Biografi Ringkas Nurcholish Madjid

Dari Gontor lewat Chicago

29 Agustus 2005. Inilah hari kehilangan besar tak hanya bagi Paramadina, tapi juga bagi Indonesia. Nurcholish Madjid meninggal dunia.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid menyebut Nurcholish sebagai “Salah satu putra terbaik bangsa dan intelektual Muslim terbesar. Dia negarawan besar yang tidak pernah berpikir memperkaya diri dan keluarga. Yang mendidik negeri dengan intelektualitasnya dan kejujurannya.”

Dalam obituarinya, Harian Kompas menyebut Nurcholish sebagai “guru bangsa” yang mengilhami seluruh negeri dengan gagasan moderat, plural, toleran, dan demokratis serta cara berpikir inklusif dan dinamik.

Hidup Nurcholish mencerminkan sejarah panjang pergulatan pemikiran umat Islam Indonesia dari seorang santri Pondok Gontor menjadi tokoh nasional yang membawa citra Islam yang modern dan terbuka.

Nurcholish lahir pada 17 Maret 1939, di tengah gejolak perjuangan politik menuju kemerdekaan Indonesia, di Desa Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur. Desa ini memiliki dinamika keagamaan yang istimewa tempat penghuninya meletakkan pendidikan pada posisi yang utama. Mayoritas penduduk Jombang adalah santri Muslim, dengan tradisi tarekat (sufisme) yang kuat dan secara otomatis menjadi bagian alami dari diri Nurcholish.

Orangtua Nurcholish datang dari lingkungan Nahdlatul Ulama dan Masyumi. Ibunda Nurcholish, Fathonah, dipilih menjadi istri ayahnya, Abdul Madjid, atas perintah Kiai Asy’ari, pendiri NU. Fathonah putri keluarga pengusaha yang taat beragama. Abdul Madjid adalah petani dan guru, yang bersama istrinya kemudian mendirikan Madrasah Al Wathaniah, di Mojoanyar. Sang ayah politisi Masyumi, yang jarang di daerah itu, meski tetap memegang tradisi NU secara kuat.

Tradisi yang kosmopolit dan menghargai keragaman seperti itulah yang kelak akan mewarnai Paramadina, organisasi yang didirikannya.

Hidup, pribadi, dan pikiran Nurcholish terbentuk pada masa remaja ketika dia sekolah di Pondok Modern Gontor. Pesantren ini sangat progresif dan modern, baik dalam metode pengajaran maupun gaya hidup para santrinya. Santri diperbolehkan main musik dan mengenakan celana, bukannya sarung. Kurikulum di Gontor mengkombinasikan kajian Islam dan sekular dengan metode pengajaran modern: pengantar bahasa Arab dan Inggris.

Selepas Gontor, Nurcholish pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pelajaran di Institut Agama Isam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dia memilih Fakultas Adab (sastra dan peradaban) tempat dia memperoleh gelar sarjana pada 1968. Nurcholish menulis skripsi berjudul: “Al Quran: Arab dalam Kata, Universal dalam Makna”.

Selama menjadi mahasiswa di IAIN dan sampai beberapa tahun kemudian, Nurcholish sering mendengar khutbah Jumat di Masjid Al Azhar, Jakarta. Khatib favoritnya adalah Buya Hamka, ulama sufi modern Indonesia, memenuhi kerinduannya akan tradisi tarekat di kampungnya. Melalui Hamka dia diperkenalkan pada gagasan Ibn Taimiyah, yang kelak akan menjadi subjek disertasi doktornya di Universitas Chacago, Amerika Serikat: “Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafa: A Problem of Reason and Revelation in Islam”.

Pada 1963, Nurcholish mulai terlibat dalam kegiatan mahasiswa dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan empat tahun kemudian dia terpilih menjadi Ketua Umum untuk masa jabatan dua tahun. Dia menjadi ketua pertama yang memiliki latarbelakang pendidikan Islam dan terpilih kembali untuk masa jabatan berikutnya pada 1969.

Nurcholish juga menjadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Asia Tenggara 1967-1969, dan dengan itu dia mengenal pemimpin muda Islam Malaysia, Anwar Ibrahim, yang kemudian menjadi teman bertukar gagasan. Nurcholish juga Asisten Sekjen dan pendiri International Islamic Federation of Students Organizations 1968-1971 yang memberinya kesempatan bepergian ke luar negeri: ke Amerika Serikat, Mesir, Saudi Arabia, dan Suriah.

