buletin-jumat1

[Buletin Jumat] Tiga Hikmah Puasa dan Rasa Lapar*

Oleh: Dr. Media Zainul Bahri**

Saat sedang melaksanakan ibadah puasa, kita kerap merasakan haus dan lapar. Tidak ada yang sia-sia di mata Allah SWT. Begitu juga ketika dahaga dan lapar saat puasa.

Dalam kitab-kitab hadis cukup banyak disebutkan hikmah dari rasa lapar, terutama untuk kepentingan ibadah. Begitu juga dalam kitab-kitab tasawuf.

Dalam salah satu hadis Nabi SAW, yang berstatus hasan, seperti dikutip dalam kitab Ihya Ulum alDin karya Imam Al-Ghazali, beliau bersabda: “Yang paling utama di antara kalian di sisi Allah adalah mereka yang sering merasakan lapar karena puasa. Dan orang yang paling dibenci Allah pada Hari Kiamat adalah orang yang suka tidur, tukang makan, dan tukang minum.”

Dalam ungkapan lain disebutkan: “Perkara yang paling merusak kehidupan manusia adalah syahwat perut.” Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa “Sedikit makan adalah bagian dari ibadah.”

Al-Ghazali, ulama yang diberi gelar sang hujjat alIslam, menyebutkan dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din bahwa ada 10 hikmah dari perut yang lapar. Di sini akan hanya diringkas menjadi tiga hikmah yang paling besar dari rasa lapar dan perut kosong.

Hikmah pertama adalah bahwa perut yang kosong atau perasaan lapar itu bisa menghancurkan syahwat-syahwat maksiat dan mengontrol nafsu yang jahat.

Makanan adalah sumber kekuatan yang paling besar. Ketika kita dalam kondisi lapar atau perut kosong maka sumber syahwat negatif menjadi berkurang. Karena itu, keinginan terhadap hal-hal negatif juga ikut berkurang. Sebab kondisi fisik yang lemah juga ikut melemahkan kondisi mental dan psikis.

Berdasarkan hal itu, para ahli medis dan psikologi menganjurkan kepada kita untuk berhati-hati ketika berpuasa, baik dalam bekerja, berkendara ataupun aktifitas yang lainnya. Karena kondisi lapar dan haus mengurangi konsentrasi dan kesadaran.

Hikmah kedua adalah munculnya hati yang bersih dan jernih disertai dengan menguatnya karakter-karakter positif. Hal ini disebabkan karena aspek spiritual kita tidak lagi terbebani oleh hal-hal yang bersifat fisik material.

Dalam kondisi seperti itu, maka hubungan batin antara kita dan Allah semakin kuat dan cepat. Itulah sebabnya Nabi Muhammad menjamin berbagai doa orang-orang yang berpuasa akan Allah kabulkan. Bulan Ramadhan adalah kesempatan kita untuk terus mempertajam spiritualitas kita.

Para ulama menegaskan bahwa orang yang sering lapar atau mengosongkan perutnya, maka pikirannya menjadi cerdas dan hatinya tajam. Karena itu, hampir semua umat para nabi selalu Allah berikan syari’at ibadah puasa. Misalnya, Nabi Musa AS Allah perintahkan untuk berpuasa selama 40 hari.

Berpuasa adalah salah satu cara yang paling cepat untuk membersihkan kotoran-kotoran fisik, psikis, dan batin. Dengan berpuasa intensitas makan dan minum menjadi berkurang. Kemudian cahaya spiritualitas menjadi dominan. Pada saat itulah, hajat-hajat kita, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi menjadi cepat dikabulkan Allah SWT.

Hikmah ketiga, mengurangi konsumsi berarti mengurangi pengeluaran sehingga umat Islam bisa menabung. Dengan demikian umat Islam memiliki cukup uang untuk bersedekah kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Tapi sayang pada kenyataannya, di bulan Ramadhan umat Islam malah menjadi konsumtif dan boros. Terlalu banyak menyiapkan makanan dan minuman untuk sahur dan berbuka, bahkan juga saat Lebaran.

Ketiga hikmah yang dipaparkan Al-Ghazali ini menunjukkan bahwa hikmah berpuasa itu tidak hanya bersifat vertikal, tapi juga horizontal atau sosial. Inilah tiga hikmah penting dari berpuasa yang patut kita ketahui sebagai umat yang sedang melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.

Mudah-mudahan khutbah singkat ini membawa hikmah dan renungan bagi kita untuk meningkatkan ibadah puasa secara lebih baik. Semoga ibadah yang kita laksanakan pada bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT.[]

*Naskah ini hasil transkrip khutbah Jumat Dr. Media Zainul Bahri, 10 Juni 2016, di Mushalla Rahardja Yayasan Paramadina.

**Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Comments

comments