa ayat-ayat Al-Quran di bulan ini. Al-Quran adalah wahyu yang paling tinggi.

Wahyu berupa ayat-ayat Al-Quran itu berisi ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah. Ilmu adalah cahaya kebenaran. Dengan ilmu kita dapat mengetahui sesuatu. Dengan ilmu pula kegelapan menjadi sirna. Karena itu, Ramadhan juga menjadi bulan pencerahan bagi kaum Muslimin.

Untuk memperingati kehadiran wahyu yang pertama kali turun, Allah menjadikan Ramadhan bulan ibadah. Salah satu cara untuk kita mendapatkan pencerahan adalah dengan ibadah. Karena itu, Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Dalam sebuah hadis, Rasul bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya bulan yang agung dan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu malam. Allah menjadikan puasa pada bulan ini sebagai kewajiban dan menjadikan salat-salat di malam hari sebagai ibadah yang dianjurkan.”

Rasul melanjutkan: “Barangsiapa yang mendekatkan diri dan beribadah kepadaku di bulan ini dengan satu kebajikan yang tidak wajib, maka ibadah itu seperti orang yang menunaikan satu kewajiban di luar bulan Ramadhan. Dan barangsiapa yang menunaikan sebuah kewajiban di bulan Ramadhan, maka ia seperti menunaikan 70 kewajiban di luar bulan Ramadhan.”

Dalam hadis ini Rasulullah juga bersabda: “Ramadhan adalah bulan penuh kesabaran. Balasan bagi kesabaran adalah surga. Ramadhan juga adalah bulan untuk berbagi dan memberi pertolongan kepada sesama. Pada bulan ini rezeki orang-orang beriman ditambah.”

Hadis ini diakhiri dengan: “Barang siapa memberi makan untuk berbuka bagi seseorang yang puasa, maka Allah jadikan perbuatannya itu menjadi ampunan (maghfirah) bagi dosa-dosanya, menjauhkannya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikit pun.”

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, bagaimana jika mereka tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang yang berpuasa? Rasul menjawab, Allah akan tetap memberikan pahala seperti pahala orang yang puasa kepada orang tersebut meski hanya memberikan sebuah kurma, seteguk susu atau air.

Pada 10 hari pertama bulan Ramadhan Allah mencurahkan rahmat-Nya. Dalam 10 hari kedua Allah mencurahkan ampunan-Nya. Dan 10 hari terakhir Allah mencurahkan karunia-Nya dengan membebaskan kita dari api neraka.

Dalam Al-Quran juga dijelaskan, barangsiapa yang memberi minum kepada mereka yang berpuasa, maka Allah akan memberikan minum dari telaga-Nya bagi orang tersebut. Satu kali minum air telaga itu dia tidak akan merasa haus lagi.

Melalui Al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk berpuasa sebagaimana umat-umat terdahulu agar kita mencapai derajat takwa. Takwa berarti jauh dari bahaya. Itulah kenapa orang yang bertakwa adalah orang-orang yang selamat.

Marilah kita berupaya dengan sungguh-sungguh menghiasi bulan ini dengan sebaik-baik amalan dan berusaha untuk mengisinya lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Salah satunya dengan banyak membaca Al-Quran  serta memahami maknanya, dan melengkapinya dengan salat-salat sunah, baik saat siang maupun malam hari. Meski letih ketika mengerjakannya, namun Allah akan membalasnya dengan memberikan pencerahan kepada batin kita.

Jika Rasulullah mendapat pencerahan berupa wahyu, maka kita akan mendapatkan keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran Islam sehingga kita tidak ragu lagi menjalankan perintah Allah meskipun penuh dengan tantangan dan rintangan.[]

*Naskah ini hasil transkrip dari khutbah Jumat Prof. Dr. Aziz Dahlan, 03 Juni 2016, di Mushalla Raharja Yayasan Paramadina.

 

Comments

comments