Poligami itu Tradisi Jahiliyah

Written by admin. Posted in Artikel

Print This Post

Fenomena poligami di Indonesia kembali marak belakangan ini, terutama lantaran banyak para tokoh panutan, baik di kalangan birokrasi, politisi, seniman, dan bahkan agamawan mempertontonkannya secara vulgar. Yayasan Paramadina, Sabtu (16/12/2006), menggelar diskusi bertajuk Duduk Perkara Poligami di Aula Paramadina Plaza I. Diskusi yang dihadiri oleh 100 orang ini, menghadirkan Prof. Dr. Musdah Mulia dan Prof. Dr. Zainun Kamal.
Menurut Musdah, fenomena poligami sesungguhya merupakan akumulasi dari berbagai faktor, seperti lumpuhnya sistem hukum, masih kentalnya budaya patriarkhi, kuatnya interpretasi agama yang bias gender, dan tidak akomodatifnya para agamawan (ulama) terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Praktik poligami saat ini sudah masuk dalam kategori pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan (crime against humanity), yang motivasinya tidak lebih dari sekadar dorongan syahwat dan hasrat biologis yang tak terkendali,” papar Pengurus Indonesian Conference for Religions and Peace (ICRP) ini.

Karena itu, lanjutnya, dalam Undang-undang Negara Turki dan Tunisia, poligami diharamkan. Sementara di Mesir, Syria, dan Maroko, pemerintahnya secara ketat membatasi poligami sebagai bentuk proteksi negara terhadap warganya. Dalam hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono on the right track, sebab Islam memang agama yang ramah perempuan,” ulasnya.

Selanjutnya, Zainun menguraikan bahwa poligami berkaitan dengan realitas sosial masyarakat Arab Jahiliyah yang memiliki tradisi perbudakan dan poligami yang tak terbatas, bahkan bisa mencapai puluhan.
“Poligami merupakan fenomena yang dominan dalam masyarakat Jahiliyah. Tidak hanya laki-laki, seorang perempuan bangsawan dulu bisa memiliki suami empat sampai lima orang (poliandri). Dan poligami dengan batasan minimal empat orang, seperti tertulis dalam Al-Quran, mengandung semangat Islam dalam upaya membatasi tradisi poligami dan semangat pembebasan budak,” tandasnya.

Menguatkan pandangannya, Zainun menganjurkan umat Islam yang pro-poligami untuk membaca kembali Surah Al-Nisa (Q.S. [4]: 1-4) secara benar. Baginya, ayat yang sering dijadikan teks suci pensyariatan poligami itu sesungguhnya mengandung empat hal, yaitu seruan bahwa Islam agama universal (ayat pertama); partikularitas ketentuan ayat (kedua); tujuan dan maksud syariat (ketiga); dan latar belakang pensyariatan (ayat keempat).
“Lebih penting lagi adalah kita harus membaca surah Al-Nisa secara lengkap sebagai suatu kesatuan, dan tidak memotong-motongnya sepenggal-sepenggal,” tuturnya.

Musdah dan Zainun sepakat bahwa teks Al-Quran tentang poligami bersifat partikular, hanya membicarakan tradisi poligami masyarakat Arab Jahiliyah. Keduanya menolak praktik poligami yang dilakusan Rasulullah sebagai sunah yang universal. Sebab bagi keduanya, Islam justru hadir dalam masyarakat yang memiliki tradisi poligami, mabuk-mabukan, perbudakan, dan tradisi-tradisi Jahiliyah lainnya. Karenanya, poligami mesti dibaca seperti halnya kasus khamr dan perbudakan, yaitu proses pengharaman secara bertahap (gradual) hingga secara mental dan sosial masyarakat Arab siap menerima konsep monogami. *** (MM)
[rps]

 

Related Posts

Tags: ,

admin

This information box about the author only appears if the author has biographical information. Otherwise there is not author box shown. Follow YOOtheme on Twitter or read the blog.

Leave a comment