buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Puasa dan Perkembangan Kepribadian*

Oleh: Prof. Dr. Asep Usman Ismail**

Puasa bisa kita ibaratkan sebagai pendidikan dan pelatihan (diklat). Diklat memiliki dasar dan tujuan. Begitu pun puasa. Setidaknya ada tiga dasar dan satu tujuan puasa. Seluruhnya mengarah pada perkembangan kepribadian.

Dasar puasa yang pertama adalah iman. Setelah beriman kita mempunyai kewajiban untuk berpuasa. Sekiranya kita tidak beriman maka tidak ada kewajiban untuk berpuasa.

Manifestasi iman itu bisa terlihat pada pernyataan lisan. Iman juga berada pada kedalaman rasa dan mengakar di kedalaman jiwa. Jadi, iman bisa kita rumuskan dengan empat hal: kekuatan kata/lisan, kekuatan makna, kekuatan rasa, dan kekuatan jiwa.

Empat kekuatan itu bisa tampil dalam sikap dan perbuatan orang beriman. Jadi, kita memilih berpuasa dengan penuh kesadaran bahwa kita adalah orang beriman.

Dasar puasa yang kedua adalah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Prinsip seorang muslim adalah menyimak dan mematuhi perintah Allah dan rasul-Nya (sami’nâ wa ato’nâ). Itulah ketaatan karena iman. Ketaatan sebagai bentuk keislaman.

Dasar terakhir adalah puasa karena ibadah. Kita menyadari posisi sebagai hamba Allah. Dalam ibadah ada kesadaran tentang kehambaan (‘ubûdiyah). Kita menyadari bahwa kita diciptakan Allah. Masa hidup kita terbatas di dunia. Setelah itu kita berpindah menuju alam Akhirat. Di sana kita mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di dunia.

Adapun tujuan dari diklat puasa ini adalah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah, supaya kita mengembangkan diri setahap demi setahap menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqûn).

Menurut Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), esensi takwa itu ada dua. Yaitu “menjaga” dan “melindungi”.

Takwa dengan makna “menjaga” berarti bahwa kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah. Allah bisa saja berlepas tangan dari hamba-Nya, tapi jangan sampai hubungan kita dengan Allah terputus. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran:

بَرَآءَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّم مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١

“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) (Q.S. Al-Taubah [9]: 1).

Allah dan Rasul-Nya berlepas tangan kepada orang-orang musyrik. Hal itu berarti hubungan antara Allah dan orang-orang musyrik terputus. Sebaliknya, Allah lebih memperhatikan orang yang beriman dan menjaga hubungan dengan-Nya.

Yang dimaksud putus hubungan dengan orang musyrik adalah terputusnya hubungan di Akhirat. Selama di dunia Allah memberikan kesempatan kepada semua manusia untuk tumbuh-kembang, berfikir, dan memilih. Di Akhirat, Allah berlepas tangan dari orang-orang musyrik, kafir dan munafik.

Dia membiarkan mereka mendapatkan murka Allah. Allah telah memberikan kesempatan kepada semua manusia di dunia. Bahkan Allah telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalah-Nya.

Salah satu cara menjaga hubungan dengan Allah adalah dengan berpuasa. Dengan puasa kita akan mendapat rida, ampunan, dan kenikmatan-Nya. Itulah kenapa ketika berpuasa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon rida dan surga-Nya setelah memohon ampun (istighfar) dan mengukuhkan dua kalimah syahadat.

Hal ini menjadi mungkin karena kita dalam kondisi terhubung dengan Allah. Kita dalam kondisi beriman, taat, dan beribadah kepada Allah.

Kita ini bukan orang baik, tapi kita ingin menjadi terus lebih baik. Kita bukan orang suci, tapi kita sedang berusaha untuk meraih kesucian itu. Kita dilarang untuk mengklaim diri kita suci. Dalam Al-Quran Allah berfirman, sebagaimana sering dikutip Cak Nur:

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُم

“… Janganlah kamu menilai dirimu suci” (Al-Najm [53]: 32).

Dengan beriman, taat, dan beribadah bukan berarti kita sudah suci. Biarlah Allah yang menilai kita. Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha untuk bisa mencapainya.

Makna takwa selanjutnya adalah “melindungi”. Kita sendiri dapat melindungi diri kita. Kita bertanggungjawab terhadap diri kita sendiri. Di Akhirat nanti kita akan terputus hubungan dengan orangtua, anak, dan istri kita. Semua relasi ketika di dunia terputus.

Kita menghadap Allah secara personal. Jika kita terus melindungi diri kita dari berbuat salah yang akan merugikan diri sendiri, maka kita punya harapan untuk mendapatkan rida dan ampunan-Nya.

Puasa adalah salah satu cara kita untuk mencapai takwa. Setelah kita bertakwa, ketakwaan kita harus melahirkan amal-amal saleh atau karya yang baik.

Saleh (shalih) memiliki empat makna. Pertama, saleh berarti taat. Kesalehan berdasarkan iman kepada Allah. Ini bersifat vertikal. Kedua, saleh berarti melahirkan perbuatan yang terpuji. Ibadah kita berbanding lurus dengan perilaku. Bukan orang saleh jika ia rajin beribadah tapi perilakunya buruk.

Ketiga, saleh berarti damai. Ketaatan kita beribadah bisa memberikan kedamaian kepada lingkungan sekitar. Ini yang disebut dengan kesalehan sosial.

Keempat, saleh berarti mendatangkan manfaat. Ibadah yang kita lakukan memberikan dampak positif, baik kepada diri kita sendiri maupun orang lain.

Selain untuk mencapai takwa, puasa juga memiliki empat nilai pokok: disiplin, daya tahan, pengendalian diri yang independen, dan cerdas secara emosi.

Kita berpuasa karena kesadaran di dalam diri kita. Kita mampu mengendalikan keinginan diri secara konsisten. Puasa bisa menjadi pendidikan anti-korupsi dengan mengendalikan keinginan diri.

Dengan demikian, evaluasi terhadap puasa sangat dibutuhkan. Jangan sampai kita berpuasa hanya berorientasi fikih, bersifat rutinitas, seremonial, ritual bahkan hanya formalitas saja. Jika puasa kita seperti itu, maka kita takkan mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus.

Akhirnya, kita hanya bisa berdoa. Semoga pendidikan dan pelatihan yang kita peroleh di bulan suci Ramadhan ini berdampak positif terhadap perkembangan kepribadian kita dan mencapai ketakwaan yang esensial.  Sehingga kita bisa mengemban amanah dengan baik, tanpa melakukan penyelewengan.[]

*Naskah ini hasil transkrip khutbah Jumat Prof. Dr. Asep Usman Usmail, 17 Juni 2016, di Mushalla Rahardja Yayasan Paramadina.

**Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Comments

comments