Menurut Nurcholish, perjalanan ke Timur Tengah itu membuat dia yakin bahwa pembaruan drastis dalam pemikiran Islam sangat dibutuhkan, dan dia menyisihkan waktu untuk menulis ideologi Islam versinya sendiri.

Pada 1969, dia menelurkan booklet berjudul Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), yang dikenal pula sebagai panduan orientasi ideologis anggota HMI dan juga diterima di kalangan intelektual muda Islam bukan-HMI.

Pada 1965, terjadi perubahan besar dalam politik Indonesia, Soekarno jatuh dan digantikan Soeharto. Orde Baru membawa perbaikan ekonomi Indonesia. Namun, pada masa ini pula meningkat represi terhadap ekspresi politik, khususnya yang berbasis pada Islam.

Di tengah situasi seperti itulah, pada Januari 1970, Nurcholish meluncurkan makalah dengan judul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” yang memicu perdebatan riuh di kalangan umat Islam.

Kontroversi itu telah melejitkan Nurcholish menjadi tokoh publik. Namun, Nurcholish tetap menjaga diri dan menyisakan waktunya untuk kegiatan lain untuk menyebarkan gagasannya.

Pada awal 1970-an Nurcholish juga menerbitkan artikel di beberapa harian Jakarta. Artikel-artikel itu banyak membahas soal strategi pembangunan ekonomi di bawah Orde Baru dan menunjukkan empati sosialnya yang besar kepada mereka yang miskin dan rentan. Artikel-artikel itu dibukukan 1993 di bawah judul “Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan”.

Setelah mendapat gelar doktor dan kembali ke Indonesia pada 1985, banyak teman mendorongnya menyebarkan gagasan ke masyarakat Indonesia lebih luas. Dari sinilah kemudian Paramadina didirikan.

Demokratisasi merupakan tema penting dalam debat nasional sepanjang 1990-an. Pada era ini Nurcholish menjadi kontributor tetap di berbagai harian dan majalah, mendiskusikan berbagai tema dari iman, budaya hingga moral dalam politik Muslim kontemporer. Artikel pendek dan mudah dicerna ini, yang dibukukan dengan judul “Pintu-Pintu Menuju Tuhan” (1994) seperti ingin menjawab kritik bahwa tulisan Nurcholish terlalu akademis dan sulit bagi publik awam untuk memahaminya.

Pada waktu yang bersamaan Paramadina menerbitkan buku lain Nurcholish, “Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah”. Buku ini berisi makalah Klub Kajian Agama (KAA) Paramadina sejak awal 1990-an, mendiskusikan berbagai subjek, termasuk neo-sufisme. Buku dengan judul hampir sama, “Islam Doktrin dan Peradaban” (1992) menjadi bukunya yang paling diminati.

Merenungkan peradaban Islam kian mendalam memandu Nurcholish mencari landasan kerjasama antar-agama. Pada akhir 1992 dia kembali membuat pidato yang isinya diperdebatkan secara luas: “Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang”. Nurcholish berbicara tentang agama secara umum, tidak hanya Islam. Dia juga bicara soal agama yang inklusif dan universal, serta menekankan pencarian kesamaan platform antar-agama.

Melawan diam-diam batas keterbukaan politik Soeharto, Nurcholish juga terus terlibat dalam debat publik pada 1990-an, mendorong keterbukaan, dan kemungkinan kritik publik dalam pembetukan masyarakat demokratis. Pada masa ini Nurcholish menulis sebuah artikel penting berjudul “Islamic Roots of Modern Pluralism, Indonesian Experience”.

Kumpulan tulisan Nurcholish yang berisi tanggapan terhadap meningkatnya polarisasi agama dalam politik Indonesia, juga tentang humanisme, keadilan dan hak asasi manusia terbit pada 1995 di bawah judul “Islam Agama Kemanusiaan”.

Tak heran ketika badai demonstrasi mahasiswa melanda Indonesia pada 1997, menuntut mundurnya Soeharto, Nurcholish menjadi tempat orang untuk mencari panduan.

Setelah Soeharto jatuh, Nurcholish ikut terlibat mendorong demokratisasi dengan antara lain menjadi Ketua Komite Pemberdayaan Pemilih (KPP) untuk pemilihan umum 1999. Sebuah era baru demokratisasi di Indonesia, salah satu buah perjuangan Nurcholish Madjid. (*)