Kajian Keislaman


Tentang Kajian Keislaman

Kursus tasawuf merupakan paket kajian paling populer pada tahun 2000 di samping paket kajian keislaman lainnya, dan terus diperluas hingga kini.

Kursus ini dimulai dari paket kajian Nurholish bertajuk “Perjalanan Menuju Keabadian” yang disajikan secara populer. Peserta rata-rata 60 orang. Di samping mengutip Al-Quran dan hadis sebagai rujukan utama, Nurcholish juga sering mengutip dari sumber yang beragam: filosof non-Muslim seperti Martin Heidegger dan membuat rujukan dari tokoh terkenal dalam sejarah non-Muslim, seperti Robin Hood.

Ceramah yang ringan disampaikan menggunakan contoh dari hidup sehari-hari, misalnya, menyamakan pertentangan kepada Tuhan sama seperti mengemudi melanggar lampu merah. Dia bicara tentang berbagai cinta dari erotis hingga cinta kepada Tuhan.

Dia biasanya akan menyelesaikan kuliah dengan mengatakan: “Menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengambil tanggungjawab pribadi yang sangat besar.”

Sejak 1970-an memang ada minat besar terhadap sufisme di kalangan menengah dan atas Muslim di kota-kota besar. Salah satu faktor adalah pengaruh almarhum Hamka, yang terkenal dengan bukunya, “Tasawuf Modern”. Hamka mengatakan bahwa banyak Muslim sangat ingin “menyucikan” keyakinan. Tapi, dengan melakukan itu, mereka tersesat kehilangan makna spiritiual. Lebih dari itu mereka sering menemukan diri mereka terjebak formalisme yang kering dan kosong. Hamka menekankan pentingnya menanam keidupan spiritual batin, melalui introspeksi, dipandu oleh bentuk konvensional keagamaan Islam.

Pada 1968, dalam sebuah tulisan, Nurcholish sendiri menekankan pentingnya pengalaman mistik dalam artikel berjudul “Modernisasi ialah Rasionalisasi bukan Westernisasi”. Bagi Nurcholish, modernitas tak perlu ditakuti sepanjang kita memandang penting nilai-nilai tradisional keislaman serta kontribusinya kepada demokrasi dan semangat keragaman.

Kursus-kursus sufisme Paramadina diteruskan hingga kini, juga paket kajian lainnya, dengan pembicara beragam. Di antaranya yang populer adalah Jalaluddin Rakhmat, penulis buku “Dakwah Sufistik Kang Jalal”, Nasaruddin Umar, Muhammad Baqir, dan Achmad Chojim. (*)